Oleh : Nor Hasanah, S.Ag, M.I.Kom.
Pustakawati UIN Antasari Banjarmasin
Di era pandemi Covid-19 pemerintah Indonesia masih terus melanjutkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 2-4 termasuk di beberapa kabupaten/kota di Kalimantan Selatan. Kebijakan ini dilakukan perpanjangan lagi selama 14 hari, yakni 5-18 Oktober 2021. Adanya pengetatan PPKM ini adalah sebagai bentuk reaksi terhadap melonjaknya angka positif Covid-19 yang terjadi di Indonesia. Upaya tersebut dilakukan untuk memutus penyebaran virus Covid-19 yang dapat menyebar dengan sangat cepat.
Adanya pemberlakukan PPKM ini tentunya sangat berpengaruh terhadap semua layanan publik termasuk juga layanan informasi yang diberikan oleh perpustakaan. Merespon kebijakan pemerintah tersebut, banyak perpustakaan yang menutup layanan secara dan beralih kepada layanan online. Kebijakan ini dipilih karena perpustakaan sebagai penyedia layanan masyarakat yang memiliki potensi untuk terjadinya kerumunan sehingga dapat memicu penyebaran virus Covid-19.
Perpustakaan berperan penting dalam menyediakan informasi dan ilmu pengetahuan bagi siapapun yang membutuhkan. Tentu saja, peran pustakawan tentunya tidak kalah penting. Banyak yang telah merasakan manfaat dari peran pustakawan, terutama pemustaka yang membutuhkan bimbingan terkait penelusuran informasi untuk penelitian, skripsi, tesis dan semacamnya. Untuk itu sangat diperlukan Pustakawan Pemberi Pelayanan Kepada Masyarakat (PPKM).
Layanan Online, Solusi Alternatif
Dalam ilmu perpustakaan, istilah layanan online atau online services diartikan sebagai intruksi perpustakaan online (online library instruction), yaitu suatu keterampilan individu yang disampaikan melalui internet, disajikan dengan konten yang bervariasi sesuai dengan kemampuan teknis peserta. Setiap jenis perpustakaan, seperti Perpustakaan Umum, Perpustakaan Khusus, Perpustakaan Perguruan Tinggi, dan Perpustakaan Sekolah, hendaknya memiliki online library instruction. Online library instruction merupakan suatu pendekatan baru dalam pendidikan perpustakaan yang berbasis teknologi. Penerapan layanan online di perpustakaan juga perlu memperhatikan metode dan cara interaksi dengan pengguna jasa agar dapat berhasil.
Ketika masa PPKM ini tentunya menjadi tantangan kepada pustakawan untuk terus memberikan layanan yang prima kepada pemustaka, walaupun mereka tidak bisa datang langsung ke perpustakaan. Namun, pemustaka masih dapat mengakses layanan-layanan yang disediakan secara online oleh perpustakaan melalui layanan secara online seperti iKalsel, iPusnas, Indonesia OneSearch, dan e-Resources bisa menjadi sebuah solusi alternatif penyediaan layanan bagi pemustaka. Layanan tersebut tentunya dapat diakses 24 jam oleh pemustaka, sehingga pemustaka dapat tetap memanfaatkan koleksi yang dimiliki oleh setiap perpustakaan secara online dari mana saja.
Selain itu juga pemustaka tetap dapat berinteraksi dengan pustakawan yang ada di perpustakaan lewat penyediaan fitur Tanya Pustakawan, fitur ini bisa diakses lewat portal seperti yang tersedia di web perpusnas.go.id dan pemustaka dapat meminta bantuan penelusuran dan informasi langsung dengan pustakawan Perpusnas via livechat.
Dalam proses pinjam kembali koleksi, jika pemustaka yang telah melakukan peminjaman koleksi cetak dan ingin mengembalikan koleksinya, pengembalian tetap bisa dilakukan lewat Anjungan Pengembalian Mandiri (APM) atau bookdrop yang harus disediakan oleh setiap perpustakaan sebagai salah satu bentuk fasilitas kemudahan layanan pengembalian koleksi di perpustakaan.
Adaptasi Layanan
Di era PPKM saat ini semua layanan harus selalu menghendaki secara online dan pustakawan sebagai aktor penggerak perpustakaan harus cepat beradaptasi dengan teknologi berbasis digital termasuk di dalamnya memanfaatkan berbagai aplikasi digital. Adanya perpustakaan bisa menjadi jalan keluar karena menawarkan bermacam aplikasi digital yang bisa dimanfaatkan siapa pun, termasuk akademisi, untuk mencari informasi yang akurat.
Dahulu, perpustakaan hanya dikenal sebagai deretan buku berdebu dan pustakawan bertugas menjaga mengelola buku. Paradigma kemudian berubah sehingga di era saat ini perpustakaan dan pustakawan dibantu kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), berperan mentransformasi pengetahuan. Artinya, kandungan informasi dan pengetahuan akan bermanfaat besar jika didistribusikan kepada masyarakat.
Perpustakaan dan pustakawan harus mau beradaptasi dengan perubahan yang ada akibat pandemi agar tetap bisa survive. Perubahan layanan dengan melakukan inovasi agar pemustaka bisa mengakses informasi yang ada di perpustakaan. Diseminasi informasi harus sering dilakukan pustakawan. Jangan lagi hanya bergelut dengan buku-buku tetapi bagaimana kandungan buku yang dibaca lalu dibuat konten ke dalam media sosial menggunakan perangkat digital yang dikuasai. Dunia memerlukan pustakawan yang memiliki wawasan yang luas, tanggap dan sanggup memberikan informasi dengan cepat.
Profesi pustakawan adalah profesi yang istimewa karena mempunyai akses sumber pengetahuan yang akurat. Jadikan ini sebagai keunggulan kompetensi. Hal ini penting untuk mengantisipasi hoaks yang marak terjadi selama pandemic.
Bangkit dari pandemi melalui literasi merupakan bentuk kampanye yang digalakkan pemerintah saat ini. Dan perpustakaan menjadi bagian di dalamnya. Penguatan literasi tidak hanya berfokus pada kampanye gemar membaca fisik saja tapi semua channel atau media yang ada. Baik ebook hingga media digital termasuk di dalamnya Youtube dan Podcast. Situasi pandemi sekarang ini harus membuat pustkawan lebih kreatif dan inovatif dalam mengkampanyekan literasi.
Kini literasi bukan hanya sekedar urusan membaca dan menulis, tetapi lebih dari itu adalah kepada kemampuan untuk memperoleh, memanfaatkan ilmu yang didapat guna meraih kesuksesan hidup yang sumbernya adalah melalui perpustakaan. Perpustakaan pun sekarang juga telah bertransformasi bukan sekedar tempat baca dan penyedia koleksi buku cetak, tetapi perpustakaan lebih berbasis inklusi sosial sebagai pusat budaya, pusat kebudayaan dan pusat kegiatan masyarakat.. Parameter pembangunan perpustakaan di Indonesia kini mencakup kemerataan layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial, pustakawan atau tenaga perpustakaan yang terampil, kreatif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat, tranformasi perpustakaan berbasis koleksi dan program untuk masyarakat, serta komitmen juga dukungan stakeholder untuk transformasi perpustakaan yang berkelanjutan guna mewujudkan masyarakat yang sejahtera dengan literasi.













