Kesabangpol Ajak Waspadai Penyebaran Paham Radikal Lewat Medsos, Sasar Generasi Muda


Banjarmasin, KP – Belakangan ini penyebaran paham radikal tak hanya dilakukan secara tatap muka, dan melalui kelompok yang berkedok agama, walaupun radikalisme begitu pula terorisme rentan sekali terpapar melalui sosial media yang sering digandrungi oleh generasi muda.
Kepala Kesbangpol Kalsel Drs H Heriansyah mengatakan hal tersebut pada acara yang dihelat Forum Koordinasi Pencegahan Teroris,me (FKPT) Kalsel dengan Thema Indonesia Tangguh’ Peran Pemuda Dalam Manjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa, di Hotel Rodhita Banjarmasin, Jumat (18/06/2021).
Bahkan dalam sarasehan yang digelar Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Selatan yang diketuai oleh Aliansyah Mahadi, mantan Camat Banjarmasin Utara ini juga menyebutkan bahwa media sosial saat ini masih menjadi sarana yang paling efektif dalam menghasut generasi muda agar terpapar paham radikal.
Apalagi paham radikalisme ini disebutnya akan cepat terserap oleh generasi muda yang berusia 18 hingga 20 tahun yang masih mencari jati diri, hingga mudah terdoktrin melakukan aksi-aksi radikalisme.
“Tentunya kami berharap, kita sama-sama dapat membangun komunikasi. Khususnya, kita lebih bijaksana dalam bermedia sosial. Kita juga saling mengingatkan bagaimana bersosial media yang baik dan benar,” ujar Mantan Biro Humas Propinsi Kalsel.
Untuk itu, Ketua FKPT Kalimantan Selatan, Aliansyah Mahadi meminta peran pemerintah dan seluruh elemen masyarakat, termasuk orang tua sangat diperlukan dalam memberikan edukasi. Hal ini bertujuan agar paham radikalisme bisa terdeteksi secara dini.
Sebab, jika mengacu pada data nasional dari setiap 1000 warga di Indonesia, hampir 80% diantaranya terpapar paham radikal. Menurut data nasional dari setiap 1.000 warga Indonesia, hampir 80 persen di antaranya telah terpapar paham radikal.
Dikatakan, jika banyaknya kaum muda yang terpapar oleh paham radikal dapat dilihat dari sejumlah penangkapan dan pelaku terorisme. Di mana sebagian besar dari mereka masih berusia belia.
Pada umumnya para mentor aksi radikal tersebut memang menyasar kaum muda baik dengan cara melalui media sosial atau hal lain, katanya.
Bahkan berdasarkan pengakuan beberapa pelaku yang bertugas merekrut dan mementori para pelaku bom bunuh diri, Aliansyah menyebutkan, kaum muda lebih mudah untuk didoktrin melakukan aksi-aksi radikalisme.
“Kemudian yang mereka sasar itu anak muda yang galau, yang tertutup atau kurang pergaulan dan mereka yang kurang memiliki pengetahuan tentang agama,” ujarnya lagi.
Sebagai langkah kongkrit dan nyata guna memerangi paham-paham tersebut di Kalimantan Selatan, Aliansyah mengungkapkan, jika pihaknya telah melakukan roadshow ke sejumlah daerah dan pesantren guna merangkul tokoh agama dan masyarakat untuk selalu mewaspadai radikalisme.
“Kita minta kepada para ulama untuk memasukan materi-materi deradikalisasi yang mencerahkan seperti pemahaman tentang jihad dalam setiap majelis atau pengajian mereka,” tukasnya.(vin/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya