Sanusi Akan Bawa Mahasiswa dan Dosen Uniska kearah Kesejahteraan

Banjarmasin, KP – Tinggal menghitung hari, dua calon kandidat pucuk pimpinan Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al Banjari bakal membeberkan aksi programnnya dalam membawa Uniska kedepan.

Perguruan tinggi swasta yang diklaim memilik mahasiswa terbanyak di kalsel ini memiliki dua nama calon Rektor Uniska Periode 2021-2025 tersebut. Sang Petahana Prof Abdul Malik, M.Si, Ph.D, dan Drs Ir H Sanusi M.I.Kom.

Saat ditemui, Kalimantan Post, DR Ir Sanusi. Ia mengatakan salah satu satu visi misinya adalah mensejah terakan dan membawa Uniska kearah yang lebih baik lagi.

Unit usaha pada lembaga yayasan pendidikan dipercaya mampu menggotong semua biaya operasional dan pembangunan lembaga pendidikan itu sendiri.


“Saya berharap kedepan Uniska tidak lagi menggantung pada Surat Persetujuan Pembayaran (SPP) yang dibayar mahasiswa,” katanya.

Maksudnya, sudah saatnya Uniska membangun unit-unit usaha dimana hasilnya nanti bisa menutupi semua biaya kampus termasuk gaji dosen maupun karyawannya.

Berita Lainnya
1 dari 3.211

Memang saat ini pendapatan Uniska sangat besar dari pungutan SPP tersebut. Bila dihitung satu bulannya mahasiswa bayar SPP rata rata Rp 650 ribu dikali kan 17 ribu jumlah mahasiswa.


“Perguruan tinggi yang sehat itu adalah 40-60 persennya tidak lagi ketergantungan pada SPP. Ia harus punya usaha,” katanya

Contoh unit usaha itu misalnya, lanjut Sanusi dibangunnya mini market yang dinamai ‘Uniska Mart’. Toko modern tersebut sangat potensial bila dikelola dengan cara profesional.


“Bayangkan satu market itu saja setahun bisa meraup keuntungan 1 miliar. Nah Uniska Mart ini sangat potensi bisa mendapatkan itu, karena mahasiswa maupun warga umum bisa belanja,” bebernya.

Dari segi kemanfaatan lainnya, Uniska Mart juga bisa menciptakan lapangan pekerjaan dan dapat dijadikan objek edukasi usaha bagi mahasiswa baik itu yang ingin melakukan penelitian atau hal lainnya untuk kepentingan akademisi.

Jalannya usaha yang dimiliki perguruan tinggi ini juga dapat mensubsidi biaya SPP dan bahkan denda keterlambatan membayar SPP bisa saja dihapuskan atau di kurangi. Pasalnya, kampus tidak lagi berharap dari SPP. Kemudian, usaha lainnya seperti penginapan hingga kantin juga perlu dibenahi.

“Bila usaha berjalan baik, saya rasa denda keterlambatan SPP bisa saja dihapuskan. Tak itu saja, bakal banyak mahasiswa-mahasiswa yang mendapatkan beasiswa, dan para dosen bisa menuntut ilmunnya kejenjang berikutnnya,” pungkasnya. (Fin/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya