Dari 1.000 Orang Terpapar Radikalisme, 80 Persen adalah Generasi Muda

Banjarmasin, KP – Sebagai perpanjangan tangan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Forum Koordinasi Pencegahaan Terorisme (FKPT) Kalsel menggelar kegiatan berbagi informasi dan diskusi ringan bersama awak media.

Kegiatan yang berlangsung di salah satu cafe di Banjarmasin, Jumat (11/12) malam tersebut, dikemas dalam tajuk Literasi Informasi – Ngobrol Pintar Cara FKPT Kalsel

Diungkapkan Ketua FKPT Kalsel, Aliansyah Mahadi, bahwa terorisme adalah kejahatan yang luar biasa, dan semua pihak harus waspada terhadap paham radikalisme yang bisa menyusup kapan saja dan dimana saja.

“Artinya, tidak hanya jadi tugas pemerintah pusat, tapi semua elemen harus turut terlibat dalam penanggulangan terorisme ini. Selanjutnya, bagaimana kita semua, termasuk insan pers dalam menjaga keamanan dan kenyamanan bersama,” ujarnya kepada awak media.

Menjalin komunikasi dan berbagi informasi seperti ini, lanjutnya, harus lebih sering diadakan. Terlebih lagi, Kalsel menjadi sorotan pasca penyerangan Mapolsek Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) beberapa waktu lalu.

Dia mengakui, tidak mudah untuk mendeteksi secara pasti bagaimana radikalisme menyusup dan bisa mempengaruhi pola pikir masyarakat modern saat ini.

Bahkan, menurutnya, dengan kondisi masyarakat Kalsel yang dikenal religius dan damai, tetap saja paham radikalisme bisa merasuki

“Aksi penyerangan pada 1 Juni 2020 itu cukup menggemparkan, karena dengan kondisi Banua yang religius, aman dan damai ternyata ada juga kejadian,” tutur Aliansyah.

Berita Lainnya
1 dari 1.166

FKPT Kalsel, sambungnya lagi, terus memaksimalkan upaya pencegahan penyebaran paham radikal dengan menjalin komunikasi ke sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk bersama-sama dalam menanggulangi aksi terorisme.

“Kita membangun komunikasi di semua lini. Kita selalu sowan ke tokoh agama dan masyarakat. Kebetulan saya juga ketua Ikasba, dari 32 etnis suku itu saya selalu mengingatkan untuk menjaga persatuan, persaudaraan dan kekeluargaan. Di mana bumi dipijak di situ bumi dijunjung,” tegasnya.

Yang lebih memprihatinkan lagi, sebut Aliansyah, 80 persen yang terpapar paham radikalisme dari 1.000 orang di Indonesia adalah generasi muda, dengan rentang usia 18-20 tahun.

Oleh sebab itu, ia mengajak untuk benar-benar menjaga anak-anak dan keluarga, karena yang disasar para mentor aksi teroris ini adalah anak-anak muda melalui media sosial.

“Seperti dikatakan pelaku bom Bali, untuk meradikalisasikan para pemuda itu cukup waktu 2 jam saja, artinya begitu mudahnya anak-anak muda itu terpapar. Biasanya, itu akan mudah terjadi pada anak muda yang kurang bergaul, tertutup dan pemahaman agama yang dangkal,” imbuh Aliansyah.

Sementara, Kabid Perempuan dan Anak FKPT Kalsel, Mariatul Asiah menambahkan, jika melihat kasus di Indonesia, perempuan pun sudah banyak juga yang terpapar paham radikalisme.

“Kerentanan perempuan terpapar paham radikalisme trennya meningkat. Untuk mencegahnya, perlu melakukan penguatan literasi keagamaan,” ucapnya

Mariatul menambahkan, Agama itu punya nilai universal
untuk perdamaian. Terorisme itu hulunya adalah intoleran.
Untuk menanggulanginya, perlu sinergi semua pihak. Selain itu, penguatan ekonomi juga sangat penting.

“Karena salah satu pemicu mudahnya paham radikalisme ini masuk, adalah disebabkan faktor ekonomi,” pungkas Mariatul. (opq/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya