Harga ‘Simerah Dan Siputih’ Melambung Lagi

Banjarmasin, KP – Memasuki bulan ini setelah harga telur ayam ras, bebek dan ayam kiloan bergerak naik kini giliran bawang merah dan putih yang melambung diakibatkan pasokan yang mulai terkendala.

Dari penjelasan sejumlah penjual, Kamis 9/1), naiknya harga bawang merah dan putih selalu terjadi setiap memasuki awal tahun karena dibulan-bulan ini permintaan bawang sangat tinggi.

Hindun penjual bawang merah dan putih dikawasan Pasar Teluk Dalam mengatakan, dalam sepekan ini harga bawang merah kembali melambung harga jualnya dibanding pekan sebelumnya, naiknya harga bumbur dapur ini karena pasokan yang mulai terganggu dari sentra penghasil utama.

Harga bawang merah saat ini lebih mahal jika dibanding beberapa waktu lalu yang sangat normal bawang merah dijualnya sekitar Rp28 ribu naik menjadi Rp30 ribu naik lagi menjadi Rp36 ribu per kilonya dari harga normalnya hanya Rp17 sampai Rp20 ribu per kilonya.

Berita Lainnya
1 dari 457
Loading...

“ Kami sebagai pedagang juga cukup direpotkan dengan harga bawang turun naik seperti ini terutama harga bawang merah karena permintaannya masih cukup tinggi dan kami dikeluhkan para ibu rumah tangga harga bawang kembali naik dikira kami para pedagang memainkan harga jualnya padahal pedagang hanya mengikuti mekanisme pasar saja,” jelas ibu satu anak ini.

Dikatakan, naiknya harga bawang merah ini karena pasokan yang mulai terganggu baik dari Pulau Jawa, Sulawesi dan NTB sebagai sentra penghasil utama sedangkan bawang putih impor dari negara Cina sehingga harganya masih bertahan tinggi hingga saat ini.

“Ketika dijelaskan kepada pembeli mereka tidak mau mengerti, mereka maunya harga bawang stabil terus, meskipun bulan Maulid,” ungkap Syaipul pedagang bawang Pasar Lama lainnya.

Dalam satu karung bawang merah isi 50 kiloan dijual hingga Rp1,3 juta lebih padahal sebelumnya hanya dijual Rp800,000- per karungnya.

Untuk bawang putih dari luar ini dijual sekitar Rp35 ribu sebenarnya ada bawang putih lokal harganya lebih miring yakni bawang putih lokal namun bentuknya kecil-kecil sehingga tidak disukai konsumen. (hif/K-1)

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya