Banjarmasin, KP – Sebanyak 26 lukisan berbagai aliran dipamerkan di Bengkel Lukis Sholihin. Dari yang lukisan aliran abstrak, hingga realis.
Semuanya merupakan karya lukisan milik salah seorang pelukis senior yang sudah tak asing bagi para penikmat seni rupa di Kalimantan Selatan. Yakni Nanang Muhammad Yusran.
Benar saja, bagi Nanang Yusran, pameran tunggalnya bertajuk Titik Nadir menjadi sebuah pembuktian. Bahwa di usianya yang sudah tidak lagi muda, bukanlah halangan untuk terus berkarya.
Dari yang menampilkan potret wajah seseorang, hingga ragam aktivitas yang dilakukan. Baik yang dibuat sejak tahun 80-an hingga tahun 2021.
Seluruh lukisan itu seolah menggambarkan perjalan lelaki yang akrab disapa M Yus itu dalam berkarya. Yakni, sejak tahun 1965 hingga 2021.
M Yus mengungkapkan bahwa titik nadir yang dimaksudnya titik terendah pada usianya yang kini menginjak 76 tahun. Namun, juga titik yang baginya masih panas-panasnya untuk membuat karya.
Ambil contoh, pada karya potret yang memuat wajahnya sendiri. Yang berada di atas bebatuan. Karya itu, diberi judul “Muncul dari Batu”.
Lukisan itu menyiratkan makna bahwa seseorang tidak selalu terbentuk secara mudah. Tapi, juga dibentuk dari situasi yang keras. Maksudnya setiap yang namanya perjuangan tidaklah mudah.
“Sebagai perupa, perlu memiliki semangat baja agar bisa terus berkarya, hingga sampai suatu nanti, mungkin bakal merasa jenuh,” jelasnya.
Ya. Secara secara khusus, pameran ini adalah harapan M Yus, agar bisa menjadi penyemangat perupa muda. Bahwa berjuang di dunia lukis itu memerlukan perjalanan panjang.
“Kalau tekadnya kuat, perupa akan terus berkarya meski terkadang hidupnya memprihatinkan. Saya berjuang seperti ini bukan untuk saya. Tapi untuk perupa muda,” tambahnya.
Lebih jauh, dari seluruh karya yang ditampilkan, pameran kali ini menurutnya juga sebagai pembuktian apakah ke depan, ia masih bisa berkarya lagi atau menemukan sesuatu yang baru lagi.
Maklum, usianya sendiri sudah menginjak 76 tahun. Rambut dan jenggotnya pun sudah sepenuhnya memutih.”Saya juga tidak tahu, berapa sisa umur saya,” ucapnya terkekeh.
Kendati demikian, lelaki kelahiran Barabai, 19 September 1945 itu juga berpesan bahwa jangan pernah ada rasa sombong meskipun sudah melahirkan banyak karya.
“Karya seni berupa lukisan ini memang adalah buatan manusia. Tapi jangan lupa bahwa menjadi manusia diciptakan oleh Tuhan. Kita ini, hanya sebagai ‘alat’ saja,” pungkasnya.
Karya lelaki yang akrab disapa M Yus itu kini bisa disaksikan sejak tanggal 9 hingga 19 Januari mendatang.
Terpisah. Salah seorang pengunjung pameran, Rizky A Setiawan, mengaku salut dengan karya yang ditampilkan. Bukan tanpa alasan, di usia yang tidak lagi muda, M Yus terus berkarya.
“Betul apa yang disampaikan guru saya, bagi perupa, karya adalah jiwanya. Ini jadi pelecut semangat bagi kami untuk terus berkarya, dan jangan hanya ikut atau acara pameran kolektif saja, tapi juga pameran tunggal,” pungkasnya. (Zak/K-3)















