Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Transfer Nilai Dalam Sistem Pembelajaran

×

Transfer Nilai Dalam Sistem Pembelajaran

Sebarkan artikel ini

Oleh : Rahmiyati, S.Pd
Konselor SMPN 14 Banjarmasin

Di era globalisasi ini, terjadi pertarungan yang sangat kuat dalam mempengaruhi perkembangan kepribadian anak, disatu sisi kepribadian anak seharusnya dibentuk dengan nilai-nila luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, tetapi di sisi lain anak begitu akrab dengan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia, bahkan dengan norma-norma yang dianutnya.

Kalimantan Post

Fenomena keseharian yang terjadi di masa kini khususnya di kalangan anak remaja, seakan terjadi stagnasi transfer nilai, yang terwujud semakin meningkatnya hubungan pergaulan yang menyimpang, seperti seks bebas di luar nikah, pemerkosaan, perkelahian antar pelajar, meningkatnya penyalahgunaan narkoba, merosotnya penghargaan siswa terhadap guru dan orangtua, rendahnya kepedulian sosial, laki-laki dan perempuan bebas berekspresi di muka umum, seperti berpelukan, saling bersentuhan dan lain sebagainya. Bahkan di kalangan orang dewasa lebih seru lagi, pencurian, korupsi, kolusi, nepotisme, tindak kekerasan, teror, perampokan, perjudian, selingkuh dan lain sebagainya.

Para pelaku umumnya adalah orang-orang keluaran sekolahan alias orang yang berpendidikan. Padahal fungsi dari institusi pendidikan adalah membentuk manusia yang beradap dan mewariskan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Dikemanakan konsep nilai-nilai luhur yang selalu dikembangkan di sekolah? Atau jangan-jangan sekolah sama sekali tidak mengembang nilai-nilai luhur kepribadian bangsa. Nilai kepribadian yang diajarkan hanya dianggap sebatas pengetahuan belaka boleh dipakai boleh tidak.

Agar nilai-nilai yang dikembangkan disekolah dapat teraplikasi pada kualitas kepribadian anak, sekolah dalam kegiatan pendidikannya Teuku Ramli Zakaria (2000) menawarkan beberapa pendekatan yaitu : 1. Pendekatan penanaman nilai; 2. Pendekatan perkembangan kognitif; 3. Pendekatan analisis nilai; 4. Pendekatan klarifikasi nilai; 5. Pendekatan pembelajaran berbuat.

  1. Pendekatan penanaman nilai. Pendekatan penanaman nilai (inculcation opproach) adalah suatu pendekatan yang memberi penekanan pada nilai-nilai sosial dalam diri siswa. Menurut Superka, tujuan pendidikan nilai menurut pendekatan ini adalah: Pertama diterimanya nilai-nilai sosial tertentu oleh siswa; Kedua, berubahnya nilai-nilai siswa yang tidak sesuai dengan nilai sosial yang diinginkan.
Baca Juga :  Polemik Penonaktifan Jaminan Kesehatan Warga Banjarmasin

Metode yang digunakan dalam pendekatan ini antara lain keteladanan, penguatan positif dan negatif, stimulasi, permaianan peran dan lain-lain.

  1. Pendekatan perkembangan kognitif. Pendekatan ini mendorong siswa untuk berpikir aktif tentang masalah-masalah moral dan dalam membuat keputusan-keputusan moral. Perkembangan moral menurut pendekatan ini dilihat sebagai perkembangan tingkat berpikir dalam membuat pertimbangan moral, dari suatu tingkat yang lebih rendah menuju suatu tingkat yang lebih tinggi. (Elias).

Tujuan yang ingin dicapai oleh pendekatan ini adalah dua hal yang utama, Pertama membantu siswa dalam membuat pertimbangan moral yang baik kompleks berdasarkan kepada nilai-nilai yang lebih tinggi; Kedua mendorong siswa untuk mendiskusikan alasan-alasannya ketika memilih nilai dan posisinya dalam suatu masalah moral (Superka, & Banks,).

Proses pengajaran nilai menurut pendekatan ini didasarkan pada dilemma moral, dengan menggunakan metode diskusi kelompok. Diskusi ini dilaksanakan dengan memperhatikan tiga kondisi penting. Pertama, mendorong siswa menuju tingkat pertimbangan moral yang lebih tinggi. Kedua, adanya dilemma, baik dilemma hipotetikal maupun dilemma faktual berhubungan dengan nilai dalam hidup keseharian. Ketiga suasana yang dapat mendukung bagi berlangsungnya diskusi dengan baik.. Proses diskusi dimulai dengan penyajian cerita yang mengandung dilema. Dalam diskusi tersebut, siswa didorong untuk menentukan posisi apa yang sepatutnya dilakukan oleh orang yang terlibat, apa alasan-alasanya. Siswa diminta mendiskusikan tentang alasan-alasan itu dengan teman-temannya.

  1. Pendekatan analisis nilai. Adapun tujuan utama pendidikan nilai menurut pendekatan ini. Pertama membantu siswa untuk menggunakan kemampuan berpikir logis dan penemuan ilmiah dalam menganalisis masalah-masalah sosial, yang berhubungan dengan nilai moral tertentu. Kedua membantu siswa untuk menggunakan proses berpikir rasional dan analitik, dalam menghubung-hubungkan dan merumuskan konsep tentang nilai-nilai mereka. Metode-metode pengajaran yang sering digunakan adalah pembelajaran secara individual atau kelompok tentang masalah-masalah sosial yang memuat nilai moral, penyelidikan kepustakaan, peyelidikan lapangan, dan diskusi kelas berdasarkan kepada pemikiran rasional.
  2. Pendekatan klarifikasi nilai. Tujuan pendidikan nilai ini menurut pendekatan ini ada tiga. Pertama, membantu siswa untuk menyadari dan mengidentifikasi nilai-nilai mereka sendiri serta nilai-nilai orang lain. Kedua, membantu siswa, supaya mereka mampu berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan orang lain, berhubungan dengan nilai-nilai sendiri. Ketiga, membantu siswa supaya mereka mampu menggunakan secara bersama-sama kemampuan berpikir rasional dan kesadaran emosioanal, untuk memahami perasaan, nilai-nilai, dan pola tingkah laku mereka sendiri.
Baca Juga :  Reformasi Spiritual Uzbekistan untuk Inspirasi Indonesia

Pendekatan ini menggunakan metode dialog, menulis, diskusi dalam kelompok besar atau kecil, dan lain-lain.

  1. Pendekatan pembelajaran berbuat. Ada dua tujuan utama pendekatan ini yaitu : pertama memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan perbuatan moral, baik secara perorangan maupun secara bersama-sama, berdasarkan nilai-nilai mereka sendiri. Kedua, mendorong siswa melihat diri mereka sendiri sebagai makhluk individual dan sosial dalam pergaulan sesama, yang tidak memiliki kebebasan sepenuhnya, melainkan sebagai warga dari suatu masyarakat, yang harus mengambil bagian dalam suatu proses demokrasi.

Metode-metode yang dapat digunakan adalah selain yang digunakan pada klarifikasi nilai dan analisis nilai, digunakan juga projek-projek tertentu untuk dilakukan di sekolah atau dalam masyarakat, dan praktek keterampilan dalam berorganisasi atau berhubungan antara sesama (Superka, et. al. 1976 : 197).

Selain melakukan pendekatan dalam pembelajaran sekolah juga harus berupaya mengkondisikan sekolah agar terjadi penyerapan nilai-nilai yang diinginkan, dengan cara membuat tata tertib atau peraturan sekolah yang diterapkan secara tegas dan jelas, menganggap tabu perbuatan yang tidak sesuai dengan tata nilai yang ada, mengembangkan kedisiplinan, personel yang ada disekolah harus selalu memberi keteladan, dan selalu terjadi komunikasi antara pendidik dengan siswa, sehingga terjadi kontrol yang bersifat pencegahan terhadap penyimpangan terhadap tata nilai yang ada di sekolah.

Iklan
Iklan