Menuju Gerbang Ibukota Negara Di Era 4.0

Oleh : Mambang, M.Kom
Ketua Jurusan Teknologi Informasi Universitas Sari Mulia Banjarmasin

Seperti kita ketahui bersama, Banjarmasin dalah salah satu kota modern dan maju di Kalimantan Selatan. Tahun 2020 ini Banjarmasin beranjak dengan usia 494. Banjarmasin kita kenal mempunyai sejarah yang sangat panjang dalam segala aspek, baik bidang ekononi, sosial dan budaya. Kota Banjarmasin sendiri memiliki magnet yang sangat kuat bagi masyarakat karena merupakan salah satu central utama ekonomi di pulau Kalimantan. Kehidupan masyarakat yang terkenal ramah dan menjunjung tinggi toleransi membuat berbagai macam kalangan masyarakat dari manapun untuk datang menikmati kuliner dan juga wisata sungai yang semakin membuat kota Banjarmasin dikenal seantero dunia.

Dengan segala kelebihan itu, wajar jika Banjarmasin khususnya dan Kalimantan Selatan umumnya melangkah maju dalam mempersiapkan tatanan perubahan yang akan dihadapi guna menyongsong pembangunan dimasa yang akan datang dimana peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu pilar utama dalam menunjang ibukota baru nantinya. Berbicara tentang ibu kota baru yang dalam beberapa tahun lagi akan menjadi nyata, tentunya menjadi perhatian bagi kita semua terutama masyarakat di Kalimantan.

Banjarmasin yang berjarak 478.8 km dengan Kabupaten Penajam Paser Utara tentunya menjadi salah satu wilayah yang dapat menjadi daerah penyangga utama dalam mempersiapkan segala sesuatu terutama sumber daya manusia. Sumber Daya Manusia menjadi hal yang paling penting untuk dipersiapkan dalam menyongsong ibukota baru tersebut. Perubahan yang terjadi begitu cepat saat ini terutama dalam bidang teknologi informasi, harus menjadi perhatian utama dari semua kalangan untuk dapat berkolaborasi memepersiapkan SDM yang unggul dan serta mempunyai nilai-nilai etika yang baik. Langkah cepat perkembangan teknologi di era 4.0 tentunya menjadi refleksi untuk kita pahami secara holistik.

Di dalam masyarakat dunia saat ini sedang berhadapan dengan sebuah aliran gelombang perubahan yang begitu sulit untuk dipahami. Keadaan sosial, ekonomi, pekerjaan masyarakat semakin cepat berubah dengan hadirnya perangkat-perangkat teknologi digital yang seakan tiada henti memanjakan penggunanya. Pengaruh-pengaruh teknologi Artificial Intelligence, IoT, Big Data, dan Data Science memang sudah masuk dalam sendi kehidupan kita yang mana dari pengaruh teknologi terbaru ini akan berdampak terjadinya automatisasi secara masif dalam kehidupan masyarakat dunia serta melahirkan pengetahuan-pengetahuan baru yang mana menuntut sumber daya manusia untuk cepat beradaptasi dengan gelombang perubahan saat ini. Berbicara tentang perpindahan ibukota nantinya, tentunya ini akan memaksa kita untuk cepat beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang akan terjadi.

Berita Lainnya

Pendidikan Utama Manusia di Bumi

Pendidikan Minus Visi, Berorientasi Industri

1 dari 153
Loading...

Kolaborasi dari semua lintas sektor sangat diperlukan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul serta mempunyai nilai budi pekerti yang sesuai dengan pancasila. Gelombang perubahan teknologi yang terus bergerak maju, seakan menuntun kita ke arah ketidakpastian dalam memahami apa yang terjadi saat ini. Kita semua menyadari teknologi yang kian hari terus bergerak maju seakan menghipnotis kita untuk secara terus menerus menggunakan dan memanfaatkan teknologi apa saja yang ada pada perangkat smartphone kita. Pemikiran-pemikiran manusia yang dari abad ke abad terus mengalami kemajuan yang sangat signifikan dalam segala bidang dengan didukung oleh teknologi informasi yang terus bergerak dan tumbuh secara cepat membuat peradaban manusia berubah sangat cepat, dulunya kita hanya dapat melihat kecanggihan teknologi hanya seperti fiksi belaka sekarang menjadi pelan menjadi nyata. Peran generasi muda sebagai masa depan sebuah bangsa bahkan penerus bangsa, tentunya mempunyai peranan yang sangat penting untuk menunjang pembangunan indonesia.

“Sejarah dunia adalah sejarah orang muda, apabila angkatan muda mati rasa, maka matilah sejarah sebuah bangsa”. (Pramoedya Ananta Toer). Dalam beberapa tahun ini perubahan industri, teknologi dan informasi menjadi sesuatu yang selalu di gaungkan oleh masyarakat dunia, beberapa tahun ini kita memulai mengenal lagi apa itu revolusi industri 4.0,

Sebagai seorang penulis terkemuka Alvin Toffler dalam bukunya “Future Shock dan Third Wave” sudah memprediksi bahwa di abad 21 akan terjadi gelombang perubahan yang sangat dahsyat dibanding era sebelumnya. Dan benar saja ramalan itu sudah kita jalani saat ini dimana perkembangan dunia berubah ke arah digitalisasi dan automatisasi dalam berbagai sektor kehidupan. Dengan terjadinya proses perubahan yang sangat cepat ini, ada beberapa faktor yang menjadi dasar perubahan pada era indutri 4.0 ini yang dapat kita identifikasi seperti Cyber-Physical System. Cyber-Physical System adalah salah satu aspek dalam cyber-system revolusi industri 4.0. Sistem ini memungkinkan terhubungnya alat yang berbentuk fisik dengan jaringan internet. Selain itu juga IoT atau yang disebut Internet of Things merupakan teknologi yang memungkinkan benda-benda di sekitar kita terhubung dengan jaringan internet.

Teknologi ini ditemukan oleh Kevin Ashton pada tahun 1999. Hingga saat ini, teknologi IoT sudah dikembangkan dan diaplikasikan. Salah satu produknya yang paling akrab dengan kita adalah layanan GPS (Global Positioning System). Perubahan pada abab ini juga sangat dipengaruhi oleh perubahan ekonomi yang banyak mendapat serbuan dari proses-proses bisnis yang tak terlihat. Dalam sebuah peryataannya disaat Nokia berada pada titik nadir, CEO Nokia Stephen Elop mengatakan bahwa mereka tidak melakukan kesalahan apapun dalam bisnis mereka, tetapi mereka tiba-tiba kalah dan punah. Inilah yang menjadi dinamika dalam proses-proses bisnis saat ini, dimana kapanpun dan dimanapun proses bisnis itu berubah begitu cepat dan tak terlihat secara kasat mata. Serbuan e-commerce yang kian masif dengan proses bisnis baru, mampu membuat raksasa-raksana bisnis tumbang dalam sekejab. Belum lagi perubahan transaksi keuangan yang dulu bersifat konvensional berubah kearah digital dengan serbuan proses bisnis yang menamakan diri mereka finansial teknologi (fintek), mampu memberikan kemudahan masyarakat dalam melakukan proses transaksi keuangan hanya dengan menggunakan smartphone. Fenomena perubahan yang datang secara tiba-tiba ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Indonesia saja, tetapi masyarakat dunia pun mengalami yang sama juga.

Bangsa-bangsa di dunia berlomba-lomba membuat berbagai inovasi dan kebijakan untuk menyelamatkan bangsa mereka masing-masing agar mampu bersaing dan bertahan ditengah gejolak ekonomi yang terasa sulit untuk diramalkan. World Economic Forum (WEF) memang memperkirakan, dalam periode 2015 hingga 2020 saat ini, terdapat jutaan pekerjaan akan berkurang dan digantikan oleh mesin, robot, artificial intelligence, dan perangkat komputasi lainnya. WEF membuat enam kelompok pekerjaan yang jumlahnya akan menurun signifikan selama lima tahun. Administrasi perkantoran adalah sektor kerja yang paling banyak akan menutup lapangan kerja bagi manusia, sekitar 4,8 juta. Disusul manufaktur dan produksi yang akan mengurangi hingga 1,6 juta tenaga kerja. Peringkat ketiga adalah konstruksi dan ekstraksi yang akan meminggirkan setengah juta manusia, lalu disusul desain, seni, hiburan, dan media sebesar kurang lebih 150 ribu orang. Sektor hukum dan legal akan menyusut hingga 100 ribu lapangan kerja, dan instalasi dan pemeliharaan akan menyusut hingga 40 ribu (Future of Jobs Report, WEF, 2016). Perubahan adaftasi masyarakat pada era 4.0 ini juga sangat di topang oleh skill-skill dasar pada abad 21 ini seperti Critical Thinking, Colaboration, Creativity, Comunication, dan Competency. Kolaborasi dari berbagai sektor untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, tanpa menyiapkan SDM yang baik maka bersiaplah kita hanya akan menjadi penonton di tengah perubahan yang terjadi. Tahun 2030 Indonesia diprediksi akan mengalami masa bonus demografi. Jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibanding penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun).

Pada periode tersebut, penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa. Sumber Daya Manusia yang berkualitas dan unggul menjadi kunci utama dalam mempersiapkan Kalsel menjadi gerbang ibukota negara yang baru. Dengan waktu yang tidak terlalu lama lagi, perpindahan ibukota tersebut akan terjadi maka peran sentral dari perguruan tinggi juga diharapkan dapat bergerak cepat mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul dalam era 4.0 ini, SDM unggul Indonesia Maju.

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya