Musuh bersama Kita

Oleh : Andi Nurdin Lamudin
Praktisi Hukum dan Pengamat Sosial Budaya

Telah diceritakan di dalam sejarah para Nabi jika setiap Nabi mengajarkan Tauhid. Mengajarkan kepada manusia jika sebenarnya Tuhan itu hanya satu. Karena jika ada dua Tuhan, maka mereka tentunya saling menjatuhkan, dan karena sama-sama mempunyai kekuatan, maka keduanya akan binasa. Artinya jika ada dua Tuhan sama dengan nol atau kosong. Karena itu para malaikat terus mengilhamkan pada manusia jalan Tauhid itu. Sebagai pengabdi Allah SWT, untuk menegakkan hukum Islam yang ada dilangit dan dibumi. Namun juga tidak bisa dilupakan jika setan yang terkutuk yang dimulai dengan Iblis, akan selalu untuk menggelincirkan seluruh ummat manusia kepada neraka.

Karena manusia makhluk yang sempurna. Maka unsur malaikat ada pada akal dan pikiran manusia itu. Unsur setan ada pada nafsu manusia, atau keinginan manusia yang berlebih-lebihan. Unsur makan dan minum adalah unsur binatang, sedangkan kehidupan pada tubuh manusia seperti pada tumbuh-tumbuhan. Oleh karena itu dialog malaikat dan setan selalu saja terjadi di dalam tubuh manusia itu. Seperti satu contoh jika seperti shalat, akal dan pikiran akan melihat ada rujukan Alqur’an dan dukungan hadist Nabi Muhammad SAW. Namun mungkin ada tergerak di dalam pikiran kita jika tanpa rujukan itupun bisa dilakukan. Nafsu kita membenarkan itu, sedangkan bisikan-bisikan setan juga terus membisikkan hal-hal yang kreatif tentang shalat tanpa ketentuan Alqur’an dan hadist. Pada akhirnya jadilah shalat seperti yang terjadi di zaman ini, sambil joget-joget dan goyang–goyang, yang mungkin menurut mereka sesuai dengan zaman sekarang.

Penyimpangan itu adalah musuh bersama. Mereka itu yang membuat karena tidak lepas dari orang Kafir, atau tidak percaya. Bisa jadi dari orang Musyrik, yang percaya setengah-setengah, atau menduakan Tuhan. Penyimpangan itu bisa terjadi juga pada makanan dan minuman. Pada makanan yang dilarang, sehingga menimbulkan penyakit-penyakit baru atau penyebaran virus baru. Seperti virus corona sekarang ini. Bisa terjadi penyimpangan itu pada perkawinan. Sehingga menimbulkan apa yang dinamakan LGBT.

Oleh karena itu di dalam doa Muslim sekarang ini dengan munculnya musuh bersama atau virus Corona, sehingga doa itu menjadi kebutuhan bersama. Seperti Qunut pada shubuh atau pada shalat Jum’at. Padahal musuh bersama itu juga terus dikumandangkan sejak dulu, yaitu Muslim itu terus juga berlindung pada kejahatan orang-orang kafir, orang-orang musyrik, kejahatan orang munafik, kejahatan manusia, atau kejahatan MakhluqNya,juga seperti virus corona ini.

Berita Lainnya

Penggunaan Anggaran dalam Bayangan Covid-19

Haul Pahlawan Pangeran Antasari ke-158

1 dari 152
Loading...

Oleh karena kejahatan itu sebenarnya merupakan sebuah yang berkesinambungan. Sebab kejahatan yang dimulai dari pikiran, tentang kejahatan kekafiran, kemusyrikkan, kemunafikkan, akan menimbulkan problem bersama seperti LGBT. Mereka mungkin banyak tidak mengerti jika kejahatan yang terakhir, atau seperti LGBT atau virus corona, adalah merupakan rangkaian terakhir daripada kejahatan induk. Yaitu bahwa kekafiran dan kemusyrikkan, kemunafikkan adalah LEBIH BERBAHAYA daripada yang ada sekarang ini.

Karena itu jika Alqur’an dilawan maka tejadilah musuh bersama bagi ummat manusia. Atau seperti virus corona sekarang ini. Padahal di dalam Alqur’an itu sendiri disebutkan jika Alqur’an diturunkan untuk menjadi obat dan rahmat (syifa dan rahmat) bagi orang-orang yang beriman. Tetapi sebaliknya bagi orang-orang zholim merupakan kesengsaraan. Mereka yang sengsara pada firman Tuhan tentunya karena merujuk pada ajaran setan yang terkutuk untuk selalu menyesatkan manusia dan keturunannya untuk memasuki neraka jahannam. Mengapa banyak manusia tidak beriman pada ajaran Muhammad SAW? Di mana pada bulan Rajab hamba Allah SWT itu telah berjalan di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian menuju langit ke tujuh bersama malaikat Jibril AS. Kemudian menuju Allah SWT, untuk menjemput shalat lima waktu dimana maknanya adalah Islam. Bahwa dimana (I) Isya, (S) adalah Shubuh, (L) adalah Luhur, dan (A) adalah Ashar dan (M) adalah Maghrib.

Oleh karena itu di dalam perkembangan musibah baru yang telah melanda dunia sekarang ini. Telah juga membuat cara-cara baru untuk menanggulanginya. Sehingga juga telah melanda dunia Muslim di dalam menyikapinya. Namun perlu kita ingat semuanya merupakan sebuah rangkaian dari sebuah peristiwa yang awal dan juga merupakan pada akhirnya, dari sebuah kesesatan. Karena Muslim tetap berpegang pada Alqur’an. Jika dilihat dari surat yang pertama Al-Fatihah, terus menegakkan hukum Tuhan yang merupakan Malik (Raja) pada hari kemudian, kepadaNyalah kami menyembah dan kepadaNyalah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami kejalan yang lurus, jalan yang orang yang telah Engkau beri nikmat. Bukan jalan yang mereka murkai, dan bukan pula jalan yang sesat.

Telah ditutup Alqur’an itu pada surat Al-Ikhlas, Katakanlah Tuhan itu satu, Allah tempat bergantung segala sesuatu, Tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak ada yang menyamaiNya. Pada surat Al-Falaq, Katakanlah aku berlindung kepada Allah SWT yang menguasai Falaq (alam misteri), daripada kejahatan MakhlukNya, dari kejahatan malam bila gelap gulita, dari kejahatan sihir dari alatnya, dari kejahatan hasad orang yang hasad. Pada suarat An-Naas, Katakanlah, aku berlindung kepada Tuhan yang mengatur manusia, Raja manusia, Pencipta manusia. Dari keraguan yang tersembunyi, yang berbisik-bisik didalam dada, dari kejahatan jin dan manusia.

Empat surat yang harus dikuasai untuk mengerti makna dan apa serta bagaimana semestinya seseorang bersikap di dalam menghadapi kehidupan di dalam dunia yang fana ini. Sehingga dengan demikian seseorang tidak terkejut sedemikian rupa sehingga menjadi lupa, jika perlindungan seseorang terhadap musibah itu tidak lepas daripada seseorang itu wajib juga untuk mengetahui siapa Tuhan di dalam arti yang sebenarnya. Sehingga untuk itu sifat Allah SWT dan Asmaul Husna, menjadi hafalan sehari-hari. Sehingga untuk itu terus membesarkan Allah SWT, dengan sebenarnya membesarkan, memuji Allah SWT dengan banyak, serta MensucikanNya pada pagi dan petang hari. Sehingga dengan demikian akan menghadapkan wajah kepada Allah SWT yang menguasai langit dan dengan kesungguhan dan tunduknya hati untuk mengikuti ajaran Allah SWT atau Muslim, dan bukanlah seorang yang Musyrik atau menduakan Tuhan.

Untuk menyandang khalifah di muka bumi ini, tentunya ajaran Nabi Muhammad SAW terus juga dilakukan untuk menjadi aturan yang berlaku yang diajarkan Penciptanya. Karena itu mereka yang akan menghalangi jalan Islam, akan menjadi musuh bersama. Walaupun untuk itu tekanan dari ekonomi dan perbankan, dan sistim riba telah melanda. Sudah semestinya untuk diganti dengan sistim yang baik dan benar menurut ajaran Pencipta. Sistim kedokteran dan pengobatan semestinya dilakukan pada apa yang dibolehkan dan tidak dibolehkan menurut ajaran islam. Sistim perkawinan, bila dirusak akan menjadikan manusia jauh dari Tuhan bahkan semakin tidak jelas.

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya