Oleh : Haritsah
Pemerhati Sosial Keagamaan
Negeri-negeri muslim termasuk Indonesia mengalami bonus demografi. 70 persen komposisi pendudukan adalah usia produktif. Kondisi mayoritas pemuda ini adalah suatu keuntungan besar sekaligus tantangan besar bagi umat Islam. Para pemuda adalah agen perubahan yang harusnya menggerakkan kebangkitan umat.
Namun sebagaimana umat harus menggarap potensi umat, negara kafir kapitalis barat dan para agennya juga menyasar generasi umat. Sayangnya penguasa di negeri muslim justru mengafirmasi dan menjalankan demikian rupa proyek Barat terhadap generasi muslim.
Di bidang pendidikan, standar Programme of International Student Assesment (PISA) menjadi acuan perubahan kurikulum. PISA sendiri sebagai standar mutu dan capaian pendidikan ditetapkan oleh negara-negara OECD, organisasi kerjasama ekonomi dan pembangunan. Knowledge based economy mendasari framing pendidikan yang berorientasi pada ekonomi. Standar PISA yang menekankan literasi, numerik dan sains menjadi dasar kurikulum saat ini di Indonesia. Depdikbudristek mengambil kebijakan program merdeka belajar dan kampus merdeka (MBKM). Merdeka belajar diproyeksikan untuk menciptakan suasana belajar yang bahagia tanpa dibebani oleh skor dan nilai tertentu. Dengan konsep dasar tersebut, program kebijakan merdeka belajar ditandai dengan perubahan revolusioner mekanisme ujian dan penilaian capaian siswa.
Pendidikan juga diarahkan sebagai ekosistem dimana ada mutual benefit dan link and match dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Pendidikan vokasional menjadi fokus perhatian penting hingga dibentuk dirjen khusus pendidikan vokasional. Pendidikan vokasional bahkan berkembang hingga perguruan tinggi dan strata-1. Muncullah pendidikan vokasional S-1 dengan program studi kesejahteraan keluarga, mekatronika, otomotif, seni kuliner, dan desain fashion dan lainnya. Orang tua dan generasi pun meminati pendidikan vokasional dengan harapan bisa bekerja setelah lulus. Bagi pemerintah pendidikan vokasional menjawab persoalan pengangguran dan kebutuhan industri dan investasi.
Selain arah pendidikan yang sangat materialis dan kapitalis, generasi juga terjebak dengan virus yang sangat berbahaya. Alasan peningkatan kualitas pendidikan tersebut beriringan dengan penguatan moderasi beragama. Pendidikan dibawah departemen agama sangat serius menggarap moderasi beragama di lingkungan madrasah dan pesantren. Berbagai modul untuk guru disusun agar guru bisa menyisipkan muatan moderasi beragama pada mata pelajaran. Bahkan penggodokan kesadaran moderasi beragama ditarget sejak pendidikan usia dini atau PAUD. Santriwirausahawan dan digitalisasi madrasah juga menjadi program departemen agama. Pesantren dan santri didorong untuk berbisnis. Sedangkan madrasah berlomba untuk menguasai digitalisasi dan berkarya dalam bidang digital dan robotika.
Peningkatan mutu pendidikan tersebut juga bagian dari nafas moderasi beragama. Moderasi beragama sendiri akan menggerus identitas muslim generasi. Mereka menjadi pemuja kepribadian barat yang sekuler dan hedonis. Hedonisme menjadi acuan kemakmuran dan kesejahteraan. Toleransi menjadi nilai yang diutamakan. Generasi terasingkan dengan Islam kaffah dan ter-westernisasi bahkan terjangkiti Islamphobia.
Muslimahpun menjadi sasaran pembajakan potensi. Kesetaraan gender adalah isu strategis dan medan pertempuran yang ingin dimenangkan barat atas kaum muslimin.
Indonesia sebagai negara yang tunduk dengan berbagai keputusan PBB terkait pemberdayaan perempuan, juga mendorong perempuan muda untuk berdaya, baik dalam kepemimpinan maupun ekonomi. Menteri Pemberdayaan Perempuan menyatakan, “Saya optimis perempuan Indonesia bisa maju, bisa hebat, dan berdaya ke depannya, khususnya bagi perempuan-perempuan muda yang punya kesempatan yang luar biasa di depan mata.”
Berbagai kesempatan di bidang ekonomi di antaranya program bernama Strategi Nasional Inklusi Keuangan Perempuan, menyediakan dukungan untuk mengakses permodalan, peningkatan kapasitas usaha, dan literasi keuangan. Bahkan, ada pula pelatihan wirausaha pemula yang diberikan oleh Kementerian Koperasi dan UMKM yang dapat dimanfaatkan oleh perempuan.
Mewujudkan perempuan muda berdaya kepemimpinan dan ekonomi juga menjadi roh dari kurikulum pendidikan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka di antaranya dengan link and match kampus dan industri.
Dengan pemberdayaan ekonomi terutama di kalangan perempuan muda sebagai usia produktif dan kreatif, diharapkan mampu mewujudkan pertumbuhan ekonomi sebagai solusi krisis di tengah pandemi.
Revitalisasi dan Reposisi
Umat Islam adalah khairu ummah, sebaik-baiknya umat yang dikeluarkan Allah SWT dimuka bumi. Tentu tidak layak umat ini menjadi obyek jajahan negara kapitalis. Umat ini harusnya menjadi pemimpin yang mengemban kepemimpinan berpikir Islam. Generasi pemuda yang menjadi mayoritas dari umat ini haruslah yang terdepan menggerakkan perubahan, menjadi agent of change. Masa muda adalah puncak vitalitas energi dan intelektual sehingga bisa mewujudkan idealisme.
Generasi muda muslim tidak seharusnya mengenyam pendidikan hanya untuk menjadi tenaga murah dan penggerak mesin industri kapitalis, apalagi terkena racun mematikan moderasi beragama.
Muslimah pun tidak layak disibukkan dengan UMKM untuk mengejar kesetaraan gender dan emansipasi. Padahal kemuliaan dengan peran dan aktivitas perempuan sudah sangat jelas dalam Islam. Muslimah tidak perlu silau dengan standar wanita ala kapitalis.
Genderang perang yang ditabuh barat haruslah berbalik arah menjadi kemenangan Islam dan kaum muslimin. Generasi muda harusnya berkontribusi pada umat. Mereka menguatkan bangunan umat dan menguatkan tegaknya Khilafah pada saat khilafah berdiri. Generasi muda muslim menunjukkan kemuliaan peradaban Islam.
Profil dan identitas muslim harus dikembalikan pada setiap pemuda sehingga mendorong pemberdayaan potensi yang optimal. Dari sini pemuda akan memposisikan diri mereka sebagai penolong agama Allah dan menjadi penjaga Islam dan umatnya. Wallahu alam bis shawab.












