‘Keajaiban’ Sawit di Antara Stigma Negatif

 

Banjarmasin, KP – Sebanyak 40 media cetak, elektronik dan online di Kalimantan mengikuti BPDPKS Journalist Fellowship & Training Batch II Wilayah Kalimantan 2021 (Press Tour & Pembekalan Materi) yang digelar mulai 11 – 12 November 2021, secara luring dan daring.

BPDPKS sendiri merupakan Badan Layanan Umum (BLU) di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang bertugas mengelola dana perkebunan kelapa sawit untuk menjaga keberlangsungan industri kelapa sawit sebagai komoditas strategis nasional Indonesia.

Pada hari pertama, Kamis (11/11), para jurnalis diajak langsung ke lokasi perkebunan dan pabrik pengolahan kelapa sawit yang menghasilkan 2 produk utama, yakni Crude Palm Oil (CPO) dan Kernel (Inti Sawit) milik PT Citra Putra Kebun Asri (CPKA) Jorong Factory yang terletak di Kecamatan Jorong, Kabupaten Tanah Laut.

Diungkapkan Anwar Sadat, perwakilan Divisi Perusahaan BPDPKS, didampingi Helmi Muhansyah, Kepala Divisi UMKM BPDPKS, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengalaman kepada para jurnalis tentang pengolahan perkebunan kelapa sawit yang sustainable atau berkelanjutan dengan sekian banyak manfaat.

“Selain itu juga, untuk melihat langsung fakta-fakta objektif tentang kelapa sawit. Karena selama ini, masih ada gap atau isu negatif di antara informasi yang beredar di masyarakat, bahwa perkebunan dan industri kelapa sawit banyak menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan,” ujar Anwar.

Manager Kebun PT Citra Putra Kebun Asri, Eko Priyanto, berharap dengan adanya pemberitaan di media massa berdasarkan fakta di lapangan, akan mengungkap informasi yang sebenarnya tentang perkebunan dan industri kelapa sawit yang berkelanjutan.

Eko menyebut, isu atau stigma negatif yang dihembuskan oleh pihak-pihak yang menolak keberadaan sawit agar minyak nabati ini tidak lagi digunakan merupakan black campaign dalam persaingan bisnis. Mengingat, Indonesia sebagai negara penghasil dan pengekspor sawit terbesar di dunia, serta sektor sawit menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Padahal, katanya lagi, sawit sangat jauh lebih produktif jika dibandingkan dengan komoditi minyak nabati lain, seperti bunga matahari atau kedelai yang diperkirakan hanya menghasilkan 1 ton perhektare pertahunnya. Apalagi, dibutuhkan luas areal 7 kali lipat dibandingkan dengan luas sawit, apabila sama-sama ingin mendapatkan hasil yang sama. Tentu saja, sawit menjadi lebih efektif dan efisien.

“Dengan energi fosil yang mulai menipis, otomatis penggantinya adalah minyak nabati yang dihasilkan dari kelapa sawit. Dia memiliki nilai produktivitas yang tinggi, mencapai 6 sampai 7 ton perhektare CPO pertahun,” ungkapnya, saat mendampingi peserta jurnalis yang mengikuti press tour.

Belum lagi, tambahnya, industri perkebunan sawit ini membuka lebih banyak lapangan pekerjaan dibanding sektor lainnya, seperti pertambangan.

Berita Lainnya

Enam Pertashop Beroperasi di Tapin

1 dari 1.047

“Menurut saya, serapan tenaga kerja juga lebih banyak di sektor sawit dibanding dengan tambang batu bara. Sawit ini kan padat karya. Artinya, pekerjaan kami itu banyak, dari hulu sampai ke hilir, mulai dari panen, diangkut hingga diolah di pabrik,” bebernya.

Ia merinci, mulai angkutan yang disupport oleh armada truk dan memerlukan banyak sopir, mekanik dan helper. Belum lagi saat panen, dari pekerja yang memanen, pemetik berondol, tenaga pupuk dan perawatan sampai tenaga angkut.

“Hingga proses di pabrik dibutuhkan karyawan yang tidak sedikit. Di tempat kita ini, dengan luas areal sekitar 3.000 hektare plasma inti dan produksi pabrik 45 ton CPO perjam, itu hampir menyerap sekitar 600 sampai 800 pekerja,” ucap Eko.

Dari luasan area itu, PT CPKA dapat menghasilkan sekitar 19 ton Tandan Buah Segar (TBS) perhektare pertahun. Sedangkan, untuk CPO yang dihasilkan rerata 2.000 sampai 4.000 perbulan, tergantung sawit yang masuk.

Selain itu, PT CPKA juga selalu berupaya mengakomodir para petani, khususnya di Kabupaten Tanah Laut agar lebih banyak berpartisipasi dan berkontribusi dalam industri sawit untuk menggerakkan perekonomian petani.

“TBS dari inti plasma komposisinya 30 persen, sedangkan dari pihak petani atau eksternal mencapai 70 persen. Jadi, justru lebih banyak dari petani. Seandainya dibatasi atau dibalik komposisinya, petani hanya 30 persen, kasihan para petani mau menjual kemana?,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Manajer Pabrik PT CPKA, Achmad Nashor, menambahkan, di perkebunan dan industri kelapa sawit hampir tidak pernah ada limbah yang mencemari lingkungan, ekosistem hutan, keanekaragaman hayati ataupun menjadi penyebab gangguan pada kesehatan manusia. 

Flat Bet tempat aplikasi limbah cair

“Semuanya terjaga, tak ada limbah yang mencemari lingkungan atau merusak hutan. Boleh dibilang sawit ini zero waste atau nol limbah karena semuanya organik,” tandasnya.

Tak hanya itu, terangnya, semua limbah dapat digunakan, diolah menjadi pupuk kembali dengan pengaplikasian. Baik limbah cair, limbah solid atau padat, hingga janjang kosongnya.

Bahkan, akunya, dalam waktu dekat pihaknya juga akan membangun pabrik kertas di lingkungan PT CPKA dengan bahan baku utama dari janjang kosong.

Selanjutnya, pada hari kedua, Jumat (12/11) hari ini, para jurnalis akan dibekali dengan materi seputar kelapa sawit, seperti kontribusi sawit bagi peningkatan kesejahteraan petani, perekonomian nasional, hingga isu dan tantangan kelapa sawit di pasar global. (opq/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya