Banjarmasin, KP – Setelah vakum selama beberapa waktu, aktivitas pencucian kendaraan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banjarmasin, Banjarmasin kini kembali beroperasi.
Dengan nama Asteda Carwash, layanan pencucian kendaraan tersebut diresmikan lagi pengoperasionalannya agar bisa kembali dirasakan masyarakat umum, Rabu (30/03) siang.
Pengambilan kata ‘Asteda’ untuk tempat pencucian kendaraan itu sendiri diambil dari singkatan Asrama Teluk Dalam. Selain itu, pada pekerja yang mencucinya pun juga berasal dari warga binaan di lapas tersebut.
Asteda Carwash yang lokasinya berada di halaman Lapas, atau tepatnya samping pintu gerbang keluar itu, diresmikan oleh Kepala Divisi Pemasyarakatan Kemenkumham Kalsel, Sri Yuwono.
Sementara untuk operasional Asteda Carwash sendiri, memberdayakan warga binaan di Lapas Kelas IIA Banjarmasin.
“Kita sangat mengapresiasi. Ini adalah wujud pembinaan kepada mereka dengan diberikan keterampilan. Kali ini bidang cuci mobil dan sepeda motor,” ucapnya saat ditemui awak media usai peresmian.
Dengan dibukanya pencucian kendaraan itu, ia berharap agar para warga binaan yang diberdayakan di Asteda Carwash itu bisa membuat para warga binaan meninggalkan pekerjaan yang melanggar undang-undang.
“Harapannya ini juga bisa menjadi bekal bagi warga binaan setelah bebas nanti untuk bekerja secara mandiri,” harapnya.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Herliadi menerangkan, bahwa hal ini merupakan salah satu kegiatan kemandirian bagi warga binaan. Khususnya dibidang cuci mobil dan sepeda motor.
“Ke depan masih banyak pengembangan lagi. Mungkin kami akan lakukan semacam salon mobil yang melayani baik eksterior maupun interior,” jelasnya.
“Hal semacam ini memang dibutuhkan untuk memberikan bekal kepada warga binaan. Supaya ke depan setelah selesai masa pidananya punya keterampilan,” tambahnya.
Lebih jauh, Ia menyampaikan, warga binaan yang diberdayakan dalam usaha Asteda Carwash adalah mereka yang sudah menjalani masa hukuman lebih dari setengah.
“Jumlahnya menyesuaikan. Kalau memang banyak permintaan akan kami tambah. Tapi untuk sementara kita pekerjakan. Kita berikan premi buat mereka dan ada juga masuk ke kas negara dari penghasilan usaha ini,” pungkasnya.
Terpisah, salah seorang warga binaan, Khairul mengaku sangat terbantu dengan adanya usaha ini. Bahkan sebelumnya, Ia juga sudah mendapat pelatihan khusus.
“Senang jadi ada pendapatan setelah bisa pulang nanti,” ucap pria 35 tahun itu singkat. (Kin/KPO-1)















