Pengaruh Intelegensi Terhadap Keberhasilan Belajar

Oleh : Ainun Khairiah, S.Ag, S.Pd.
Guru Kelas SDN Sungai Punggu Baru 2 Anjir Muara Batola

Ada tiga aspek yang menjadi bahan penilaian terhadap anak, IQ, sikap dan skill. Dalam ketiga hal tersebut yang paling dominan dalam menentukan kepintaran dan kecerdasan anak adalah IQ atau intelegensi yang berhubungan dengan otak. Otak adalah merupakan anugerah yang paling berharga bagi kehidupan manusia yang Allah berikan, sehingga menjadikan manusia tampil beda dengan makhluk ciptaan yang lainnya agar dalam mengaruni bahtera kehidupan dunia ini supaya lebih bermakna, maju dan berkembang sesuai dengan zaman. Sehingga manusia itu akan terangkat harkat dan martabatnya dibanding dengan makhluk ciptaan Allah yang lainnya.

Mengenai Inteligensi yang ada pada anak merupakan potensi bawaan yang sering dikaitkan dengan berhasil tidaknya anak belajar disekolah. dengan kata lain inteligensi dianggap sebagai faktor yang menentukan berhasil tidaknya anak disekolah. Pernyataan di atas memang beralasan, karena pada kasus-kasus tertentu sering ditemukan bahwa anak dengan inteligensi yang rendah, dibawah rata-rata normal, cenderung mengalami kesukaran belajar.

Karena cara berpikirnya lambat, anak pun mengalami kesukaran beradaptasi dengan teman-teman sekelasnya. Pengaruh belajar dalam arti lingkungan terhadap perkembangan inteligensi cukup besar. Hasil penelitian telah menyimpulkan bahwa bagaimana peranan belajar terhadap perkembangan inteligensi.

Jika anak kembar satu telur diasuh bersama dalam lingkungan yang sama, IQ mereka akan lebih mirip sama dibandingkan dengan apabila mereka diasuh terpisah oleh lingkungan yang berbeda. Dalam kasus ini tidak terhadap hubungan genetik tetapi hasilnya menunjukkan bahwa kesamaan IQ adalah karena kesamaan pengalaman belajar dari ligkungan. Juga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kualitas lingkungan rumah, cenderung semakin tinggi juga IQ anak.

Ada tiga unsur penting dalam keluarga yang amat berpengaruh terhadap perkembangan inteligensi anak yang ditemukan, yaitu :

1. Jumlah buku, majalah dan materi belajar lainnya yang terdapat dalam lingkungan keluarga;

2. Jumlah ganjaran dan pengakuan yang diterima anak dari orang tua atas prestasi akdemiknya;

3. Harapan orang tua akan prestasi akademik anaknya. Masalah ketakutan dan kegagalan juga menjadi penyebab kapasitas intelektual tidak sepenuhnya dapat bekerja. Tetapi menurut hasil observasi Haditono bahwa masalah underachiever di Indonesia disebabkan oleh suatu kombinasi banyak faktor.

Faktor pertama adalah kurangnya fasilitas belajar dalam arti luas di sekolah-sekolah, terutama di pelosok-pelosok maupun di rumah. Faktor yang kedua adalah kurangnya stimulus mental oleh orang tua di rumah. Hal ini terutama berlaku bagi para orang yang tidak berpendidikan hingga mereka tidak mengerti sendiri bagaimana membantu anak-anak mereka supaya lebih berhasil.

Berita Lainnya
1 dari 292

Faktor yang ketiga, adalah keadaan gizi yang bilamana dapat dicapai tingkat yang lebih tinggi, maka secara fisik anak lebih mampu untuk menggunakan kapasitas otaknya secara lebih baik. Yang menarik dalaam permasalahan inteligensi ini adalah bagaimana peranan orang tua dalam mengembangkan taraf inteligensi anak, sehingga berdampak positif bagi keberhasilan belajar anak di sekolah kelak.

Menurut Prabu, ada dua faktor yang sangat penting yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam mengembangkan taraf inteligensi anak, yaitu : pertama, faktor sebelum kelahiran dan kedua, faktor setelah kelahiran. Dalam masa pra-natal, peranan orang tua terutama ibu pada saat, mengandung sangatlah penting untuk memperhatikan faktor pengaturan makanan, menjaga kesehatan dan ketenangan batin. Sedangkan dalam masa post-natal faktor-faktor yang sangat penting diperhatikan orang tua dalam membantu perkembangan taraf inteligensi setelah anak dilahirkan adalah menanamkan jiwa kasih sayang, menjaga kesehatn anak, dan mengembangkan kreativitas anak, yaitu kreativitas bermain, kreativitas berbicara dan kreativitas berpikir.

Tampak jelas dari uraian diatas bahwa inteligensi merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan keberhasilan dalam belajar. Sebagian orang bahkan menganggap bahwa hasil tes inteligensi yang tinggi merupakan jaminan ke suksesan dalam belajar. Dengan seiring berjalan waktu dituntut pula guru sebagai seorang pengajar, salah satu tugas serta kewajiban yang harus dipenuhinya adalah dapat membantu mempengaruhi kemampuan intelektual siswa agar dapat berfungsi secara optimal dan mencoba untuk melengkapi program pengajaran yang ditunjukkan bagi mereka yang lambat dalam belajar.

Adapun faktor-faktor yang menghambat dalam belajar, antara lain, sosial ekonomi, kemiskinan, lingkungan yang kumuh, gizi dan kesehatan. Dalam kondisi seperti itu ada dua kemungkinan, yakni :

1. Anak-anak tersebut tidak berminat belajar atau bersekolah dan tidak tersedia waktu untuk bersekolah karena membantu pekerjaan orang tuanya;

2. Terjadi reaksi sebaliknya, yaitu karena kemiskinannya maka tumbuh motivasi yang tinggi untuk belajar agar masa depannya menjadi lebih baik, tidak seperti nasib orang tuanya. Kemungkinan pertama, anak-anak tersebut terus terlibat dalam garis kemiskinan berulang sebagai lingkaran setan yang tak ada ujung pangkalnya dan tak berakhir.

Kemungkinann yang kedua, anak-anak tersebut berusaha belajar sebaik mungkin agar berhasil dengan memuaskan. Kedua kelompok ini berada dalam kondisi psikologis yang berbeda, namun perlu mendapat perhatian. Masalah status sosial-ekonomis dalam belajar sering ditemukan dalam berbagai dekade di mana tampak adanya pendiskriminasian antara individu yang memiliki strata lebih tinggi dibandingkan individu lainnya.

Bahkan sekarang ini telah maraknya kasus-kasus yang beredar yang sering kita dengar dengan kapitalisme pendidikan. Di mana orang yang memiliki kedudukan tinggi mampu memperoleh pendidikan yang tinggi pula namun tidak sebaliknya kepada mereka yang seharusnya mereka lah yang dibantu dengan semaksimalnya agar pendidikan mereka terjamin.

Di sisi lain, tidak semua penyebab gagalnya belajar pada individu dikarenakan status ekonomis yang berbeda namun juga pada kemampuan dan hasrat yang keras dalam belajar yang dimiliki oleh setiap individu. Misalnya anak orang kaya belum tentu mereka dalam setiap waktu tidakpernah mengalami kegagalan dalam belajar, di mana banyak motif yang dapat dijadikan alasan sebagai penguat dari argumen ini.

Bisa saja si anak merasa tidak dihiraukan dalam keluarga ia hanya duduk manis dan menerima pelajaran di sekolah dan ketika pulang bermain games yang sekarang ini sesuai dengan perkembangan zaman teknologi semakin canggih sehingga tak jarang membuat penggunanya keliru dalam penggunaannya. Bisa jadi pula orang tua si anak terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing atau dalam masa perceraian sehingga anak menjadikan sekolah sebagai tempat pelampiasannya, berteman dengan teman yang salah, kenal dengan obat-obatan dan sering pula si anak merasa frustasi karenanya.

Jadi, tidak menutup kemungkinan anak orang miskin dan kaya sekalipun pernah mengalami kegagalan dalam belajar. Hal ini intinya ialah tergantung pada niat si anak apabila ia berusaha dengan sekuat tenaga, sungguh-sungguh dalam belajar pastilah dapat meraih keberhasilan tidak memandang kaya atau miskin. Karena itu perlu adanya dukungan dari semua pihak baik motivasi dari dirinya sendiri ataupun dari lingkungan keluarga dan masyarakat di sekitarnya

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya