Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Potensi Pemuda, Mau Dibawa Kemana?

×

Potensi Pemuda, Mau Dibawa Kemana?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Rabiatun Nisa
Aktivis Kampus

Pemuda merupakan aset bangsa yang tak ternilai harganya. Pemuda sebagai penyambung estafet perjuangan, penerus masa depan, pewaris peradaban yang kelak akan memimpin dunia. Sejarah telah membuktikan vitalitas dari peran pemuda terkhusus dalam sebuah perubahan. Di Indonesia sendiri, tatkala pemerintahan dianggap begitu tirani, maka pemudalah yang menjadi katalis perubahan sehingga lahirlah reformasi. Begitupun pada zaman Rasulullah, penyebarluasan Islam hingga menjadi peradaban gemilang juga tak luput dari peran pemuda didalamnya. Karena itu tak heran Rasulullah mengatakan “Tidak akan bergeser kaki anak Adam di padang mahsyar sebelum ia ditanya akan empat hal yang salah satunya adalah kemana masa muda dihabiskan?”.

Kalimantan Post

Sayangnya urgensitas dari peran pemuda sebagai katalis perubahan sering disia siakan atau bahkan ditunggangi oleh mereka yang memiliki kepentingan. Mereka membuat program-program berkedok pelatihan yang katanya akan menumbuhkan jiwa kepemimpinan dalam diri para pemuda. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ketua Umum Pengurus Wilayah (PW) PII Kalimantan Selatan (Kalsel) Rizki Fadillah dalam sambutannya saat Pelatihan Dasar dan Lanjutan Kepemimpinan Pelajar Islam Indonesia (PII) se-Kalsel. “training” (pelatihan) PII merupakan tempat pembentukan calon pemimpin masa depan” ujarnya (Kalsel Antarnews, 12/7/2022).

Sementara itu, Kabid Kepemudaan Tanah Laut, Hj.Wahida mengapresiasi hal tersebut. Sebab, melaksanakan pelatihan kepemimpinan saat para pelajar tengah libur semester dan berharap dapat mencetak calon pemimpin masa depan. “Training kali ini diharapkan bukan hanya mencetak calon pemimpin, tapi juga dapat menjadi agen of change,” harapnya. “Dengan adanya pelatihan ini, semua kader PII dapat mengembangkan dirinya untuk bisa menjadi pemimpin masa depan,” tambahnya. Padahal jika diamati lebih jauh lagi, training kepemimpinan semacam itu telah sejak dulu banyak diadakan namun hingga hari ini belum memberikan dampak yang berarti (Pojok Banua, 12/7/2022).

Baca Juga :  Antara “Kuyang” Pengusaha dan Pejabat Negara

Karena sejatinya pelatihan yang dilakukan dan tujuan yang diharapkan dari pelatihan tersebut tidaklah nyambung. Pemuda dilatih bagaimana agar menumbuhkan jiwa kepemimpinan dan menjadi agen perubahan namun tidak diarahkan pada persoalan secara sistemik. Bahwa berbagai macam problem yang ada, penyebabnya tidak lain adalah karena diterapkannya sistem kufur kapitalisme. Pemuda melalui pelatihan kepemimpinannya hari ini malah diarahkan untuk menjadi agen kapitalisme yang tunduk dan taat pada setiap kebijakan dan bungkam terhadap kedzoliman.

Belum lagi dengan banyaknya program-program kepemudaan. Mereka dijadikan duta-duta yang kontribusinya saat menjadi agen kapitalisme dibuat penting, sehingga melalaikan mereka pada tujuan yang sebenarnya sebagai seorang muslim dan mereka tidak menyadari bahwa apa yang dilakukan bertentangan dengan Islam. Mereka dididik untuk hanya berpikir pragmatis sehingga solusi yang dihasilkan tidak akan menyelesaikan problem secara tuntas dan mengakar. Yang tidak lain upaya-upaya tersebut adalah untuk melalaikan peran pemuda dalam menghasilkan perubahan hakiki dan melanggengkan kekuasaan para kapitalis dengan berbagai macam kepentingannya.

Melihat besarnya potensi yang dimiliki oleh para pemuda, maka sangat disayangkan jika seluruh sumber daya yang ada pada diri mereka disia-siakan atau bahkan digunakan untuk tujuan yang tidak seharusnya. Bahwa dengan potensi pemuda yang begitu besar, maka tumpuan masa depan Islam terletak diatasnya. Sehingga perubahan yang akan dilakukan oleh pemuda hendaknya diarahkan pada perubahan yang benar dan hakiki yaitu Islam. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat. Arab yang terkenal dengan kejahiliyahannya menjadi terang benderang oleh cahaya Islam yang diperjuangkan oleh mereka.

Tidak perlu 100 tahun untuk membuktikan bahwa dengan Islam, lahirlah peradaban mulia yang menjadi guru bagi dunia. Tak sampai 10 tahun sejak Rasulullah dan para sahabat dakwahnya ditentang, Madinah menjadi kota cahaya dan tak lama setelah itu kaum muslimin memenangkan pertempuran badar. Sepuluh tahun setelahnya, umat Islam telah menjadi pemersatu bangsa Arab untuk pertama kalinya dalam sejarah. Bahkan telah menaklukkan White House, Istana Putih Hirah di Persia, Istana Merah di Yaman, dan benteng-benteng Romawi di Syam. Begitulah Ketika dakwah Islam meluruskan peran pemuda hingga mereka menyadari tugas utamanya sebagai makhluk Allah.

Baca Juga :  Anang Syakhfiani, Kebijakan yang Dikriminalisasi

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”. (QS. Fusilat: 33). Wallahu a’lam bisshawab…

Iklan
Iklan