Remaja Milenial di antara Covid dan Ramadan

Oleh : Mahrita Julia Hapsari, M.Pd
Praktisi Pendidikan

Ramadhan tiba.. Ramadhan tiba… Ramadhan tiba… Marhaban yaa Ramadhan… Marhaban yaa Ramadhan. Lagu bernada riang itu mulai menghiasi hari-hari ini. Tak sampai satu pekan lagi, Ramadan sudah menjumpai kita.

Di benak remaja, Ramadan identik dengan ngabuburit dan bukbernya. Jelang buka puasa terbiasa dengan cuci mata keliling kota atau di seputaran pasar Ramadan. Itulah ngabuburit. Lepas tarawih berjama’ah di masjid atau mushalla, kembali mengukur jalanan.

Di kalender telah dilingkari beberapa tanggal untuk agenda buka puasa bersama, singkatnya bukber. Ada bukber warga se-RT, warga sekompleks, Ada pula jadwal bukber alumni SD, SMP, SMA, hingga kuliah.

Terus berulang dari Ramadan ke Ramadan, hingga terakhir di tahun 2019, Ramadan 1440 H. Tahun 2020 ini, di Ramadan 1441 H, ada yang berbeda dari Ramadan sebelumnya. Bukan Ramadannya yang berbeda, namun situasi dunia yang berbeda.

Ramadan tetaplah sama, bulan yang mulia. Bulan penuh berkah. Bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari 1.000 bulan. Bulan bertabur pahala. Amalan sunnah diganjar dengan pahala wajib, amalan wajib dibalas dengan 70 kali pahala kewajiban di bulan lain.

Bulan yang sepuluh hari pertama Allah turunkan rahmat, sepuluh hari kedua Allah ampuni dosa dan sepuluh hari terakhir Allah bebaskan dari siksa api neraka. Bulan yang ketika doa-doa diijabah Allah, terutama saat bersahur dan berbuka.

Ya, Ramadan masih tetap berlimpah rahmat serta barokah Allah. Meski tahun ini wabah covid-19 membersamai Ramadan karim. Lalu, bagaimana sikap remaja mengisi Ramadan di tengah wabah? Untuk tau apa saja yang bisa dilakukan, maka remaja perlu mengetahui perannya dalam kehidupan ini.

Pertama, peran remaja sebagai hamba Allah. Terutama tentang hubungannya dengan Allah Swt. Remaja bisa meletakkan kembali niat beribadah shaumnya hanya semata-mata karena Allah. Sembari membersihkan hati agar senantiasa ikhlas Lillaahi ta’ala dengan beribadah sesuai dengan tuntunan syari’at yang diajarkan Rasul SAW.

Berita Lainnya
1 dari 154
Loading...

Allah SWT berfirman dalam hadits Qudsi: “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untukku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung”. (HR Bukhari dalam Shahihnya: 7/226 dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu’anhu). Untuk itu, remaja perlu benar-benar menyucikan hati ketika shaum dengan memperbanyak amal sholeh dan menjaga diri dari perbuatan maksiat dan sia-sia.

Remaja sebagai hamba Allah, meningkatkan amal ibadahnya selain shaum. Bisa dengan tadarus Al-Qur’an, one day one juz. Qiyamul lail, tarawih berjama’ah, meskipun di rumah saja. Memperbanyak dzikir dan istighfar serta doa.

Kedua, sebagai seorang anak. Puasa tak menghalangi aktivitas. Rasulullah SAW dan para sahabat justru berperang ketika bulan Ramadhan. Maka, tidak ada alasan bagi remaja untuk tidak membantu pekerjaan orang tua di rumah. Seperti membantu ibu menyiapkan sahur dan berbuka puasa. Membersihkan peralatan makan setelahnya, membersihkan rumah, dan lain-lain.

Ketiga, sebagai seorang pelajar. Wabah ini telah merumahkan segala aktivitas yang tadinya di luar ke dalam rumah. Termasuk sekolah. Tentu ada tugas-tugas yang diberikan oleh para guru selama School From Home (SFH) ini. Nah, sebagai pelajar yang beriman, kita wajib memenuhi segala akad termasuk pada guru.

Mengerjakan segala tugas dengan usaha yang terbaik. Tak bisa dipungkiri, banyak materi baru pada SFH ini, materi yang belum sempat diajarkan oleh guru di kelas. Maka, kita gunakan segala daya upaya untuk bisa menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Juga bertanggung jawab dengan disiplin mengirim tugas tepat waktu.

Keempat, peran sebagai makhluk sosial. Meskipun di rumah, remaja digoda oleh kotak ajaib bernama smartphone. Segala macam hal bisa hadir dan berseliweran di layar HP seketika diaktifkan. Ada yang positif, ada yang negatif.

Remaja beriman, akan memahami bahwa setiap aktivitasnya selalu berada dalam pengawasan Allah. Setiap aktivitas yang dilakukannya akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah. Untuk itu, remaja akan memanfaatkan gawai dengan hati-hati.

Fastabiqul khoirot adalah prinsip remaja dalam menggunakan gawai. Share kebaikan yang bisa dipastikan kebenarannya, no hoax dan no ghibah. Like, share dan subscribe yang berbau dakwah dan keilmuwan. Mengikuti kajian-kajian dan diskusi Islam. Beramar ma’ruf nahiy munkar tetap dilakukan meskipun lewat sosial media.

Dengan demikian, keseluruhan waktu di bulan Ramadhan akan dijalani remaja dengan segala kebaikan. Meskipun di rumah saja tersebab menghindari penyebaran virus covid. Namun tak mengurangi semangatnya untuk mengisi Ramadhan dengan berbagai amal sholeh di setiap peran yang dimilikinya. Semua itu dilakukan semata-mata dalam rangka meraih ridho Allah, sebagai puncak kebahagiaan seorang muslim. Wallahu a’lam

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya