Menelisik Protokol Kesehatan pada Acara Ritual Pernikahan di Kalteng

Palangka Raya, KP – Meningkatnya kasus orang yang terkonfirmasi positif pandemi Covid 19 di wilayah Kalimantan Tengah yang akhir-akhir ini, adalah tidak lepas dari berbagai kegiatan masyarakat dalam berkumpul, salah satunya pada ritual pernikahan. Untuk itu perlu ditelisik prakteknya, sejauh mana  protokol kesehatan diterapkannya.

Pengakuan ritual pernikahan menjadi salah satu pemicu naik jumlah kasus Covid-19 terutama di kota Palangka Raya misalnya, seperti informasi yang disampaikan dari KetuaTim Harian Penanganan Covid-19 Kota Emi Abriyani dalam rapat evaluasi penanganan Covid 19 se Palangka Raya baru lalu. Namun juga diakui dampak libur panjang pada akhir Oktober lalu.

Demikian juga dari Ketua Persatuan Ahli  Epidemologi Indonesia Kalteng Rini Fortina mengatakan selain Kota Palangka Raya ada beberapa daerah di Kalimantan Tengah yang juga mengalami lonjakan kasus positif, diantaranya Kabupaten Kotawaringin Timur, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kabupaten  Barito Utara, Kabupaten Murung Raya dan Kabuaten Sukamara,dengan tanpa menyebut angkanya kasus tersebut.

Menurut pengamatan penulis, bahwa dari acara ritual pernikahan adalah menjadi salah satu pemicu cepatnya penyebaran virus berbahaya tersebut. Alasannya, karena dari hasil pengamatan penulis yang menghadiri beberapa kali acara ritual pernikahan, secara kasat mata penerapan protokol kesehatan yang diisyaratkan Pemerintah, memang tidak  sepenuhnya terlaksana sesuai harapan Tim Terpadu.

Surat Izin untuk pengumpulkan orang banyak terkait pernikahan sulit dibatasi, baik jumlah acaranya maupun pengunjung, pasalnya banyak acara pernikahan sejak pandemi terjadi tertunda, sehingga keluarga mengambil moment saat ini lah waktunya.

Demikian juga jumlah pengunjung atau undangan, seperti di sebuah tempat di Kelurahan Tanjung Pinang, Kecamatan Pahandut Kota Palangka Raya. Bila warga tahu ada keluarganya punya acara, tanpa diundang mereka tetap datang, mengingat mereka masih ada hubungan famili, tukasnya.
Memang…izin telah diberikan untuk mengumpul orang banyak siang hari saat acara ritual Adat, pemberkatan Nikah di Gereja. Tetapi sebelum acara itu berlangsung, pada malam harinya warga berkumpul untuk hiburan, atau hanya sekedar bertamu sanak famili yang lama tidak bersua, kan jadi acara temu kangen itu tidak ada izinnya…

Oleh sebab itu sekitar pukul 20.00 WIB malam Tim datang mengingatkan agar acara tak mengundang orang luar. Dan acara pun dengan hanya dihadiri keluarga dekat digelar selama dua jam hingga pukul 22.00 WIB saja.

Dari Pihak penyelenggara sebenarnya telah menyiapkan sarana dan prasarana prokes untuk undangan, seperti masker gratis, tempat cuci tangan dan tisu serta hand sanitizer, bahkan alat pendeteksi suhu sebelum masuk area.

Berita Lainnya
1 dari 407

Demikian pula pembawa acara yang di panggil Pa Dehen (52) mengingatkan pengunjung agar mematuhi protokol kesehatan, dan melarang undangan berjabat  tangan dengan Penganten dan orang tua mempelai. Tapi cukup dengan salam dengan melipat tangan didada nya masing-masing dengan tidak ada kontak fisyk dengan jaraknya yang telah ditentukan. Akan tetapi, saat keluarga dekat yang datang, kedua mempelai tak bisa menolak berjabat tangan langsung bahkan Cipika-ciliki, meluapkan rasa sukacita mereka.

Jangankan untuk dapat menjaga jarak, bahkan yang sering di minta pembawa acara, sulit terwujud terutama rombongan satu keluarga dan teman satu-sama lainnya, begitu pula saat jamuan makan, tamu-undangan bergerombol, bersentuhan secara tak sengaja tak terhindarkan.

Untuk penggunaan hand sanitaser yang disediakan di banyak tempat tampaknya, agak jarang dan sedikit dimanfaatkan oleh tamu-undangan, padahal justru betapa pentingnya hanya diusap, terlebih bila tak mencuci tangan.

Yang namanya protokol kesehatan, walaupun kampung di pinggir kota, pemasangan masker oleh sebagian warga tak sepenuhnya diikuti. Ada saja yang tak memasangnya, baik karena tidak ada, maupun lupa membawanya. Bagi yang terlihat tidak menggunakan masker, pihak penyelenggara memberikannya secara gratis dan meminta untuk dipakai.

Terlihat agak tertib ketika prosesi ritual Adat, dan ritual Ibadah Pemberkatan Nikah di adakan  di gedung Gereja yang memang hanya dihadiri family terdekat. 

Selain orangnya sedikit, hanya hitungan puluhan orang, jarak duduk terjaga baik, demikian pula penggunaan masker, ini karena petugas Gereja juga selalu mengingatkan agar mematuhi prokes selama prosesi di Gereja.

Lain halnya jika prosesi pernikahan muslim, ada yang sangat mematuhi protokol’ kesehatan, dengan mengkondisikan untuk tamu undangan, tidak usah bersalaman dan jamuan makan telah disediakan nasi kotak yang akan dibawa pulang, tanpa berlama- lama ditempat acara pernikahan itu.

Tapi ada juga yang sama sekali tidak mematuhi protokol kesehatan, ya memang benar tamu- undangan tidak bersalam-salam dengan kedua mempelai dan keluarganya, tapi mereka menyediakan hiburan dangdutan yang mengundang orang sehingga masih duduk atau berdiri bergerombol dan tidak menjaga jarak fisyk sama sekali, kegiatan demikian dapat memicu melonjaknya penyebaran pandemi Corona Virus-19 tersebut, sulit dihindari.

 Dilain tempat, penulis juga menemukan ada acara Pernikahan di Gedung Gereja yang taat dan patuh mengikuti protokol kesehatan, yaitu segala kegiatan dilakukan secara Virtual agar pihak keluarga dapat menyaksikannya bersamaan, kecuali Kedua Mempelai bersama orangtuanya dan Pendeta yang bertugas saja yang boleh hadir di Gedung Gereja tersebut, yaitu Pernikahan Verdy Fortius bersama Yunita, yang kebetulan dimasa pandemi ini tidak bisa leluasa hadir, namun dengan tidak mengurangi rasa syukur pihak keluarga masih dapat mengikuti prosesi Pemberkatan Nikah di Gereja secara virtual.
Dan untuk itu, para handai taulan masih dapat mengucapakan Selamat Menempuh Hidup Baru dan Selalulah Bahagia.(Yulida/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya