Beban Ganda Ibu Pemulung, Antara Stigma Dan Pejuang Keluarga

Oleh : Habibah Auni
Mahasiswa Universitas Gajah Mada

Memulung bukanlah pekerjaan yang mudah,jangan kau anggap remeh profesi ini. Apalagi jika mengingat perjuangan bapak ibu kita yang banting tulang untuk mencari nafkah. Lantas bagaimana dengan mereka yang memulung? Yang bahkan membutuhkan usaha lebih untuk membiayai kehidupannya?


Bekerja sebagai pemulung butuhlahkeberanian tinggi. Mereka yang memulung harus siap menghadapi pandangan masyarakat yang ‘miring’tentang pekerjaan mereka. Hei, plakat-plakat sepanjang jalan saja ada yang bertuliskan Pemulung Dilarang Masuk’’. Sudah jelas sekali terlihat terdapat stigma pemulung yang cukup merendahkan mereka. Namun bagi pemulung kerja adalah kerja. Apalagi ibu pemulung, rela mengurangi waktu tidurnya. Sebagai pejuang fajar, mereka ikhlas bangun bangun jam 4.00 pagi untuk berkemas menuju Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Hingga jam 17.00, ibu pemulung mengambil dan mengumpulkan barang-barang bekas seperti plastik, botol-botol, atau barang-barang lainnya yang setidaknya bisa mereka jual(Pangaribuan, 2017). Jika diantara kalian dengan mantapnya turun ke jalan lalu berteriak,selamatkan bumi kita! Selamatkan lingkungan kita!’’, maka perhatikanlah ibu pemulung yang ada di sepanjang jalan yang kita susuri. Meski dirinya dipanggang terik matahari, hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun. Ibu pemulung tetap dengan tegarnya menunjukkan aksi nyatanya menyelamatkan lingkungan. Semua ia lakukan untuk memenuhi perut sanak keluarganya.
Upah yang diterima ibu pemulung rata-rata Rp10.000 per hari. Jumlah ini setara dengan Rp300.000 tiap bulan. Bahkan gaji ibu pemulung yang paling pol Rp1.600.000 tiap bulan.


Walau demikian, dengan tangguhnya ibu pemulung bisa membuktikan bahwa dirinya bisa survive di tengah kondisinya yang serba kekurangan. Porsi makan dirinya dan keluarganya pun hanyadicukupkan 1-2x sehari saja.

Berita Lainnya
1 dari 1.801
Loading...


Akan tetapi, lihatlah ibu pemulung beserta keluarganya. Mereka tidak memberontak. Mereka tidak mencuri. Mereka tetap bekerja keras, walau banyakpersepsi negatif yang menyerang ibu pemulung.


Sepulangnya ibu pemulung ke rumah, mereka gunakan waktunya sebagai istri bagi suaminya dan ibu bagi anaknya. Mereka gunakan waktu mereka untuk memasak, mencuci, berbelanja, mendidik anak, dan melayani suami laiknya ibu pada umumnya. Sembilan jam tiap minggunya, ibu pemulung manfaatkan untuk mengurusi rumah tangga(Hidayat, 2006).


Maka dapat kita katakan ibu pemulung berhasil melawan nilai tradisional yang tertanam di masyarakat sejak liang lahat(Darni, 2018). Nilai-nilai yang menyatakan hanya suami yang boleh bertugas mencari nafkah dan istri hanya bertugas mengurusi rumah tangga.


Belum lagi perbedaan biologis yang dipunyai perempuan dan laki-laki, membuat perempuan hanya dianggapsebagai makhluk yang memiliki fisik lemah. Perempuan, sadarlah kodratmu!Kamu tugasnya hanya mengandung, melahirkan dan membesarkan bayi. Peranmu hanyalah sebatas ibu rumah- tangga yang bekerja di dalam rumah,’’ begitulah asumsi tentang perempuan yang tertanam di kepala masyarakat. Sedangkan laki-laki yag memiliki fisik lebih kuat, ditempatkan sebagai kepala keluarga yang berperan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Disinilah kemudian ibu pemulung hadir sebagai mothervocal yang berhasil mematahkan arus patriarki yang kerap sekali melemahkan posisi perempuan (Brothers, 2011). Selain itu,ibu pemulung yang mendapatkan penghasilan dari mengumpulkan barang bekas, sukses membuktikan kiprahnya di lapangan kerja sektor informal. Apalagi perjuangan hidup ibu pemulung, ia lakukandi tengah-tengah banyaknya pengangguran dan kurangnya ketrampilan yang semakin nyata dirasakan. Menurut Ilia (2013), jumlah pemulung yang tergabung dalam ikatan pemulung Indonesia (IPI) pada tahun 2009 sudah mencapai anggota kurang lebih 500.000 orang, jumlah ini meningkat sebanyak 100.000 orang bila dibandingkan dengan total pemulung pada tahun 2004 (Ilia, 2013). Maka tingginya angka pemulung ini jangan kau pandang sinis. Justru ibu pemulung sebagai pekerja di sektor informal, malahan menjadi bagian dari sistem ekonomi yang tumbuh untuk menciptakan kerja dan bergerak di bidang produksi serta barang dan jasa dan dalam usahanya menghadapi keterbatasan modal, keterampilan, serta pengetahuan. Pantaslah jika tahtalaskar mandiri’’ dinobatkan kepada ibupemulung.


Sejatinya sebagai warga Indonesia yang menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan beradab, hendaklah kita membuka mata lebar-lebar sambil memahami realita yang dialami oleh ibu pemulung. Harapannya, kita bisa mengulurkan tangan kita ke mereka, bukan semakin enggan, apalagi acuh tak acuh memandang ibu pemulung.


Bukalah obrolan dengan mereka. Dengarkan keluh kesah ibu pemulung. Tunjukkan kepedulian kita. Tumbuhkan kepekaan kita kepada perkara sosial yang sebenarnya sudah menggerogoti teman kita yang tengah berjuang. Karena tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya