Khilafah dan Kesultanan Banjar
(Sebuah nafas perjuangan dakwah dan jihad di Kalsel)

Oleh : Astia Putri, SE., MSA
Pegiat “Pena Banua”, aktivis BMI Banjarmasin

Peringatan 1 Muharram 1442 H membawa kaum muslim bernapaktilas pada perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Bagaimana kemudian penetapannya diambil dari sebuah momen yang spesial, bukan sekedar sebuah proses berpindah secara fisik dari Mekkah ke Madinah, yakni sebuah daerah penuh kesyirikan menuju daerah yang terang benderang oleh cahaya Islam. Melainkan sebuah momentum yang mengandung substansi transformasi sistem kehidupan menuju kepada syariat Islam secara menyeluruh dalam sebuah negara bernama Khilafah.

Sebuah momen yang juga tidaklah keliru ketika peringatan tahun baru hijriyah ini diperingati dengan sudut pandang kekinian oleh sekelompok orang yang berinisiasi menyajikan tontonan sejarah bombastis dalam bentuk sebuah film dokumenter berjudul “Jejak Khilafah di Nusantara”. Mengapa kekinian? Karena jelas, kini gaung nama khilafah bukanlah lagi hanya terdengar dalam ruang-ruang diskusi terbatas para aktivis pergerakan Islam. Bukanlah lagi hanya tergambar dalam hati para sejarawan Islam. Kini, ia sudah mulai masuk dalam obrolan santai di warung kopi, menjamur dalam diskusi intelektual hingga praktisi, dan tak ketinggalan di antara gadis remaja yang biasanya hanya ramai dengan gosip terkini.

Khilafah memang sejatinya bukanlah ciptaan dari seorang intelektual bermutu, sejatinya khilafah adalah sebuah harta karun yang terpendam selama ratusan tahun. Hanya saja memang dikubur dan dibuat kabur jalan menuju kepadanya. Sebuah emas akan tetap berkilau meski dikubur dengan tumpukan tanah hitam. Sebuah emas akan tetap menjadi emas (stay gold) yang berharga meski ia disembunyikan jauh ke dalam dasar bumi.

Sebuah kekeliruan jika ada upaya mendistorsi atau bahkan mengeliminasi kehadiran khilafah dari sisi kehidupan terlebih dari sisi nusantara. Karena nyatanya, slogan Islam Rahmatan lil Alamin, bukanlah slogan karya cipta kaum muslimin, slogan ini adalah sebuah representasi adanya dakwah dan jihad yang merupakan salah satu bagian dari ajaran Islam, dimana hasilnya adalah kebaikan dan kemaslahatan untuk seluruh umat. Maka realitas ajaran yang bertentangan dengan tauhid ditambah dengan kehadiran penjajah yang sedemikian angkuh menguasai bumi khatulistiwa meniscayakan adanya sebuah perlawanan terhadap kemungkaran. Dan hal itu dalam sejarahnya tak terlepas dari peran ulama dan penguasa (sultan) yang bersinergi dengan kekhilafahan.

Terkhusus Kalimantan Selatan, dengan wilayah geografis yang berada di tepi sungai besar, memberikan akses yang sangat luas bagi adanya kontak langsung dengan pihak luar dalam hal kegiatan perdagangan. Melalui jalur ini pula Islam masuk dan tersebar di wilayah Negara Daha dan Negara Dipa, dua kerajaan dengan ibukota di hilir Sungai Negara, yang berdiri sebelum kesultanan banjar.

Pengutusan Wali Songo juga merupakan sebuah jalan yang ditempuh dalam upaya penyebaran Islam di Kalimantan Selatan. Wali Songo sendiri merupakan para ulama yang sengaja diutus Sultan pada masa kekhilafahan Utsmani. Sunan Giri dan Sunan Bonang merupakan ulama utusan Kerajaan Islam Demak untuk melakukan dakwah di Kalimantan Selatan. Pada abad ke 15 Sunan Giri dan Sunan Bonang telah berdakwah ke Muara Bahan (sekarang dikenal sebagai Marabahan).

Berita Lainnya

Peran Pemuda dalam Arus Perubahan Bangsa

Rakyat dan Calon Pemimpin Merakyat

1 dari 167

Pengutusan Wali Songo pada dasarnya bukan hanya dalam rangka menyebarkan Islam dalam dimensi spiritual. Sejarah mengungkapkan adanya hubungan politik antara Kesultanan Demak dengan Pangeran Samudera hingga singkatnya berhasil terbentuk Kesultanan Banjar yang berhasil meruntuhkan Kerajaan Daha. Sang Pangeran yang telah masuk Islam pun diberi gelar Suyanullah atau Sultan Suriansyah. Ketika itu Islam menjadi agama resmi dan segala peraturan merujuk kepada aturan Islam. Terkenal sekali sebuah ungkapan dibaliknya Patih Baraja’an Dika, Andika Badayan Sara’ (Saya tunduk kepada perintah Tuanku, karena Tuanku berhukumkan hukum syara’)

Pondasi Islam sebagai ideologi sangat tercermin dalam proses pemerintahan yang dijalankan Kesultanan Banjar. Hal ini bisa diamati dari fakta keberadaan UU Sultan Adam yang merupakan buah peninggalan masa pemerintahan Sultan Adam al Wasik Billah. Undang-undang isi memiliki misi dalam hal mendorong ketaatan rakyat disamping juga menjadi dasar dalam memutuskan berbagai persoalan rakyat. Kekuatan Islam secara politik ini pula yang menghasilkan ulama-ulama besar dan terkenal dengan hasil karya fenomenal seperti Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari dengan kitab Sabilal Muhtadin-nya.

Ada gula, ada semut. Begitulah pepatah yang cukup pas menggambarkan fakta semakin mahsyur dan berkembangnya daerah kekuasaan Kesultanan Banjar dengan segenap potensi sumber daya alamnya menjadikan Belanda tergoda untuk masuk dalam hubungan dagang didalamnya. Tidak berhenti terlibat hubungan dagang, Belanda justru semakin rakus dengan ambisi mengambil alih dengan melakukan intervensi terhadap urusan Kesultanan Banjar hingga menyebabkan keretakan di tubuh Kesultanan. Meski sempat ditopang oleh semangat perjuangan waja sampai kaputing oleh Pengeran Antasari dengan seruan hidup untuk Allah, mati untuk Allah, sayangnya Kesultanan Banjar tak mampu bertahan, dan berujung dengan penghapusan oleh Belanda.

Tak bisa dipungkiri, memang penerapan Islam politik dalam tubuh Kesultanan Islam di Nusantara tak terlepas dengan corong Khilafah sebagai puncak kekuasaan. Inilah yang menjadi musuh kolonialisme. Meski kolonialisme telah tiada, namun saudara kembarnya berupa hegemoni tak kenal lelah berupaya mencengkeram negeri-negeri kamu muslim termasuk Indonesia. Cengkeraman yang tak akan diam menghadapi kebangkitan Islam yang sebentar lagi.

Sebuah upaya yang harus diacungi jempol ketika ada sebagian anak muda berani menghadirkan visualisasi jejak khilafah di nusantara dengan sangat apik, disaat khilafah masih saja sering didistorsikan dengan pemaknaan utopis, bertentangan dengan pancasila dan sebagainya. Sebuah kebijakan terbaru yang muncul bahkan menganjurkan guru hanya memberikan materi khilafah dalam porsi sejarah bukan ranah fiqih. Lucu memang, padahal khilafah secara tegas termaktub bahasannya dalam kitab-kitab fiqih pemerintahan. Maka baiklah, kebutuhan untuk pemberian materi khilafah dalam bentuk sejarah sudah mampu diwujudkan dalam bentuk film ini. Semoga bisa menjadi referensi bahan ajar bagi guru di sekolah 🙂

Menjadi terkungkung dalam romantisme sejarah bukanlah yang menjadi tujuan dari napak tilas jejak khilafah di nusantara. Lebih dari itu, sejarah ini menjadi bukti akan keberadaan khilafah, juga sebagai bukti kegemilangan khilafah dalam menerapkan syariatnya di tengah rakyat serta bukti nafas perjuangan melawan kezaliman dan penjajahan hadir justru dengan adanya Islam politik dengan dakwah dan jihadnya.

Menengok kondisi saat ini, antusiasme yang tinggi, hingga lebih dari ratusan ribu orang berkumpul secara online untuk menyaksikan gala premier –belum lagi yang gagal masuk dalam tautan karena berbagai kendala, ditambah riuh ramah kicauan di twitter, dan yang ditemukan secara offline di rumah-rumah, majelis-majelis, dan diskusi-diskusi, telah menggambarkan pula suntikan pemahaman yang semakin mengalirkan kemauan yang tinggi untuk mewujudkan kembali sebuah negara, dimana rakyat berlindung dibawahnya dengan aman dan sejahtera, sebuah negara dimana rakyat menemukan pemimpin adil dan menyayangi mereka, sebuah negara dimana pejuang-pejuang tangguh lahir darinya, sebagaimana Pangeran Antasari, kebanggaan masyarakat banjar. Wallahu a’lam bis shawab.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya