Kalteng Belajar Pelestarian Bahasa Daerah

Banjarmasin, KP – Komisi III DPRD Kalteng belajar pelestarian bahasa daerah dalam rangka penyusunan Raperda Pembinaan Bahasa Indonesia dan Pelestarian Bahasa Daerah.

“Ini dalam rangka penguatan bahasa daerah, sehingga kita belajar ke DPRD Kalsel,” kata Ketua Komisi III DPRD Kalteng, Duwel Rawing kepada wartawan, usai pertemuan dengan anggota BP Perda DPRD Kalsel, H Karlie Hanafi, kemarin, di Banjarmasin.

Duwel Rawing mengatakan, tujuan mereka untuk menggali informasi terkait raperda yang sudah masuk ke dewan tentang pembinaan bahasa Indonesia dan pelestarian bahasa daerah.

“Kita banyak mendapatkan masukan, walaupun Perda Kalsel tidak sama judulnya, namun materi yang hampir mirip bisa diambil untuk memperkaya Raperda yang dibahas,” tambahnya.

Seperti, Universitas Lambung Mangkurat (ULM) memiliki jurusan bahasa daerah, jadi dinilai sangat baik.

“Memang sudah ada muatan lokal yang diajarkan di sekolah-sekolah, tapi guru yang mengajarkannya belum dipersiapkan,” jelasnya.

Berita Lainnya
1 dari 4.730
loading...

Diharapkan, dengan adanya Perda ini, maka ada kewajiban Pemprov untuk menyiapkan tenaga pengajar yang punya kemampuan.

Ditambahkan, perbedaannya di Kalteng memiliki 25 bahasa, belum masuk variannya. Sementara di Kalsel hanya 2 bahasa yaitu bahasa Banjar Pehuluan dan Kuala. “Di Kalteng ada bahasa Dayak Ngaju, Katingan dan lainnya,” tambah Duwel Rawing.

Anggota BP Perda DPRD Kalsel H Karlie Hanafi Kalianda, mengatakan, kunjungan tersebut dalam rangka memperkaya dan tukar menukar mèngenai penguatan bahasa daerah dan mereka masih merancang perdanya.

“Kita sudah memiliki dua perda budaya dan bahasa. Jadi mereka ingin belajar,” kata Karlie.

Dijelaskan, di Kalsel terdapat dua lembaga, yaitu Lembaga Budaya Banjar (LBB) dan Dewan Kesenian Daerah (DKD) yang merupakan lembaga plat merah dari pemerintahan dengan SK Gubernur ditunjang APBD. Sedang di Kalteng tidak ada.

Sementara, perda merupakan aturan-aturan, namun bagaimana implementasinya serta didukung oleh dua lembaga itu. “Kalsel ini ada 2 bahasa yaitu Banjar Kuala dan Pehuluan. Jadi keduanya orang banua, mereka masih memilih-milih bagaimana menyatukannya,” jelas politisi Partai Golkar. (lyn/K-7)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya