Buzzer dan Netizen Jadi Momok di Masyarakat, Simak Penjelasan Ketua PWI Pusat

Banjarmasin, KP – Keberadaan buzzer dan informasi yang disajikan netizen di media sosial (medsos) saat ini menjadi momok di masyarakat. Banyak masyarakat masih bingung memilah kebenaran informasi yang diterimanya dalam hidup di era milenial sekarang.

Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Atal Sembiring Depari mengatakan, masyarakat saat ini sangat memerlukan edukasi dan informasi akurat, apalagi dalam menghadapi perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 yang akan berlangsung pada 9 Desember mendatang.

“Disinilah peran kita para insan pers untuk menyajikan informasi yang berimbang kepada masyarakat,” ucapnya usai menghadiri kegiatan seminar Peran Pers Dalam Mengawal Pilkada Yang Bermartabat di Gedung Sekretariat PWI Kalsel, Senin (14/09) siang.

Ia tidak menampik bahwa mayoritas masyarakat bahkan para pejabat pemerintahan saat ini masih ada yang mudah terpengaruh dengan informasi dari netizen. “Sebenarnya itu tidak bisa dijadikan patokan dari sebuah informasi,” tegasnya.

Berita Lainnya
1 dari 1.105

Pasalnya, pria yang akrab disapa Atal itu menyebut, informasi yang disajikan netizen atau buzzer itu sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan sumbernya, malah tidak memiliki etika dan kaidah jurnalistik.

“Netizen dan buzser itu hanya terfokus untuk mengganggu dan menyerang pada satu objek saja, dia bergerak atas kehendaknya sendiri, sehingga informasinya tidak berimbang,” tukasnya.

Ia melanjutkan, seperti yang terjadi di Amerika, mainset masyarakat yang ada di salah satu negara maju itu sudah mulai terbuka dan tidak akan mudah percaya lagi dengan informasi yang berasal dari media sosial.

Hal itu disebabkan lantaran banyaknya berita-berita bohong yang tersaji pada laman media sosial di setiap harinya. “Ahirnya mereka tidak percaya dan memilih mencari informasi dari media yang memenuhi standar karya jurnalistik,” ujarnya.

Oleh karena itu, Atal mengajak kepada seluruh insan pers untuk selalu memberikan informasi dan edukasi yang akurat dan berimbang agar bisa mencerdaskan masyarakat dalam memilih pemimpin di Pilkada 2020 nanti.

“Dalam menyajikan berita, kita para insan media menginformasikan sesuatu dengan penuh kode etik, dan itu dipastikan tidak sembarangan. Kita bekerja sesuai aturan, jangan sampai ada anggapan bahwa saat ini media kewalahan menghadapi buzzer. Jangan hiraukan anggapan seperti itu, masyarakat lebih percaya sama kita,” tandasnya.(Zak/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya