Terdisrupsi Era Digital, Jualan Koran Bekas Lebih Untung

Banjarmasin, KP – Kemajuan zaman tak bisa dibendung. Sebelum era digital, bisnis surat kabar berada di masa keemasan. Namun, saat ini perlahan mulai terdesak oleh bermunculannya media-media online.

Bahkan, sejumlah agen koran terpaksa tutup. Ada pula yang putar haluan, jualan koran bekas ketimbang koran baru. Salah satunya Muncul Agency, milik H Abdul Syukur.

Dulu, Muncul Agency merupakan agen koran dan majalah besar dan paling tua di Banjarmasin. Usaha ini didirikan H Syukur, begitu ia biasa disapa, sekitar tahun 70an, di Gang Penatu, Jalan Pangeran Samudera, Banjarmasin Tengah.

Saat ditemui, di tempat usaha sekaligus tempat tinggalnya, terlihat banyak tumpukan koran bekas dari berbagai media cetak. Tidak hanya media yang ada di Kalsel tapi juga ada dari Kalteng.

Ia menceritakan, bisinis koran ini sudah digelutinya selama 40 tahun lebih. Sejumlah perusahaan media besar memercayai dan menyuplai koran dan majalah kepadanya untuk dipasarkan.

“Ada koran Kompas, Jawapos, Majalah Tempo, majalah Bobo, Tabloid Nova, Tabloid Bola dan masih banyak lagi yang lainnya,” ujar kakek lima buyut ini, kemarin.

Mulai tahun 1980an usahanya maju pesat hingga tahun 2000an. Tak hanya membagi koran ke kantor-kantor pemerintahan, tapi juga menyuplai ke lapak-lapak dan loper koran.

Saking banyaknya pelanggan kala itu, H Syukur harus dibantu oleh anak-anaknya, hingga merekrut sejumlah karyawan untuk mempermudah pekerjaannya.

Namun seiring perkembangan teknologi, lambat laun era disrupsi makin berperan. Masyarakat mulai mengubah aktivitas dari dunia nyata ke dunia maya, yang akhirnya berdampak sangat besar kepada industri media cetak.

Berita Lainnya
1 dari 937

Kebiasaan masyarakat dalam mencari informasi pun mulai bergeser. Jika dulu mencari berita di media cetak, kini rata-rata beralih ke media online.

Kondisi itu dirasakan H Syukur. Perlahan tapi pasti, pelanggannya mulai berkurang. Seiring banyaknya media cetak yang berhenti beroperasi.

“Dalam tiga tahun terakhir ini sangat terasa, apalagi masa pandemi. Penjualan koran baru terus turun. Peminatnya kebanyakan hanya kantor-kantor saja,” tuturnya.

Puluhan tahun lalu, kenang H Syukur, ia mampu menjual koran lokal dan koran nasional belasan ribu eksemplar per harinya. Semakin banyak koran terjual, tentu makin banyak persenan yang didapat.

“Waktu itu, omzetnya bisa sampai Rp 3 juta per hari, sekarang jauh menurun drastis. Paling dalam sehari sisa Rp 250 ribu saja lagi,” imbuhnya.

Untuk saat ini, kata H Syukur, usaha koran dan majalah yang baru kurang menguntungkan. Justru lebih menghasilkan koran bekas.

Menurutnya, koran baru dijual per eksemplarnya dikisaran Rp 2 ribu sampai Rp 3 ribu, tapi perputarannya lambat. Bahkan, bisa tidak laku. Namun, untungnya tidak langsung bayar atau sistem konsinyasi. Sehingga masih bisa dikembalikan jika tidak laku.

“Kalau koran bekas dulunya Rp 2 ribu per kilo, sekarang sudah Rp 10 ribu. Setiap hari ada saja yang membeli koran bekas. Pembelinya paling banyak pedagang makanan. Omzetnya lumayan, satu bulan bisa sampai Rp 7,5 juta,” bebernya.

H Syukur menambahkan, ia memperoleh koran-koran bekas dari pengepul langgganannya. “Makanya, koran bekas yang dijual ini tidak hanya dari media cetak lokal saja, tapi juga ada dari Kalteng,” tuntasnya. (opq/K-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya