Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Banjarmasin, KP – Bertahan di tengah pandemi Covid-19 bukanlah hal yang mudah, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Kota Banjarmasin, yang mengalami penurunan penjualan, seperti halnya Warung Wijaya.

Warung yang terletak di Jalan Bali ini tetap bertahan dengan menu andalannya, yakni ayam geprek dan ayam lalapan, walaupun tetap menyediakan pilihan lain, berupa ikan nila goreng, yang bisa jadi lalapan atau di geprek.

Pemilik Warung Wajaya, Yulianto mengakui, penurunan omzet penjualan terjadi sejak pandemi Covid-19 berlangsung, terutama anak sekolah yang tidak lagi hadir di sekolah.

“Ini cukup terasa, karena pembeli umumnya didominasi anak sekolah, namun sekarang tidak lagi, mengingat sekolah diliburkan dalam setahun terakhir,” jelas Yulianto.

Hal ini dikarenakan Jalan Bali ini sangat berdekatan dengan komplek sekolah yang berada di Jalan Batu Benawa, sehingga anak sekolah seringkali membeli makanan yang harganya terjangkau sebesar Rp10 ribu per porsi.

“Setahun terakhir tidak ada lagi pembeli dari anak sekolah, karena mereka diliburkan,” tambahnya didampingi istrinya, Raudah.

Berita Lainnya
1 dari 795

Kendati demikian, ayah dua anak ini tetap optimis mampu bertahan, walaupun omzet mengalami penurunan, mengingat pangsa pasar lain masih terbuka, yakni kalangan pekerja yang menginginkan makanan dengan harga terjangkau.

“Tidak ada anak sekolah, namun kini para pekerja melirik menu terjangkau, sehingga penjualan meningkat, walaupun tidak sama seperti sebelum pandemi,” ujar Yulianto, yang kini sudah buka sejak pukul 11.00 Wita.

Selain itu, pembelian kini lebih didominasi bungkus, dibandingkan makan di warung. Bahkan seringkali pembelian dilakukan dalam jumlah besar untuk pekerja kantoran.

“Ini cukup membantu dalam pemasaran, bahkan meningkatkan penjualan,” jelas pria yang tinggal di kawasan Sungai Andai.

Untuk menarik minat pembeli, Warung Wijaya menuliskan harga menu yang disediakan di depan warung, sehingga memudahkan pembeli mengetahui harga makanan di sana. “Cukup menarik pembeli untuk singgah, karena yang dilirik sekarang adalah makanan dengan harga Rp10 ribu per porsi,” ujar Yulianto.

Diakui, jika sebelum pandemi bisa menjual sekitar 25 ekor ayam lebih atau 250 porsi per hari, namun ini berkurang menjadi 20 ekor atau 200 porsi tergantung kondisi. “Disini lebih didominasi bagi kalangan pekerja, sehingga penjualan hanya ramai pada Senin-Jumat,” ungkapnya. (lyn/K-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya