Pemko Minta Pemprov Bermurah Hati

Kondisi keuangan Pemko saat ini terkena dampak saat pandemi dan banyak anggaran belanja dipangkas karena anjloknya Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bersumber dari pajak

BANJARMASIN, KP – Jumlah ruang isolasi untuk pasien CoVID – 19 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Suriansyah sudah overload alias kelebihan kapasitas, seiring terus meningkatnya kasus yang terjadi.

Fakta di lapangan, hingga saat ini dari lima ratus lebih kasus pasien terkonfirmasi positif di Banjarmasin, hanya ada tiga belas yang bisa ditangani untuk menjalani isolasi di rumah sakit milik Pemerintah kota (Pemko) Banjarmasin tersebut.

Bahkan yang lebih memprihatinkan, dua pasien yang dinyatakan reaktif dan masih menunggu hasil Swab terpaksa harus diisolasi di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), lantaran rumah sakit ini sudah kehabisan ruang khusus untuk isolasi.

Nah, melihat kondisi ini, rencananya ruang isolasi ini bakal ditambah sebanyak seratus buah. Yang mana penempatanya akan diletakkan di lantai dasar gedung baru.“Kita akan menambah ruang isolasi baru di Rumah Sakit Sultan Suriansyah sebanyak seratus buah,” ucap Walikota Banjarmasin, Ibnu Sina.

Penambahan ini rupanya memerlukan biaya tak sedikit. Dari hitung-hitungannya saja, untuk biaya penyediaan ruangan, alkes, hingga tenaga medis angkanya mencapai Rp 30 miliar.

Pemko saat ini tengah berupaya membujuk rayu Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Selatan agar bisa meringankan beban biaya pembangunan, dimana kesepakatan untuk menanggung beban masing masing lima puluh persen masih terlalu berat.

“Anggaranya sharing Jadi fivety-fivety, lima puluh persen kota, lima puluh persen provinsi, walaupun kami meminta kemarin karena dampaknya ke APBD, sementara kita sudah beberapa kali pergeseran makanya minta ke provinsi kalau bisa tujuh puluh dari provinsi tiga puluh dari kota,” harap Ibnu.

Berita Lainnya
1 dari 1.384
Loading...

Kondisi keuangan Pemko saat ini memang sedang payah imbas dari pandemi. Banyak anggaran belanja untuk pembangunan yang terpaksa harus dipangkas. Kondisi ini diperparah dengan anjloknya Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bersumber dari pajak.

Bahkan, rencana anggaran masing-masing SKPD bakal kembali dipangkas, dimana duit tersebut digunakan untuk penyesuaian anggaran dan penangan kondisi tanggap darurat pasca PSBB, termasuk untuk pembangunan ruang isolasi tadi.

“Kami meminta kemarin karena dampaknya ke APBD kita sementara kita sudah beberapa kali pergeseran makanya minta ke provinsi kalau bisa tiga puluh tujuh puluh saja. tiga puluh kota tujuh puluh provinsi,” jelasnya.

Adapun Direktur Utama RSUD, dr Sukotjo Hartono, awalnya penambahan ruang isolasi hanya sebanyak dua puluh. Namun setelah adanya rapat koordinasi dengan Pemprov dengan melihat potensi peningkatan kasus maka diputuskan untuk ditambah menjadi seratus.

“Awalnya kita akan menambahkan sekitar dua puluh bed, tapi malah dari Gugus Tugas CoVID-19 Provinsi menawarkan untuk menjadi rumah sakit rujukan pasien CoVID-19, jadi penambahannya seratus bed,” ucapnya.

Ia menjelaskan bahwa anggaran Rp 30 miliar tersebut untuk seratus ruangan itu sudah sesuai. Sebab, beban yang paling besar adanya di alat kesehatan, di mana angkanya mencapai lima puluh persen dari anggaran tersebut.

“Karena kita membangunnya dari nol. Tak memiliki apa-apa sama sekali. alat medis, fasilitas lain hingga SDM disediakan dari awal. Bahkan monitor pasien dan ventilator itu harganya Rp 200 juta lebih,” katanya.

Selain fasilitas, terkait anggaran penyediaan SDM seperti dokter dan perawat juga masuk dalam anggaran tersebut. Ia mengatakan, bahwa untuk memenuhi keperluan tersebut pihaknya perlu menambah minimal 150 tenaga medis dan paramedis. (sah/K-3)

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya