Bak Sampah Dari Drum Bekas Bisa Bertahan Lama

Banjarmasin, KP – Tak selamanya benda-benda sehabis dipakai akan menjadi barang bekas yang tidak berguna. Bila lebih kreatif, ada saja manfaat yang bisa diambil dengan mengolahnya sedemikian rupa.

Seperti drum-drum yang biasa digunakan perusahaan untuk memuat oli dan minyak atau yang lainnya. Biasanya, setelah digunakan dan dikeluarkan isinya, oleh pihak perusahaan drum-drum ini tak akan dipakai lagi.

Nah, di tangan Bunasan (60), drum bekas berbahan logam atau besi yang sudah tak terpakai ini, ia olah menjadi sebuah benda yang bernilai jual. Tepatnya, bak sampah atau tempat untuk membakar sampah. Bak sampah dari drum ini diyakini lebih kokoh dan bisa bertahan lebih lama.

Saat ditemui di lapaknya di kawasan jalan Kolonel Soegiono, Banjarmasin. Bunasan tengah sibuk mengetok-ngetok sebuah drum bekas.

“Ini sedang membetulkan bagian-bagian drum yang agak penyok. Kalau dibiarkan seadanya, pembeli kurang berminat,” katanya kepada Kalimantan Post, Rabu (25/11) pagi.

Dalam proses pengerjaannya, Bunasan hanya menggunakan alat sederhana, yakni pahat dan palu besi. Satu buah drum utuh ia potong menjadi dua bagian tepat dibagian tengahnya.

“Jadi, satu buah drum itu bisa dibuat untuk dua buah bak sampah. Biasanya, saya menggunakan drum bekas kapasitas 100 liter. Harganya saya jual Rp 100.000 jika sudah selesai. Ada juga yang langsung menggunakan satu buah drum, tapi ukurannya lebih kecil, itu saya jual Rp 75.000,” imbuhnya.

Berita Lainnya
1 dari 940

Bunasan menuturkan, ia sering mendapatkan drum bekas dari orang yang datang menjual ke tempatnya. Sebuah drum bekas ia beli antara Rp 65.000 sampai Rp 80.000.

“Tergantung kondisi drumnya, jika masih bagus, saya berani beli lebih tinggi. Kalau ada yang penyok-penyok sedikit harganya lebih murah. Yang penting, tidak keropos atau berlubang, saya tak mau beli,” beber Bunasan.

Warga jalan Prona I, Pemurus Baru, Banjarmasin Selatan ini mengungkapkan, sudah sekitar 40 tahun menjual bak sampah dari drum bekas. Kendati pembeli tak selalu ramai, Bunasan tetap bertahan dengan usahanya ini.

“Penjualannya turun naik, dalam sehari bisa laku, bisa juga tak ada pembeli. Tidak menentu lah. Bahkan, pernah juga dalam seminggu tidak ada satupun yang laku terjual,” tutur Bunasan, yang buka mulai pukul 7.30 wita sampai pukul 17.00 wita.

Pernah sekali, lanjutnya, ada orang yang membeli dalam jumlah lumayan banyak. “Dulu ada yang beli langsung 10 buah bak sampah. Jarang-jarang ada orang yang beli segitu. Perasaan saya senang sekali saat itu,” ujarnya.

Bunasan sengaja tak mengecat bak sampah dari drum bekas buatannya. Warnanya, dia biarkan seperti asal. “Kalau saya cat, takutnya dikira orang drumnya keropos atau berlubang. Lebih baik seadanya, jadi orang tau kondisi sebenarnya,” cetusnya.

Selain menjual bak sampah, Bunasan juga berprofesi sebagai penarik becak. Jika ada calon penumpang, lapaknya berjualan ditinggalkan sementara, selama ia mengantarkan penumpang.

“Meski rangkap kerjaan, tapi kondisinya sama-sama sepi. Jualan bak sampah dan tarikan penumpang, keduanya begitu-gitu saja, sepi mas. Apalagi, saat ini orang lebih memilih transportasi online. Kalau pakai ojek online kan lebih cepat, harganya juga lebih murah dibanding menggunakan becak,” tandas ayah tiga anak ini. (opq/K-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya