Tak Hanya Menjual Ketupat dan Lontong,
Kampung Ini jadi Destinasi Wisata

Dalam sehari, tak kurang 1.500 buah lontong dan 300 ketupat yang kami buat. Alhamdulilah, selalu habis terjual,” ujar pemilik usaha pembuatan ketupat dan lontong Al Amin ini.

BANJARMASIN, KP – Warga Banjarmasin tentunya sudah mengenal keberadaan Kampung Ketupat di kawasan jalan Sungai Baru, Kelurahan Sungai Baru, Kecamatan Banjarmasin Tengah. Sesuai sebutannya, di kampung ini banyak ditemui warga setempat yang berjualan ketupat dan lontong.

Terlihat jejeran ketupat-ketupat yang digantung di depan rumah, yang dijadikan kios atau lapak berjualan. Sedangkan lontong, disusun rapi dalam sebuah keranjang yang terbuat dari plastik. Setiap hari, ada saja orang yang datang untuk membeli ketupat maupun lontong.

“Biasanya, pada hari Sabtu dan Ahad banyak pembeli yang datang. Kebanyakan mereka juga para pedagang, seperti, penjual Soto, penjual Sate atau Gado-gado. Ketupat kami jual Rp 3.000 perbuah, sedangkan lontong harganya Rp 2.000 perbuah,” kata Muhammad Anwar, warga Sungai Baru, yang sudah puluhan tahun menjual ketupat dan lontong.

Belum lagi, lanjutnya, warga yang membeli untuk keperluan hajatan atau ada kegiatan acara.

“Dalam sehari, tak kurang 1.500 buah lontong dan 300 ketupat yang kami buat. Alhamdulilah, selalu habis terjual,” ujar pemilik usaha pembuatan ketupat dan lontong Al Amin ini.

Jumlah produksi akan meningkat saat menjelang lebaran. Pasalnya, banyak warga yang membeli untuk kebutuhan santapan di hari raya.

Berita Lainnya

Kopi Mantan Hadir di Banjarmasin

1 dari 483

“Penjualan akan meningkat ketika lebaran. Kami memproduksi sampai dua kali lipat dari hari-hari biasa,” ujarnya.

Untuk ketupat, Muhammad Anwar menganyam sendiri urung (bungkus) nya. Bahan bakunya dari daun nipah. Menurutnya, meski tak langsung digunakan, bungkus daun nipah masih akan tetap bagus, beda kalau ketupat yang pakai daun kelapa, akan mudah rusak kalau tak segera digunakan, selain itu, hasil ketupat yang sudah dimasak pun akan terlihat putih bersih.

“Untuk urung ketupat kami anyam dari daun nipah, ada langganan kami yang mengantar ke rumah. Biasa diantar pakai kelotok. Kalau tidak salah, daun nipahnya dari daerah Lupak. Sedangkan lontong biasa menggunakan daun pisang,” jelasnya kepada Kalimatan Post, Minggu (27/9).

Ia menceritakan, baru dua bulan belakangan ini penjualan ketupat dan lontongnya kembali normal, pasca wabah Corona mulai merebak di Banjarmasin dan berpengaruh pada omzet penjualannya.

“Alhamdulillah, penjualan berangsur-angsur mulai normal kembali. Pembeli dan langganan mulai berdatangan. Semenjak pandemi Covid-19 dan pemberlakuan PSBB beberapa waktu lalu, omzet kami turun hingga 50 persen,” tuturnya.

Muhammad Anwar berharap, Kampung Ketupat akan tetap eksis di masa-masa mendatang. Apalagi, baru-baru ini Pemerintah Kota Banjarmasin telah resmi mencanangkan Kampung Ketupat sebagai salah satu destinasi wisata baru di Banjarmasin.  

“Alhamdulillah, semoga dengan diresmikannya Kampung Ketupat sebagai salah satu potensi pariwisata daerah, bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan yang datang. Tentu, harapan kami, akan semakin menghidupkan roda perekonomian di kampung kami,” imbuhnya. (opq/K-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya