Martapura, KP – Pemkab Banjar melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) setempat melakukan pemantauan harga ikan nila di pasar Pusat Perbelanjaan Sekumpul, Jumat (05/06/2026) kemarin.
Mewakili Kadis KPP, Kepala Bidang Budidaya Bandi mengatakan, terjadi penurunan harga nila yang dipengaruhi tingginya konsumsi daging kurban, sehingga permintaan ikan menurun.
“Nila sendiri salah satu komoditas budidaya terbesar di Kabupaten Banjar dengan kontribusi sekitar 30 hingga 40 persen dari total produksi perikanan budidaya. Kondisi tersebut membuat harga nila cukup sensitif terhadap perubahan permintaan pasar,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, harga nila di tingkat pasar turun sekitar Rp3.000 per kilogram. Jika sebelumnya berada di kisaran Rp39.000 hingga Rp40.000 per kilogram, kini berkisar Rp36.000 hingga Rp37.000 per kilogram.
“Penurunan harga tersebut juga dirasakan pembudidaya. Di tingkat produsen, harga jual yang sebelumnya berada di kisaran Rp33.000 per kilogram ikut mengalami penyesuaian mengikuti kondisi pasar,” tandasnya.
Untuk ikan lainnya, lanjutnya, seperti bawal, gurame, lele dan patin masih stabil. Lele tetap diminati masyarakat, sedang bawal memiliki akses pasar ke Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat,” katanya.
“Di sisi lain, pembudidaya juga menghadapi tantangan berupa kenaikan harga pakan pada sejumlah merk tertentu. Namun belum terlalu signifikan,” katanya.
Ada beberapa merk pakan yang naik sekitar Rp5.000 per sak, tetapi masih ada juga yang stabil. Untuk pakan dengan kandungan protein 33 persen, harganya masih berkisar Rp380-385 ribu per sak,” jelasnya.
Bandi memperkirakan harga nila kembali stabil dalam beberapa bulan mendatang. Dia menilai kondisi pasar saat ini turut dipengaruhi menurunnya daya beli masyarakat yang tengah memprioritaskan kebutuhan pendidikan anak menjelang tahun ajaran baru.
“Sehingga daya beli terhadap beberapa komoditas, termasuk ikan, ikut menurun,” pungkasnya. (Wan/K-5)















