Isoter Sepi Penghuni dan Tanpa Dilengkapi Oksigen Konsentrator

Banjarmasin, KP – Plt Kepala BPBD Kota Banjarmasin, Edy Wibowo menyebut bahwa pihaknya sudah memiliki data jumlah warga Kota Banjarmasin yang menjalani isolasi mandiri (Isoman).

“Informasi yang kami dapat, jumlahnya mencapai lebih dari 100 orang. Data itu kami dapatkan dari Dinkes Kota Banjarmasin,” ucapnya, selasa (7/9) siang di Balai Kota.

Dari jumlah itu, Edy menjelaskan bahwa ada warga yang kondisi kediamannya tidak layak untuk menjalani isoman. Sehingga dikhawatirkan bisa mengganggu pihak keluarga yang tinggal serumah.

Lantas, apakah mereka yang menjalani isoman di rumah itu bakal dipindahkan ke isoter? Menjawab hal itu, Edy mengaku upaya itu kemungkinan besar ada.

“Tapi, kami masih perlu berkoordinasi dengan Dinkes Kota Banjarmasin untuk tindak lanjutnya, karena itu merupakan tugas dan fungsi dinkes,” ucapnya.

Dikonfirmasi terpisah terkait jumlah warga Kota Banjarmasin, itu Kepala Dinkes Kota Banjarmasin, Machli Riyadi membeberkan bahwa jumlahnya mencapai 177 orang.

Ia pun tak menampik bahwa dari jumlah itu, kemungkinan besar ada warga yang kediamannya tak layak untuk dijadikan tempat isoman.

“Berdasarkan informasi kontak tracer kami, memang tidak menutup kemungkinan ada,” jelasnya.

Lantas, apa tindakan yang dilakukan pihaknya? Machli menyatakan, pihaknya memang ada keinginan untuk memindahkan warga yang menjalani isoman di rumah, ke gedung isoter.

“Tapi, tentu tak akan mengambil langkah menjemput secara paksa. Nanti kami akan bekerja sama dengan pihak terkait,” janjinya.

Di sisi lain. Dari hasil pantauan di lokasi Isoter Baiman, Selasa (7/9) siang. Lokasi yang disebut sebagai rumah sehat bagi warga isoman hanya dihuni oleh satu pasien saja.

Bahkan, oksigen konsentrator yang merupakan bantuan dari Panglima TNI, tak kunjung diletakkan di gedung tersebut.

Padahal sejak awal, Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina telah menginstruksikan agar setidaknya alat itu juga diletakkan di gedung Isoter. Tidak hanya di rumah sakit saja.

Koordinator Perawat di Gedung Isoter, Irwandi pun mengakui bahwa sejak gedung itu difungsikan sebagai isoter pihaknya juga belum menerima adanya alat itu.

“Tidak ada. Yang saya tahu, alat itu masih ada di Rumah Sakit Sultan Suriansyah,” ucapnya, Selasa (7/9).

Bukan tanpa alasan oksigen konsentrator perlu diletakkan di situ. Setidaknya, dengan adanya alat tersebut, bisa menjadi alternatif bila sewaktu-waktu ada pasien yang merasa kekurangan oksigen.

Dikonfirmasi ketiadaan oksigen konsentrator, Machli tak menampiknya. Ia mengklaim bahwa saat ini alat tersebut masih berada di RSUD Sultan Suriansyah.

“Bila dibutuhkan, nanti diletakkan di sana,” janjinya.

Tidak hanya ketiadaan oksigen konsentrator saja. Belakangan, tersiar kabar bahwa sebagian alat tersebut kini mengalami kerusakan.

Dari informasi yang dihimpun, alat itu rusak lantaran dipakai terus menerus alias tanpa adanya jeda waktu.

Namun sayangnya, saat awak media mencoba mengkonfirmasi terkait informasi tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Sultan Suriansyah, M Syaukani, yang bersangkutan tak kunjung memberikan tanggapan. (Zak/KPO-1)

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya