Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Tolak Propaganda Kebebasan

×

Tolak Propaganda Kebebasan

Sebarkan artikel ini

Oleh : Wahyu Utami, S.Pd
Praktisi Pendidikan di Yogyakarta
 
Serial Layangan Putus yang sebelumnya hanya bisa disaksikan lewat platform streaming online, kini tayang di stasiun televisi RCTI pada jam 18.30. Banyak pihak yang menyesalkan hal ini dikarenakan saat serial ini tayang di We TV menuai banyak kontroversi. 

Tayangan ini telah sukses membuat banyak wanita menjadi baper. Mulai dari para istri yang jadi sering curiga pada suami hingga para gadis yang takut menikah. Belum lagi adegan-adegan panas yang sangat tidak layak ditonton. Dampaknya akan membuat masyarakat menganggap hal tersebut suatu hal yang lumrah dilakukan oleh pria dan wanita sekalipun tidak diikat dalam ikatan pernikahan.

Kalimantan Post

Apalagi jam tayang serial ini pada jam 18.30 dimana masih banyak anak-anak yang menonton televisi. Sekalipun pihak RCTI mengatakan akan menyensor beberapa adegan panas tapi tetap saja serial ini identik dengan tayangan yang menampilkan pornoaksi. 

Serangan Budaya Barat

Jika ditelusuri, makin maraknya tayangan yang mengumbar seks sebenarnya merupakan serangan budaya Barat terhadap kaum muslimin. Serangan budaya barat tersebut antara lain berupa seks bebas, buka aurat, hedonisme dan lain-lain. Semua itu dipropagandakan melalui musik, film, komik dan lain-lain.

Serangan budaya barat ini berakar dari paham kebebasan berekspresi yang merupakan salah satu dari empat paham kebebasan yang dijamin dalam demokrasi. Meskipun Indonesia tidak sebebas negara Barat akan tetapi lambat laun akan semakin liberal jika agenda liberalisasi terus dikampanyekan. Maraknya pornografi dan pornoaksi menjadi salah satu bukti nyata semakin liberalnya negeri ini.

Hal-hal yang dulu dianggap tabu, saat ini menjadi tayangan atau konten yang sengaja dibuat agar bisa menghasilkan pundi-pundi uang. Sama saja baik di media sosial maupun televisi. Padahal kebebasan pasti akan menimbulkan banyak dampak negatif misal peningkatan kasus aborsi, banyaknya bayi lahir di luar nikah, peningkatan jumlah penderita HIV Aids dan lain-lain. 

Baca Juga :  LPS dan Keberlanjutan Stabilitas Ekonomi

Mengapa hal ini bisa terus terjadi dan malah semakin masif? Ada tiga unsur utama yang mempengaruhi hal ini. Pertama dari sisi pelaku baik artis, sutradara maupun pemilik stasiun televisi. Mereka beranggapan apa yang mereka lakukan adalah bagian dari seni. Selain itu mereka juga beralasan bahwa hanya sekedar memotret realitas sosial yang ada di masyarakat. Memang betul fenomena seks bebas ada di tengah masyarakat. Hanya saja dengan menyuguhkan di stasiun televisi justru akan semakin menyebarkan penyakit sosial tersebut.

Kedua, sikap masyarakat. Tidak sedikit masyarakat yang justru menjadi penonton setia tayangan yang menampilkan pornografi dan pornoaksi. Mereka beralasan menjadikan itu sebagai hiburan semata padahal dengan melihat tayangan seperti itu secara tidak sadar mereka telah diajak untuk membenarkan dan meniru. Bagi masyarakat lain yang tidak setuju juga lebih banyak diam dan tidak melakukan langkah apapun.

Ketiga, dukungan negara. Negara baik secara langsung maupun tidak telah menjadi penyokong tayangan-tayangan ini. Negara tidak bersikap tegas dan cenderung membiarkan. Hal ini tidak terlepas dari paham demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) yang diadopsi sehingga negara tidak bisa dan tidak mau menghentikan tayangan-tayangan tersebut.

Pandangan Islam

Masyarakat adalah sekumpulan individu yang tinggal bersama dalam suatu wilayah. Segala interaksi di dalamnya mencerminkan ketinggian martabat manusia. Kebebasan berperilaku lahir dari hawa nafsu manusia yang akan menyebabkan manusia menjadi hina dan turun derajatnya ke derajat yang rendah. Sedangkan ketinggian martabat sendiri akan terwujud jika akal manusia dibimbing wahyu bukan hawa nafsu. 

Ide kebebasan menjadi ciri khas masyarakat Barat yang telah menjerumuskan mereka pada jurang kehinaan. Islam jelas mengharamkan ide ini. Islam mewajibkan semua aktivitas manusia terikat hukum syara. 

Baca Juga :  Bila Birokrasi “Camuh” dan Arogan?

Dalam hal ini bukan berarti Islam mengekang dan menghambat manusia. Islam juga mencintai keindahan dan membolehkan kreativitas tetapi harus sesuai batas-batas yang telah ditentukan hukum syara. Oleh karena itu semua aktivitas yang menjatuhkan derajat manusia diharamkan oleh Islam. Islam mewajibkan semua ekspresi dan kreativitas manusia menjunjung tinggi dan membangun martabat manusia bukan malah mengedepankan hawa nafsu.

Oleh karena itu, saat ini kita harus bersama-sama meninggalkan paham kebebasan dan menggantinya dengan sistem Islam. Mari kita bersama mengatur kehidupan berlandaskan syariat Islam yang bersumber dari Pencipta, Allah SWT bukan dari hawa nafsu manusia.

Iklan
Iklan