Pengunjung Dibubarkan, PKL Siring : Bagaimana Kami Cari Uang, Apa Disuruh Makan Batu?

Banjarmasin, KP – Pedagang Kaki Lima (PKL) yang setiap akhir pekan menggelar lapak dagangannya di wisata Siring Piere Tendean hanya bisa gigit jari ketika puluhan anggota Satpol PP Kota Banjarmasin datang ke lokasi tersebut.

Pasalnya ratusan pengunjung yang awalnya memadati kawasan wisata andalan Kota Banjarmasin itu terpaksa dibubarkan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Banjarmasin, Minggu (1/8) pagi.

Alhasil, pengunjung yang merupakan pelanggan para PKL pun pelan-pelan meninggalkan kawasan wisata yang dikenal dengan suasana khas tepian Sungai Martapura itu.

Tak sedikit pedagang yang melontarkan rasa kecewanya kepada Pemerintah berupa kata-kata sindiran.

“Naah, mantap kami disuruh makan batu kalau begini caranya,” cetusnya kecewa sambil merapikan barang dagangannya.

Tak sampai di situ, rasa kecewa juga diungkapkan Satumah, pedagang soto banjar di kawasan siring tendean itu mengaku pasrah karena dagangannya yang sudah disiapkan dengan modal yang tidak sedikit tidak bisa terjual habis.

“Yaa mau bagaimana lagi, pengunjung di sini (Siring) semuanya disuruh bubar, kami tidak bisa jualan,” ungkap wanita berusia 47 tahun itu dengan nada kecewa.

Bukan tanpa alasan. Ungkapan kecewa yang ia keluarkan tersebut lantaran kondisi perekonomian yang ia jalani sekarang sudah tidak lagi seperti kondisi sebelum pandemi masuk ke Banjarmasin.

“Jualan susah, suami sudah gak kerja lagi, anak saya banyak, ditambah utang kami banyak, apalagi kami terpaksa ngutang ke rentenir untuk menghidupi keluarga,” imbuhnya dengan mata berkaca-kaca.

Berita Lainnya
1 dari 3.548

Kendati demikian, ia mengaku memang terdaftar sebagai warga yang menerima bantuan dari Pemerintah. Namun jumlah bantuan tersebut masih belum bisa menutupi keperluan keluarga.

“Rp 600 ribu untuk dua bulan, masih belum cukup. Untuk modal jualan ini saja kami harus ngutang dulu,” tandas ibu enam anak ini.

Selain Satumah, kekecewaan juga diutarakan oleh Heri, pedagang ikan hias di kawasan Siring Pasar Terapung itu juga terpaksa kembali merapikan botol yang berisi ikan cupang dagangannya.

Ia hanya bisa duduk termenung sambil mengeluarkan curahan hatinya kepada pedagang lainnya di tepi ruas Jalan Piere Tendean, Banjarmasin.

“Saya jualan seminggu sekali saja, jualan pun di pinggir jalan. Tidak di atas badan siring. Namun petugas juga menyuruh tutup,” imbuhnya.

Senada dengan Satumah, pria berusia 31 tahun ini mengaku berjualan yang mengejar lokasi keramaian yang ia lakukan sekarang ini terpaksa dilakukan untuk menghidupi keluarga lecilnya.

“Kalau tidak seperti ini siapa yang memberi anak dan istri makan. Bayar hutang ke bank, bayar setoran rumah, bayar pajak, siapa yang membantu? Pemerintah tidak akan membantu membayar itu semua,” tukasnya

“Sudah lebih satu tahun setengah kondisi perekonomian kita sedang sakit. Jadi mau tidak mau saya jualan di sini (siring),” pungkasnya.

Sementara itu, dikonfirmasi terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Kasatpol PP dan Damkar Kota Banjarmasin, Ahmad Muzaiyin menjelaskan, pembubaran pengunjung siring pagi tadi dilakukan guna menegakkan peraturan yang sudah tertuang dalam Surat Edaran yang ditandatangani Wali Kota Banjarmasin pada 26 Juli 2021 lalu tentang PPKM Level IV.

“Kita menjalankan SE Wali Kota terkait PPKM Level IV yang mewajibkan penutupan Siring Piere Tendean dan tempat wisata lainnya,” jelasnya.

Dalam menjalankan hal tersebut. Pihaknya mengaku menggunakan cara humanis yang bersifat mengedukasi warga pengunjung agar mematuhi SE Wali Kota untuk menghindari resiko terjadinya penularan virus Corona.

“Alhamdulillah pedagang dan pengunjung mau menerima dan memahami kondisi tersebut,” tuntas pria yang saat ini masih menjabat sebagai Camat di Kecamatan Banjarmasin Timur itu. (Zak/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya