Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Mengungkit Minat Membaca

×

Mengungkit Minat Membaca

Sebarkan artikel ini

Oleh : Tita Rosy, S.ST, MP
Fungsional Statistisi Ahli Madya BPS Kalsel

Mungkin tak banyak yang tahu bahwa Presiden Jokowi telah menuliskan tujuh impiannya untuk Indonesia dengan tulisan tangan beliau sendiri. Bapak Presiden telah menuliskan impian untuk Indonesia 2015-2085 sebanyak tujuh poin, yaitu: 1. Sumber daya manusia Indonesia yang kecerdasannya mengungguli bangsa-bangsa lain di dunia; 2. Masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi pluralisme, berbudaya, religius, dan menjunjung tinggi nilai-nilai etika; 3. Indonesia menjadi pusat pendidikan, teknologi, dan peradaban dunia; 4. Masyarakat dan aparatur pemerintah yang bebas dari korupsi; 5. Terbangunnya infrastruktur yang merata di seluruh Indonesia; 6. Indonesia menjadi negara yang mandiri dan negara yang paling berpengaruh di Asia Pasifik; 7. Indonesia menjadi barometer pertumbuhan ekonomi dunia.

Kalimantan Post

Impian Presiden Joko Widodo poin 1-3 berkaitan erat dengan pendidikan. Ada banyak indikator yang dapat digunakan untuk mengevaluasi capaian pendidikan di Indonesia. Salah satunya yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik yaitu tentang capaian dimensi pendidikan yang merupakan bagian dari indikator penyusun Indeks Pembangunan Manusia. Dimensi pendidikan pada penghitungan Indeks Pembangunan Manusia meliputi dua indikator yaitu harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah. Untuk harapan lama sekolah tahun 2021 ini mencapai 13,08 tahun, artinya anak yang lahir di tahun ini diperkirakan bisa menempuh pendidikan selama 13,08 tahun. Sedangkan rata-rata lama sekolah mencapai 8,54 tahun, artinya rata-rata lama sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas pada tahun ini mencapai 8,54 tahun atau apabila dikonversikan dengan jenjang pendidikannya setara dengan kelas 2 SMP.

Modal pendidikan merupakan aset krusial bagi bangsa Indonesia untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi yang sempat resesi akibat pandemi. Pemerintah tentu tidak berpuas diri dengan prestasi yang telah diperoleh. Ada informasi lain terkait literasi di Indonesia yang perlu menjadi perhatian bersama semua pihak. Data UNESCO menyebutkan minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan. Hanya sekitar 0,001 persen atau dari 1000 orang Indonesia hanya 1 yang rajin membaca. Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) yang dirilis oleh Organization of Economic Cooperation and Development (OECD) mencatat bahwa Indonesia berada pada ranking 62 dari 70 negara berdasarkan minat baca.

Baca Juga :  ZUHUD MENURUT ULAMA SUFI

Mengapa bisa terjadi?

Pada skala 0-10, Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IP-TIK) Indonesia mencapai 5,59 atau meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 5,32. Semakin tingginya penggunaan gadget dan akses internet merupakan penjelasan yang logis terhadap minimnya minat baca. Pada publikasi Statistik Kesejahteraan Rakyat 2021 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik, tercatat pengguna internet di Indonesia telah mencapai 62,1 persen dari total penduduk Indonesia. Sekitar 98,7 persen pengguna internet tersebut mengakses internet menggunakan HP/ponsel. Penelusuran lebih dalam mengenai tujuan penggunaan internet bagi penduduk Indonesia menunjukkan fakta lebih menarik lagi. Penggunaan internet paling banyak ditujukan untuk jejaring sosial (social media). Minimnya interaksi antar manusia khususnya di masa pandemi menjadikan komunikasi sangat massif dilakukan di jejaring sosial. Hal-hal yang dibaca di jejaring sosial kadang tidak banyak yang bersifat edukatif, hanya merupakan luapan perasaan emosional yang tidak dapat disampaikan secara langsung kepada lawan bicara.

Dampak negatif lain dari minimnya minat baca adalah gampang terpengaruh berita bohong atau lebih dikenal dengan istilah hoax. Jumlah penduduk Indonesia yang besar merupakan pangsa yang potensial untuk infiltrasi pengaruh positif atau negatif, termasuk penyebaran informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Minat baca yang minim juga menyebabkan seseorang kesulitan untuk berfikir kreatif karena minimnya wawasan. Informasi hanya diterima satu arah tanpa ada saringan atau pembanding, tidak dapat dikonfirmasi atau di cross check dengan pihak lain. Lebih jauh lagi, sentimen negatif kadang direspon oleh perekonomian dalam mekanisme terhambatnya investasi karena investor yang terpengaruh terhadap berita-berita yang belum tentu kebenarannya. Hal ini yang menyebabkan bangsa Indonesia sulit untuk bersaing dengan negara lain. Kondisi ini mempersulit bangsa untuk mencapai impian yang ke-6 dan ke-7 bapak presiden, yaitu Indonesia menjadi negara yang mandiri dan negara yang paling berpengaruh di Asia Pasifik dan Indonesia menjadi barometer pertumbuhan ekonomi dunia.

Baca Juga :  REZEKI

Di tengah dahaga terhadap bacaan yang bermanfaat, masih ada oase yang ditawarkan oleh komunitas-komunitas yang peduli dengan literasi Indonesia. Mereka menyediakan buku-buku untuk dapat dibaca oleh siapa saja secara gratis. Bahkan mereka tidak menunggu siapa yang memerlukan mereka, mereka justru ‘jemput bola’ mendatangi anak-anak yang tidak tersentuh literasi. Diharapkan kehadiran komunitas-komunitas seperti ini dapat membantu pemerintah untuk meningkatkan indeks literasi selain pemerintah juga harus menjawab masalah disparitas. Pemerintah juga dapat lebih menyemarakkan edukasi ke masyarakat tentang pentingnya membaca buku. Membaca sejatinya adalah kebutuhan jiwa yang dapat memperkaya ilmu, hati dan rasa. Selamat membaca.

Iklan
Iklan