Kalsel Punya 2.353 Anak Berkebutuhan Khusus

SOSIALISASI ABK – Salah satu nara sumber saat tampil dan mendorong peningkatan pengetahuan dalam menangani pendidikan terutama guru dan pengawas sekolah Anak berkebutuhan khusus  (ABK). (KP/Narti)

Banjarmasin, KP – Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin berupaya dan memberikan pembekalan dan mengembangkan para pengajar terutama guru dan pengawas sekolah Anak berkebutuhan khusus (ABK).

“Sehubungan di Kalsel jumlah anak berkebutuhan khusus mencapai 2.353 anak sehingga kini Disdik terus memprogramkan dan memberikan peningkatan wawasan dalam menangani anak berkebutuhan khusus agar anak bangsa ini mendapatkan pendidikan sesuai dengan kebutuhannya,’’ ungkap Perwakilan Disdik Kalsel yang membidangi Pembinaan Pendidikan Khusus Disdik Prov Kalsel, Dra Hj Nurhuda Yetti, disela-sela Sosialisasi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), di Banjarmasin, Rabu (15/11).

Kegiatan yang dibuka Kasi Kurikulum Disdik Kota Banjarmasin, M Yusri Z, menghadirikan nara sumber masing-masing mantan pengawas Sekolah ABK Supriano MMPd, Sri Rayahu dari SLB Sungai Paring Martapura, dan Suwaldi SPI dari Pengawas Sekolah Luar Biasa.

Menurut ibu berparas cantik ini, kegiatan Sosialisasi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) ini memang sudah dilakukan di 10 daerah dan tinggal di Batola, Tanah Bumbu dan Kotabaru. Hal ini penting, karena jumlah anak berkebutuhan khusus ini memang trennya memang ada peningkatan tetapi jumlahnya tak banyak.

Bahkan, ujarnya, sekarang layanan pendidikan yang menyertakan semua anak, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus (ABK), dalam proses pembelajaran setiap tahun harus disesuaikan jangan sampai monoton. “Di Banjarmasin memang sekolah anak berkebutuhan khusus 9 sekolah swasta dan hanya satu sekolah milik Dharma Wanita yang negeri,’’ katanya.

Sedangkan naras sumber, Suwaldi SPI dari Pengawas Sekolah Luar Biasa mengatakan, lewat program ini, ABK bisa belajar di sekolah reguler sebagaimana pelajar yang lain.

“Peningkatan jumlah partisipasi anak tersebut karena lokasi belajar mereka terjangkau. Dulu pilihannnya hanya SLB, jadi sering terkendala jarak untuk bersekolah. Kini, beda, karena sekolah yang dekat dengan rumahnya telah menyelenggarakan pendidikan inklusif,’’ jelasnya.

Karena itulah, ujar mantan Pengawas Sekolah Berkebutuhan Khusus Supriano, GPK yang mendampingi ABK selama proses pembelajaran.

Mereka adalah guru sekolah yang telah mendapat pembekalan khusus sebagai pendamping ABK.

“Rata-rata satu guru mendamping satu ABK. Mereka telah mendapatkan pelatihan sebagai guru pendamping ABK,’’ katanya.(vin/K-5)

Loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

loading...