Kalsel Sudah Jalani Dua Gelombang Pandemi Covid-19

Banjarmasin, KP – Beberapa hari lagi, tahun 2021 akan berakhir dan meninggalkan cerita menyedihkan dengan banyaknya penduduk yang menjadi korban pandemi Covid-19.

Anggota Tim Pakar Covid-19 dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Hidayatullah Muttaqin memaparkan q, pada tahun 2021, Kalsel sudah mengalami dua gelombang Covid-19.

Gelombang pertama berada dari Januari hingga Maret. Kedua dari Juli hingga September.

Ia menilai, kejadian pada kuartal pertama 2021 tersebut menyebabkan 12.740 penduduk terkonfirmasi Covid-19 dan 301 meninggal dunia.

Sedangkan ledakan pada kuartal ketiga yang disebabkan oleh varian Delta melonjak menjadi 33.363 kasus dan 1.300 kematian.

“Pengalaman dihantam varian Delta adalah yang situasi terburuk yang kita hadapi. Rumah sakit penuh akibatnya banyak warga yang terinfeksi dan memerlukan perawatan,” jelasnya.

Jika melihat data Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan, jumlah penduduk yang dikonfirmasi terinfeksi Covid-19 dari 1 Januari hingga 27 Desember 2021 berjumlah 54.652 orang dengan kasus kematian sebanyak 1.806 orang.

“Jumlah tersebut masing-masing lebih besar 3,6 kali kasus konfirmasi dan 3,1 kali kasus kematian yang terjadi sepanjang tahun 2020,” ungkapnya

Melihat hal itu, ia menuturkan bahwa yang menyebabkan hal tersebut terjadi lantaran keterlambatan warga untuk datang ke RS dan terbatasnya ketersediaan oksigen menjadi salah satu faktor tingginya angka kematian.

Berita Lainnya

Gawian Manuntung Barataan Himung

Perbaiki Ribuan Rumah Tuai Penghargaan

1 dari 1.642
loading...

“Termasuk kematian yang terjadi di luar rumah sakit yang sebagian dialami kelompok lansia,” sambungnya lagi

Lebih jauh, Ia mengungkapkan, jumlah warga yang dikonfirmasi positif Covid-19 di kuartal ketiga tersebut mencakup 48 persen kasus Covid-19 di Kalsel.

“Sedangkan kasus kematiannya mencapai 54 persen, dari awal pandemi hingga 27 Desember 2021,” pungkasnya.

Ia membeberkan, Banjarmasin adalah wilayah yang paling besar jumlah kasus selama ledakan varian Delta tersebut.

Tercatat ada 6.407 kasus konfirmasi dan 325 kematian dalam 3 bulan. Hal ini disebabkan Banjarmasin merupakan kota paling besar, paling padat dan paling tinggi mobilitas penduduknya.

“Syukurlah dengan semakin baiknya penanganan pandemi melalui PPKM Level menggunakan standar asesmen WHO, kasus Covid-19 semakin menurun. Pada kuartal ke-4 tahun ini jumlah kasus konfirmasi di Kalsel turun drastis menjadi 484 dan meninggal sebanyak 32 orang,” imbuhnya.

Disisi lain, Ia menerangkan, di penghujung tahun ini dunia tengah menyalakan lampu merah akibat penyebaran varian Omicron.

Besarnya kecepatan transmisi varian Omicron tersebut menjadi potensi ancaman. Terutama jika mobilitas penduduk saat ini tidak diperlambat, sehingga ada kemungkinan dari kasus impor menjadi transmisi lokal.

“Meskipun data dan hasil studi awal gejala akibat infeksi varian Omicron ringan dan risiko masuk rumah sakit lebih rendah dari varian Delta, kita harus waspada,” tutupnya. (Zak/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya