“Tugas Wartawan Tak Boleh Ada Tekanan”

Banjarmasin, KP – Ketua Dewan Pers, Muhammad Nuh mengharapkan keberadaan pers saat ini  tidak cukup sekedar merdeka saja, melainkan juga berkualitas, kompetensi dan karyawanya sejahtera.

Mengingat, kata mantan Menteri Pendidikan  ini, kualitas dari kemerdekaan pers itu ditentukan tiga hal.”Pertama kompetensi dari para jurnalisnya.” ujarnya.

“Karena kalau jurnalis tidak kompetensi maka berita yang disajikan pun tidak memiliki konteks kualitas yang bagus,” jelas Muhammad Nuh di acara Gathering Dewan Pers bersama perwakilan perusahaan media se Kalselteng, di Rattan In Banjarmasin, Kamis (6/2).

Sedangkan faktor kedua kualitas dari kemerdekaan pers itu ditentukan pelindung saat melaksanakan tugas.

Karena meskipun suatu berita yang akan diliput sangat bagus, sedangkan sang jurnalis berada dalam tekanan, ancaman, intimidasi atau kekerasan tentu informasi yang akan disampaikan pun tidak bagus.

“Karena itu perlindungan bagian mutlak kalau ingin kemerdekaan kualitas seorang pers<’ bebernya.

Namun itu saja tambah Muhammad Nuh, tentu tidak cukup demi melahirkan kualitas dari kemerdekaan pers melainkan ada satu faktor lagi yang turut mempengaruhi yaitu kesejahteraan wartawan.

“Kita berharap bisnis media tidak boleh bangkrut. Sehingga jika perusahaan media tumbuh, otomatis kesejahteraan para jurnalis pun akan terangkat,” katanya.

[]Mengalami Transisi

Sedangkan Wakil Ketua Dewan Pers, Hendry Chairudin Bangun memaparkan, sekarang ini ada kecenderungan masyarakat dalam menggali informasi mengalami transisi yang cukup signifikan.

Hal itu dibuktikan hasil survei atau penelitian Dewan Pers, terhadap 1.020 koresponden di 34 provinsi se Indonesia.

Kemudian survie juga memaparkan bahwa, usia 18 sampai 34 tahun sebanyak 51,18 persen, jenis kelamin laki-laki sebanyak 50,3 persen dan perempuan 49,6 persen. 

Berita Lainnya

Ke MK “Bunuh Diri”

1 dari 1.029

Sedangkan latar belakangan pendidikan koresponden terbanyak S1 yakni 51,18 persen sedangkan S2 adalah 53,53 persen.

Dipaparkan, kebiasaan masyarakat membaca koran ternyata tersisa hanya 25,88 persen. Sedangkan majalah, hampir sudah tidak membaca adalah 44 persen. 

Media elektronik dalam hal ini televisi kebiasaan masyarakat mencari masih menonton 55,98 persen, itu pun hanya dua jam sehari.

“Sedangkan radio saat ini yang masih mendengar pun itu hanya sekitar 39 persen,” jelas Hendry.

Bahkan dari data berbeda signifikan dengan kebiasaan masyarakat mendapatkan informasi memanfaatkan siber.

Karena seperti Facebook saja, dalam rentang dua sampai delapan jam sehari yang mengaksesnya sebanyak 75 persen.

Sedangkan YouTube sebanyak 86 persen, kemudian WhatsApp 60 persen, Instagram 67 persen dan terakhir Twitter mencapai 31 persen.

“Sehingga jika melihat perbandingan tersebut, maka sangat kelihatan sekali kecenderungan masyarakat mendapatkan informasi memilih digital,” jelasnya.

Belum lagi dalam hal kepercayaan jika sebelumnya masyarakat lebih menonjolkan surat kabar sebagai acuan informasi, saat ini justru sebaliknya. 

Karena berdasarkan hasil survei tersebut kebiasaan masyarakat dalam memastikan informasi surat kabar hanya menempati persentil 6,43 persen.

“Angka ini tentu sangat berbanding jauh dengan kebiasaan masyarakat memastikan suatu informasi menggunakan media siber masih mencapai 26,60 persen, WhatsApp 22,75 persen, Instagram 13,75, televisi 11 persen, surat kabar 6,43 persen,” jelasnya.

Begitu pula dalam membelanjakan uang untuk mendapatkan informasi, dari 1020 koresponden tadi hanya 16 persen membelanjakan uangnya sebesar Rp 100 ribu ke atas. 

Sedangkan sisanya 40 persen membelanjakan uangnya sebesar Rp50 ribu, 29 persen yang membelanjakan uangnya Rp50 ribu sampai Rp100 ribu.

“Jadi data ini, memang menegaskan penggunaan media informasi masyarakat telah mengalami transisi dari physical space ke siber space. Ke depan kami juga akan mencoba melakukan penelitian lebih mendalam lagi tentang ini,” jelasnya.(vin/K-2)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya