Warga Resah Langkanya Air Bersih

Foto : Dok

Kotabaru, KP – keresahan warga perkotaan kabupaten Kotabaru terhadap kurangnya air kebutuhan rumah tangga sudah mulai terasa, menyusul kurangnya intensitas hujan yang sesekali masih turun.

Salah seorang pelanggan air swadaya, desa Semayap, kecamtan pulau laut Utara, Mama Imron menyatakan “Tahun tahun sebelumnya, ketika kemarau tiba, air kelolaan swasta di sini daya tahannya lebih lama ketimbang layanan Perusahaan Daerah Air Minum ( PDAM ), Milik Pemerintah. Namun pada tahun ini malah duluan air kelolaan swasta habis ketimbang PDAM. Mungkin karena pelanggan semakin banyak sehingga cadangan air cepat habis. Di tambah lagi hujan jika turun tidak begitu deras sehingga tidak ada pengaruh nya terhadap penambahan cadangan air. Dalam kondisi seperti ini, mau tidak mau, kita harus membeli air dari jajaan mobil keliling, yang per satu tandunnya ( 1200 liter ), seharga Rp. 50 ribu. Itu juga bertahan paling lama dua Minggu. Jadi untuk kebutuhan air saja kita harus menyiapkan paling tidak Rp. 150 ribu perbulannya “. Tutur nama Imron.

Bagi penjaja air dengan menggunakan mobil open kap sebagai angkutannya, kemarau ini malah kesempatan baik baginya mendapatkan penghasilan. Seperti pengakuan salah seorang di antara sekian penjaja air bersih di Kotabaru, Deny, menyatakan bahwa ” Kemarau seperti ini justru berhikmah baik terhadap sebagian orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap dengan menjajakan air keliling. Bahkan ada di antara kami malah sudah bekerja tetap, seperti PNS, atau polisi, memanfaatkan kesempatan saat pulang kerja untuk menjajal air. Pendapatannya memang lumayan jika kita mampu bertahan melayani pembelian hingga malam. Rata ratanya, penghasilan mampu kita peroleh hingga Rp. 800 ribu perhari ( kotor ), belum termasuk minyak dan pembelian air pada penampung. Jika di hitung bersih yaa dapat aja Rp. 500 ribu lebih perharinya “. Ujar Deny.

Abah Udin, pengelola air swadaya, Desa Semayap kepada KP menyampaikan bahwa “Sebenarnya, pelayanan pelanggan masih bisa saya upayakan pak dengan menggunakan mesin pendorong. Karena cadangan air sebenarnya tidak habis total juga, tapi daya tekan alirannya sangat lah.

Namun, menggunakan mesin pendorong ini kan perlu biaya pembeli minyak dan tenaga. Saya mencoba menawarkan kepada pelanggan, untuk membayar per sekali jalan hingga perkiraan penampungan 3000 liter penuh, per pelanggan dengan membayar Rp. 30 000. Namun mereka sepertinya tidak memberi respon. Mungkin karena mereka tidak memiliki penampungan sebanyak yang di tawarkan. Bahkan mereka lebih memilih membeli pada penjaja air keliling dengan harga Rp. 50 ribu hingga 80 ribu pada 1200 liternya. Padahal para penjaja itu sebagian besar juga membeli di penampungan air saya. Air saya tampung di pinggir sungai salokayyang, karena dari kerendahan itu tidak dapat terdorong lagi naik ke penampungan cadangan (pembagi ke pelanggan), yang ada di atas. Dan disitulah saya jual pada penjaja Rp. 15 ribu per satu tandunnya, atau 1200 liter”. Ujar Abah Udin. (and/K-6)

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

loading...