Menyingkap Panji Tengkorak dalam Kebudayaan

328

Oleh : Andi Nurdin Lamudin.
Praktisi Hukum dan Pengamat Sosial Budaya

Di dalam buku mengenai kajian budaya yang salah satunya adalah mengkaji se buah buku yang berjudul ‘Panji Tengkorak kebudayaan dalam perbincangan’ oleh Seno Gumira Ajidarma perlu untuk selalu diangkat. Sehubungan dengan makna dan kelimuan yang terkandung di dalamnya. Untuk mengkaji apa dan bagaimana perkembangan manusia dan mau ke mana? Di mana Cakrawala Bintang pernah mengulas, bahwa untuk mencapai kimia kebahagiaan, salah satunya ialah menguasai pengetahuan tentang diri sendiri. Untuk mengetahui tetang diri sendiri ternyata untuk itu salah satunya dengan mengikuti makna kebudayaan. Di mana makna kebudayaan adalah perkembangan manusia yang belajar untuk kemajuan dirinya sendiri. Dengan cipta, rasa dan karsanya. Seperti juga di dalam ungkapan sebuah komik untuk melihat manusia untuk menguasai dirinya sendiri. Sebuah cerita bergambar yang penulis sendiri pun menyukai dan hobby. Namun setelah perkembangan, untuk menyukai hobby itu nampaknya mulai pudar.

Telah di ulas pada buku yang tebal itu bahwa kajian komik Indonesia sepanjang sejarahnya terlalu sedikit, maka sebuah kajian yang mendalam layak dilakukan. Kajian ini membandingkan buku komik Panji Tengkorak yang digubah oleh Hans Jaladara sampai tiga kali. Yaitu tahun 1968, kemudian tahun 1985 dan selanjutnya 1996. Ternyata ada tiga versi cara penyajiannya. Maksud dan tujuan kajian atas Tiga Panji Tengkorak adalah mencari tahu dan mengungkapkan bagaimana kebudayaan sedang berlangsung.

Oleh karena itu cara penyajian gambar dan makna yang ada di dalamnya, juga mengalami pergerakan yang sebenarnya tidak sama gambar pada tahun pembuatannya. Maka dengan demikian pesan apa dan bagaimana pengetahuan sedang berkembang mengikuti tahun-tahun di masa yang akan datang.

Dalam pembacaan itu terungkapkan suatu perbincangan dalam lima topik. Pertama, bahwa pendekatan gambar yang teracu dalam tiga Panji Tengkorak adalah gambar realisme dalam wacana kemiripan dan gambar kartun dalam wacana kesepadanan.

Maka dijelaskan bahwa dari penemuan ini terbangun konstruksi oposisional antara ideologi objektivitas dalam wacana kemiripan yang terdapat dalam Panji Tengkorak 1968 dan panji Tengkorak 1985. Ideologi subjektivitas dalam wacana kesepadanan yang terdapat dalam Panji Tengkorak 1996. Namun kedua simulasi sejumlah kode, yakni Kode Serius, Kode Lucu, dan Kode Dagang.

Kode artistik, kode silat, ataupun kode kekerasan dalam gugus kode, memperlihatkan berlangsungnya pertukaran kode antar gugus. Dengan ini berarti kon struksi oposisional yang terbentuk sebelumnya mengalami keretakan. Dalam topik ketiga, dilakukan simulasi Identias asal, Identitas faktual dan identitas Non faktual dalam gugus identitas budaya Geografis. Bahwa dari sini terlacak terdapatnya politik identitas dan berlangsungnya pergulatan antarwacana.

Topik ke empat menunjukkan terdapatnya perlawanan terhadap bias konstruksi gender yang termaknakan dalam perbandingan Tiga Panji Tengkorak. Kemudian dalam topik kelima terumuskan bahwa dari representasi dalam naratif ataupun pembermaknaannya sendiri. Terungkapkan berlangsungnya ketidak mapanan sistem dalam pergulatan wacana.

Bahwa kemudian dalam rekapitulasi terbongkarnya objektivitas dan subjektivitas adalah representasi ideologis bagi konstruksi realitas. pembebanan makna atas realitas yang ideologis itu menjadi pergulatan antarwacana yang memberlangsungkan kebudayaan. Di mana memang akan selalu terhadirkan sebagai meta kebudayaan. Yaitu kebudayaan tentang kebudayaan, karena kebudayaan hanya terhadirkan dalam proses sebuah perbincangan.

Dengan kata lain bahwa ini berarti manusia yang berada di dalam kebudayaan, dalam hubungan dibentuk/membentuk kebudayaan. Hanya akan melihat kebudayaan sebagai suatu jejak. Tiga Panji Tengkorak adalah jejak-jejak kebudayaan yang dalam pembongkaran telah memperlihatkan berlangsungnya kebudayaan.

Bahwa ternyata di dalam perkembangan di zaman sekarang ini telah bermunculan tokoh-tokoh super hero. Maksud dan tujuannya, adalah untuk menjembatani sebuah peristiwa kebudayaan. Di mana untuk itu berkembangnya ilmu pengetahuan modern yang telah melanda dan harus dijalani oleh seorang manusia. Seiring dengan itu semua, maka tentu saja tokoh super hero itu sangat mengusai keadaan tentang keadaan yang penuh dengan nuansa ITE. Maka dengan demikian terjadi connected atau hubungan yang jelas dengan keadaan yang masuk akal dan pikiran kita, termasuk pembaca di Indonesia ini.

Di dalam versi Barat, begitu banyak super hero yang terkenal bagi penggemarnya di antaranya Superman, Spider-Man, Batman, WonderWoman, The Hulk, Green Lantern, The Flash, Captain America, Thor, Wolverine, Iron Man dan X-men. Di mana peranannya mengatasi keadaan alam dan sesuatu kejahatan yang berlangsung oleh para tokoh penjahat yang juga menguasai ilmu pengetahuan untuk tujuan-tujuan tertentu. Maka dengan sebuah cerita di mana tokoh yang menjadi super hero itu, sangat di idolakan dan dicontoh oleh pengikutnya yang kebanyakan adalah anak-anak sesuai dengan dunia pikirannya. Namun dengan demikian tentu saja, bukan tanpa alasan cerita-ceita itu dibuat, bahkan bisa menguntungkan yang besar jika dijadikan sebuah pertunjukan film.

Maka dengan demikian manusia terus saja dan terus juga mengungkap sampai di mana perkembangan mereka di dalam kehidupan dunia ini. Maka dengan demikian masih berhubungan dengan teori empat unsur oleh Al-Ghazali, di dalam kimia kebahagiaan, yaitu pengetahuan tentang dunia ini. Karena gambaran tentang akhirat itu, mesti juga mengikuti jembatan dunia ini.

Loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

loading...