Pencegahan Terorisme Sudah Jadi Fardu Kifayah di Masyarakat

Banjarmasin, KP – Tingginya rasa ingin tahu dan masih mencari jati diri sehingga membuat lingkungan kampus rentan dimanfaatkan pihak tertentu dalam penyebaran paham menyimpang.

Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Dr. Andi Ichsan Mahardika menjelaskan, kondisi tersebut menjadikan lingkungan perguruan tinggi dan mahasiswa dinilai sangat rawan dimasuki paham radikal yang mengarah pada terorisme.

Ia menilai, untuk menyikapi kondisi tersebut, selain peran pemerintah dan aparat keamanan, ia juga mendorong adanya partisipasi mahasiswa.

“Secara umum, kita semua harus ambil ambil bagian, karena menjaga ketertiban juga termasuk fardu kifayah. Untuk itu mencegah tentunya lebih baik,” ungkapnya saat menjadi pemateri dalam Seminar Pencegahan Penyebaran Paham Radikal yang Mengarah pada Terorisme, di General Building Kampus ULM Banjarmasin, Sabtu (28/08) kemarin.

Peran mahasiswa menurut Dr. Andi, konkretnya adalah selalu berpikiran positif dan mengisi waktu dengan berkarya.

“Berkarya jangan ke arah merusak, namun berkaryalah ke arah yang lebih baik, seperti contohnya di lingkungan kampus dapat mengikuti lomba karya ilmiah dan lainnya,” bebernya.

Selain itu, Dr. Andi juga menegaskan, bahwa mahasiswa sepatutnya memiliki rasa toleransi yang tinggi, apalagi Indonesia memiliki banyak kultur yang menjadi pembeda, baik dari sisi agama, budaya, hingga ras.

“Kita harus memahami itu, karena dalam kehidupan bermajemuk, kita sepatutnya menjunjung tinggi nilai toleransi,” tukasnya.

Dr. Andi melanjutkan, penting pula pendidikan kewarganegaraan yang harus selalu diperkuat, pemahaman agama yang benar, terlebih Islam yang cinta kedamaian.

“Generasi muda yang saat ini hidup di tengah teknologi dan media sosial yang maju, harus benar-benar memahami literasi digital, dengan menyaring mana benar dan salah, dan jangan langsung menyebarkan informasi yang belum tahu kebenarannya,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan H. Muhammad Tambrin menambahkan, penting pula mahasiswa memilih dan memilah hingga memastikan majelis ilmu yang ingin diikutinya dan narasumbernya yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

“Kami Kementerian Agama dan Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan berupaya mengawal bersama, agar setiap narasumber atau ustadz yang mengajar di majelis punya kapasitas dan kapabilitas, dan nilai kealimannya dapat dipertanggungjawabkan,” tuturnya di tempat yang sama.

Selain itu disampaikannya, dalam pandangan agama, terlebih Islam yang menolak kekerasan dan mencintai perdamaian, juga dimiliki agama lain yang tidak mengajarkan kekerasan dan kerusakan. (Zak/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya