Oleh : Mambang, M.Kom
Ketua Indonesian Computer Electronics And Instrumentation Support Society (IndoCEISS) Kalimantan Selatan
Di era digital seperti saat ini, dunia terasa semakin sempit, jarak dan waktu bukan menjadi batasan yang berarti. Memasuki dunia yang semakin cepat berubah tentunya diperlukan kemampuan dasar berupa kecerdasan dan keterampilan digital. Dimana saat ini, dan masa depan dituntut memiliki kemampuan dalam menggunakan perangkat digital dan perangkat lunak lainnya serta kemampuan memahami mesin pencari informasi seperti google dan sejenisnya dalam mencari informasi dan kata kuncinya, kemampuan memanfaatkan aplikasi komunikasi dan media sosial, dan kemampuan adaptasi pada ekosistem digital.
Di era sekarang, kecerdasan identik dengan kemampuan akademik yang mumpuni. Padahal, jika dilihat lebih luas, ada banyak bidang di luar akademis yang membutuhkan kecerdasan maupun keahlian yang berbeda dari tiap individu.
Memahami kecerdasan diri, dapat membantu pelajar dan mahasiswa menemukan jurusan yang tepat sesuai kompetensi, membantu calon pekerja menemukan pekerjaan terbaik, serta membantu karyawan berprestasi dalam bidang yang dikuasai.
Tokoh pendidikan sekaligus psikolog yang mencetus teori kecerdasan majemuk atau multiple intelligences Howard Gardner berpendapat, ada sembilan tipe kecerdasan pada manusia yang sangat mungkin untuk dikuasai bila diasah dengan baik.
Menurutnya, kecerdasan tak hanya bisa diukur melalui ukuran nilai akademik. Setiap orang bisa memiliki kecerdasan yang majemuk, yakni kecerdasan intelektual (IQ) maupun kecerdasan emosional (EQ). Kecakapan dalam mengelola dan menggunakan Informasi, Media dan Teknologi menjadi sangat penting di era digital seperti saat ini. Literasi Informasi perlu dijadikan dasar dalam mengakses informasi secara efisien dan efektif, mengevaluasi informasi secara kritis, kompeten dan kreatif bagi persoalan atau masalah yang dihadapi disertai dengan kemampuan mengolah pemahaman dasar persoalan etis/hukum di seputar akses dan penggunaan informasi.
Selain itu juga literasi media diperlukan dalam memahami bagaimana pesan media dibentuk, untuk tujuan apa dan menggunakan sarana, karakteristik serta konvensi yang mana, Menguji bagaimana para inividu menafsirkan pesan secara berbeda, bagaimana nilai-nilai dan sudut pandang tercakup atau tak tercakup dan bagaimana media dapat mempengaruhi keyakinan dan perilaku, Mengolah pemahaman dasar persoalan etis/hukum yang mengitari akses dan penggunaan informasi. Kemampuan dalam bidang Literasi ICT (Information, Communications and Technology) perlu menjadi pijakan dalam menggunakan teknologi digital, sarana komunikasi dan/atau jaringan yang sesuai untuk mengakses, mengelola, memadukan, mengevaluasi dan menciptakan informasi agar berfungsi dalam sebuah ekenomi pengetahuan serta menggunakan teknologi sebagai sarana untuk penelitian, pengaturan, evaluasi serta pennyampaian informasi, dan memiliki pemahaman dasar persoalan etis/hukum di seputar akses dan penggunaan informasi.
Era transformasi digital menghadirkan budaya baru yang mengubah pola hidup ke arah digital. Oleh karenanya, masyarakat digital harus memiliki keterampilan digital agar dapat beradaptasi dan menguasai fasilitas digital yang tersedia.
Dalan sektor industri digital, penting bagi perusahaan untuk memiliki pemahaman yang mendalam tentang keterampilan dan bakat karyawan saat ini, dan bagaimana mengembangkannya untuk tujuan jangka panjang bisnis mereka.
Membantu mengembangkan bakat yang ada saat ini atau melatih kembali bakat tersebut dapat menjadi aset bagi perusahaan bahwa kebutuhan akan keterampilan mereka di masa depan dapat terpenuhi. Selaras dengan hal tersebut, Kompetensi literasi digital perlu di tingkatkan yang meliputi digital ethics dimana kita dituntut untuk memiliki kemampuan menyadari, mempertimbangkan dan mengembangkan tata kelola etika digital (netiquette) dalam kehidupan sehari-hari.
Ada juga Digital skill, di mana ini adalah kemampuan individu dalam mengetahui, memahami, dan menggunakan perangkat keras, perangkat lunak serta sistem operasi digital dalam kehidupan sehari-hari. Digital safety sangat diperlukan di saat ini, dimana ini adalah kemampuan melindungi diri dan aset digital ketika berada di ruang digital.
Sehingga harus dimanfaatkan peluang-peluang yang ada di internet dan juga menjaga data digital kita, dan yang terakhir adalah digital culture dimana kita di tuntut memiliki kemampuan berinteraksi, berperilaku, berpikir dan berkomunikasi sebagai manusia dalam lingkungan masyarakat.
Pentingnya meningkatkan digital culture tentu saja mempermudah dan mempercepat pekerjaan, memperlus jangkauan, menciptakan inovasi dan kreativitas, fleksibilitas, memperluas jaringan, dan memperluas bisnis.
Keterampilan digital tidak hanya penting untuk sektor teknologi, namun juga sektor nonteknologi. Sekitar tiga perempat (73%) dari nilai keterampilan digital dikontribusikan oleh pekerja di sektor non-teknologi seperti manufaktur dan layanan professional.
Saat industri tradisional mengadopsi teknologi baru dan memimpin transformasi digital untuk meningkatkan operasional serta memperkenalkan produk dan layanan baru, tidak mengherankan jika mayoritas rising skills di Asia Pasifik didominasi oleh keterampilan yang berhubungan dengan teknologi. Dalam kaitannya dengan transaksi online, warga digital perlu memahami platform-platform yang dapat digunakan. Seiring dengan masih dimasa pandemi serta masifnya akselerasi digital, Bank Indonesia (BI) kembali mengerek perkiraan total nilai transaksi e-commerce hingga akhir tahun 2021dimana tahun ini bisa mencapai Rp 395 triliun, atau tumbuh 48,4 persen.
Tentunya nilai transaksi e-commerce ini bisa meningkat lagi dimasa yang akan datang, sehingga diperlukan kecerdasan dan keterampilan dalam penggunaan teknologi digital.
Keterampilan digital (digital skill) pada saat ini dan masa yang akan datang tentunya akan menjadi modal utama bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkan cita-cita sebagai negara maju pada 2045 mendatang. Untuk menghadapi revolusi industri 4.0, ada beberapa keahlian yang dibutuhkan agar dapat sukses dalam menghadapi dinamika dunia kerja yang terus berubah. Terdapat 4 keahlian utama yang dibutuhkan untuk menghadapi industri 4.0.
Pertama, harus memiliki keterampilan informasi, media dan teknologi. Dengan istilah lain, harus melek teknologi. Yang dimaksud dengan keterampilan informasi, media, dan teknologi meliputi literasi media, keaksaraan visual, literasi multikultural, kesadaran global dan literasi teknologi.
Kedua, keterampilan belajar dan berinovasi yang meliputi kreativitas dan keingintahuan, pemecah masalah (problem solving) dan pengambil resiko.
Ketiga, terampil dalam hidup dan belajar seperti memiliki jiwa kepemimpinan dan bertanggung jawab, memiliki nilai etis dan moral, produktivitas dan akuntabilitas, fleksibilitas dan adaptasi, sosial dan lintas budaya, inisiatif dan mengarahkan diri.
Keempat, memiliki kemampuan dalam berkomunikasi yang efektif seperti mampu bekerja dalam tim dan berkolaborasi, memiliki tanggung jawab pribadi dan sosial, dalam berkomunikasi harus interaktif, memiliki orientasi nasional dan global.
Lewat kelihaian generasi muda dalam mengelola teknologi digital itu diharapkan nantinya lahir inovasi dan terobosan yang mampu menguatkan ekonomi bangsa. Indonesia Emas pada 2045 yang maju, adil sejahtera hanya bisa dicapai jika Indonesia membangun digital talent yang berdaya saing global.
Selain itu, infrastruktur digitalisasi perlu di bangun secara merata di seluruh Tanah Air serta pembangunan manusia yang berkualitas juga dilakukan secara merata di seluruh Indonesia.











