Andri Tetap Optimis di Tengah Pandemi dan Ketatnya Persaingan Usaha

Namun, beberapa bulan belakangan, semenjak wabah Corona melanda, bisnis Andri mulai terganggu. Pandemi sangat berdampak pada usaha minuman kekinian yang dirintisnya.

Banjarmasin, KP – Tren berbagai minuman unik dan kekinian terus bermunculan di Banjarmasin. Jika dulu minuman hanya sekedar teh, kopi, dan jus. Maka, sekarang minuman kekinian yang sedang diminati adalah minuman dengan inovasi terbaru yaitu dengan mengkombinasikan berbagai bahan untuk dijadikan minuman yang lebih menarik.

Peminatnya dari kaum milenial semakin banyak, bahkan menyasar semua umur dan kalangan. Outlet minuman kekinian pun mudah ditemukan di mana saja. Mulai dari area gedung perkantoran, kampus, sekolah, hingga pusat-pusat perbelanjaan. Bisnis minuman semacam ini memang sedang menjamur mengingat respons positif dari masyarakat.

Beberapa jenis minuman kekinian yang pernah dan sedang hits, antara lain Cappucino Cincau, Cheese Tea, Thai Tea, Alpukat Kocok, dan Es Kepal Milo, serta varian baru lainnya dengan inovasi campuran Bubble dan Boba.

Hanya saja, di tengah pandemi yang mewabah, sejumlah outlet minuman kekinian banyak yang tutup karena omzet penjualan yang terus menurun. Namun, masih banyak pula yang tetap bertahan.

Salah satunya, Andri, penjual minuman kekinian dengan merek Milkie Bubble, di kawasan jalan Sultan Adam, Banjarmasin. Ia memulai usahanya pada tahun 2015 lalu dan tetap bertahan hingga kini.

Berita Lainnya
1 dari 482

Andri menceritakan, usahanya semakin berkembang pada tahun 2019 lalu, hingga mampu membuka tiga outlet cabang lainnya di Banjarmasin. Tak hanya itu, ia pun melebarkan sayap dengan menjual hak usaha merek minumannya dengan konsep franchise atau waralaba.

“Tahun lalu, mitra usaha saya dengan sistem waralaba ada empat. Outletnya, satu ada di Banjarmasin, satu di Marabahan dan satu lagi di puruk cahu. Tiap mitra usaha dapat bergabung dengan biaya Rp 20.000.000, dan otomatis mendapatkan hak usaha Milkie Bubble, termasuk 1 rombong besar, 2 buah blender, dan 45 varian bubuk rasa. Semua keuntungan murni untuk mitra usaha,” tuturnya kepada Kalimantan Post, Selasa (22/9).

Namun, beberapa bulan belakangan, semenjak wabah Corona melanda, bisnis Andri mulai terganggu. Pandemi sangat berdampak pada usaha minuman kekinian yang dirintisnya.

“Saat ini, hanya tinggal 1 outlet saja yang bertahan. Pandemi Covid-19 dampaknya luar biasa terhadap perekonomian, yang akhirnya berimbas pula kepada daya beli masyarakat. Selain itu, semakin banyaknya jenis minuman kekinian yang bermunculan, juga membuat orang semakin banyak pilihan. Tentu, persaingannya pun semakin ketat,” beber Andri lagi.

Menurutnya, omzet bisnisnya langsung langsung anjlok hingga 50 persen dibanding sebelum pandemi. Tapi, semua tak lantas membuatnya patah semangat untuk terus berusaha.

“Saya tetap optimis, yang penting tetap tekun dan konsisten menjalankannya, apapun itu usahanya. Semoga, pandemi segera usai dan perekonomian semakin membaik,” imbuhnya. (opq/K-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya