Carut Marut Solusi Tuntas Palestina

Oleh : Gumaisha Syaukia Azzalfa

Koalisi Indonesia Bela Baitul Maqdis (KIBBM) bersama 20 organisasi yang fokus terhadap Palestina melakukan Aksi Bela Al-Quds di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta, Jum’at (14/2). Aksi tersebut digelar untuk menyuarakan penolakan terhadap usulan perdamaian Trump dinamakan ‘Kesepakatan Abad Ini’ yang diumumkan Presiden Amerika Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 28 Januari lalu. (MINA, Jakarta)

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobieva menuturkan, pihaknya menilai proses perdamaian Israel dan Palestina berada di tangan masyarakat kedua negara. Ini adalah respons lanjut atas rencana perdamaian Timur Tengah Amerika Serikat (AS) atau yang juga disebut dengan kesepakatan abad ini. Berbicara saat melakukan jumpa wartawan di kediamanaya di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, Vorobieva mengatakan, Rusia masih memeriksa proposal AS tersebut dengan sangat hati-hati. Di mana, proposal ini mengusulkan pertukaran teritorial yang akan memberi Israel kendali atas bagian Tepi Barat. (WE Online, Jakarta)

Sudah selama 72 tahun konflik Israel-Palestina terjadi. Kecaman demi kecaman datang dari dunia internasional, berbagai aksi solidaritas muslim sudah sering dilakukan bahkan sampai memboikot produknya.

Tetapi mengapa semua itu seakan tidak ada pengaruhnya terhadap Israel? Mengapa Israel terus saja memborbardir jalur Gaza?apa sebenarnya pangkal persoalan Palestina? Kemerdekaan Palestinakah, yang belum terwujud? Yerussalem, yang diklaim oleh Trump sebagai ibukota Israel? Atau al- Quds yang saat ini dalam cengkeraman Yahudi? Atau apa?

Disinilah kita harus memahami persoalan utama atau akar masalahnya karena ia akan menentukan penyelesaian seperti apa yang harus diusahakan. Ibarat penyakit, diagnosis yang benarlah yang akan menentukan obat apa yang harus diberikan dan tindakan medis yang harus dilakukan. Jika salah diagnosis, akan salah pula tindakan medisnya. Alih-alih menyembuhkan, justru makin memperparah penyakit.

Klaim Trump bahwa Yerussalem ibukota Israel jelas sebuah persoalan karena ibukota Israel adalah Tel Aviv. Klaim itu akan menguatkan cengkeraman zionis Israel, juga membuka jalan untuk menghancurkan al- Aqsa.

Namun, mengakui Tel Aviv sebagai ibukota Israel dan Israel sebagai sebuah negara adalah juga persoalan. Itu berarti mengakui eksistensi sebuah negara yang dibangun diatas tanah rampasan Palestina. Ini sama halnya mengakui perampok yang berdiri diatas lahan rampokannya.

Para penguasa negeri muslim, mengangkat isu bahwa persoalan Palestina adalah persoalan kemanusiaan. Maka, mereka mengatakan telah mengirim bantuan pangan, obat-obatan, dana untuk membangun rumah sakit dan sekolah-sekolah yang dihancurkan Yahudi.

Bantuan kemanusiaan berupa pangan, obat-obatan juga dana tentu membantu meringankan penderitaan. Namun, hal itu tidak menyelesaikan persoalan menyeluruh selama kejahatan pelaku utamanya- penjajah Yahudi tidak dihentikan. Kejahatan yang mereka lakukan akan terus berulang bahkan mungkin lebih sadis lagi.

Disinilah letak persoalan Palestina, yakni tentang eksistensi Israel, bukan sekadar persoalan tapal batas antara Israel dan negara-negara tetangga seperti Suriah, Libanon maupun Yordania. Bukan pula karena konflik Fatah dan Hamas.

Seperti yang ditulis oleh Roger Geraudy dalam buku tentang Zionisme, pada tahun 30-an orang-orang Yahudi dari berbagai negara, utamanya di wilayah Eropa, berbondong-bondong bermigrasi ke wilayah Palestina. Mereka datang tanpa membawa apa-apa. Lalu dengan berbagai cara mereka mulai menguasai Tanah Palestina jengkal demi jengkal. Ada yang dengan cara halus seperti membeli atau menyewa.

Ada juga dengan cara kasar seperti mengusir paksa penduduk asli dengan berbagai alasan, diantaranya alasan penggalian arkeologis.

Kemudian, pada tahun 35-an para ulama yang menyadari ancaman Yahudi bagi masa depan Palestina berkumpul di al-Quds. Mereka mengeluarkan fatwa yang intinya haram menjual Tanah Palestina kepada Yahudi, termasuk tidak boleh menjadi perantara jual beli itu. Namun demikian, orang-orang Yahudi terus saja merangsek.

Konflik dengan warga Palestina pun tak terhindarkan. Puncaknya, dengan dukungan Inggris, akhirnya ditahun 1948 Israel berdiri.

Inilah mimpi panjang orang-orang Yahudi tentang tanah yang dijanjikan Tuhan (the Promised Land) yang membentang dari Sungai Euphrat hingga Sungai Tigris. Inilah mitos yang terlanjur telah dipercaya begitu saja oleh mereka, seolah Tuhan telah mencoret-coret batas wilayah itu dalam peta dunia untuk mereka.

Itulah sejarah. Maka, siapapun yang memahami inti masalah Palestina tidak akan pernah rela melihat keberadaan Israel. Hal itu pula yang mendorong para ulama Timur Tengah untuk menolak Perjanjian Camp David yang ditandatangani oleh Presiden AS Jimmy Carter, PM Israel Menachem Begin, Pimpinan PLO Yasser Arafat dan Presiden Mesir Anwar Sadat.

Mereka mendamaikan antara Palestina dan Israel dengan skema two states solution. Mengapa? Pertama: Wilayah Palestina adalah tanah kharajiyah, yakni tanah yang dikuasai kaum muslim melalui proses penaklukan. Maka, mereka tidak bisa mewakili umat Islam untuk menyerahkan tanah yang hakekatnya milik umat Islam kepada siapapun. Kedua: Perjanjian damai itu merupakan bentuk nyata pengakuan tanah Palestina kepada Israel.

Lalu bagaimana penyelesaian tuntas persoalan Palestina? Bila kita percaya bahwa pangkal persoalan Palestina adalah eksistensi Israel, maka jelaslah bagaimana penyelesaiannya. Hal ini akan mengingat kita pada ucapan Sultan Abdul Hamid II, Khalifah Utsmani : “Jika kekhilafahan Islam ini hancur pada suatu hari, mereka dapat mengambil Palestina tanpa biaya. Akan tetapi, selagi aku masih hidup, aku rela sebilah pedang merobek tubuhku daripada melihat Bumi Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Kekhilafahan Islam”.

Perpisahan Tanah Palestina adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup”. Karena itu bila kita ingin benar-benar membebaskan Palestina dari cengkeraman Yahudi, tidak bisa tidak, kita harus mengembalikan pelindungnya, yakni khilafah. Khilafah dengan kekuatan jihadnya akan mampu mengusir Israel dari tanah yang memang bukan hak mereka.

Maka jelas, solusi tuntas persoalan Palestina adalah khilafah dan jihad. Namun sayang, sebagian umat masih menanggapi skeptis, nyinyir, bahkan menganggap radikal bila disodorkan solusi ini. Bila bukan itu, adakah solusi lain? Perundingan? Sudah tak terhitung perundingan damai digelar dan ditandatangani, tapi sebanyak itu pula diingkari.

Jangankan sejumlah negara Arab, seluruh negara mengutuk pun mereka tak peduli. Ada lebih dari 33 resolusi PBB terkait Israel yang tak dianggap, dan tidak ada tindakan apa-apa atas mereka. Penyebabnya adalah karena Israel ditopang negara-negara besar. Dulu Israel dilahirkan oleh Inggris saat menjadi negara besar. Lalu setelah Perang Dunia II, AS lah yang menopang mereka.

Khilafah ar-Rasyidah satu-satunya institusi yang akan dan sudah terbukti dimasa lalu mampu menyatukan kita,serta melindungi Palestina. Hanya dengan itu negara imperialis akan takut dan tidak lancang menginjak tanah kaum muslim, membunuh dan menzalimi umat Islam. Allahu a’lam Bi al-shawab

Loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

loading...