Oleh : Hj. Dese Yudiani, S.Pd
Guru Geografi SMAN 1 Jejangkit
Mengawali tulisan ini saya ingin mengutip satu ayat dalam Al-Quran Surah Al-Qamar ayat 49, “Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (kadar tertentu)”. Ayat ini sangat jelas menyatakan kepada kita bahwa segala sesuatu Allah menciptakan dengan kadar atau ketentuan masing-masing. Segala makhluk termasuk manusia masing-masing memiliki potensi, bakat dan minat yang berbeda-beda.
Pemikiran Ki Hajar Dewantara terkait mengenali diri dan mengenali murid, khususnya terkait dengan kodrat alam dan kodrat zaman, tentunya sangat terkait dengan ayat di atas. Ayat di atas dijabarkan oleh pemikiran Ki Hajar Dewantara, bahwa setiap anak memiliki potensi, bakat dan minat yang berbeda-beda. Setiap anak memiliki tingkat dan jenis kepintara yang tidak sama.
Ki Hajar Dewantara menyatakan pemikirannya bahwa ketika kita menanam biji jagung, maka yang akan tumbuh adalah jagung, tidak mungkin padi. Artinya, sebagai guru kita hanya bisa menuntun siswa sesuai dengan potensi, bakat dan minatnya, tetapi kita tidak bisa memaksakan bahwa dia harus berubah dari jagung menjadi padi.
Pemikiran Ki Hajar Dewantara ini mengingatkan saya pada kisah ikan dan kera. Ikan yang ditakdirkan hidup di dalam air, dia sangat pandai berenang. Akan tetapi, ketika dia disuruh memanjat pohon, maka dia tidak akan bisa. Begitu pula kera yang sangat pandai memanjat pohon. Ketika kera disuruh berenang, tentu dia tidak akan bisa sebagus ikan. Itulah bagian dari kodrat alam.
Pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai anak ini menyadarkan saya bahwa kita harus benar-benar memahami bahwa setiap orang itu berbeda dan unik. Setiap orang itu memiliki potensi, bakat dan minat yang berbeda-beda dan tidak bisa dipaksakan sesuai dengan kehendak kita. Potensi, bakat dan minat kita juga tidak sama dengan anak. Oleh karena itu, kita tidak boleh memaksakan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Sebelumnya, mungkin kita kurang memperhatikan tentang perbedaan potensi, bakat dan minat anak, kemudian sesudah kita mempelajari tentang pemikiran Ki Hajar Dewantara, kita mulai tersadarkan bahwa perbedaan potensi, bakat dan minat anak ini juga hal yang penting dan harus diperhatikan. Inilah beberapa bagian yang berubah atau terjadi penguatan di pikiran kita ketika kita memahami pemikiran Ki Hajar Dewantara.
Dalam proses pembelajaran guru harus seperti itu. Guru harus pandai menilai potensi, bakat dan minat anak. Guru juga tidak boleh memaksakan kehendak kepada anak untuk menjadi apa dan harus seperti apa. Guru hendaknya hanya menuntun dan mengembangkan potensi, bakat dan minat anak tersebut. Dalam menentukan tujuan anak ke depan, anak itu sendiri yang harus menentukan apa yang ia inginkan.
Guru sebagai penuntun tentunya harus memiliki tes diagnostik yang tepat. Tes diagnostik ini penting untuk mengetahui bagaimana potensi, minat dan bakat anak tersebut. Tes diagnostik tersebut bisa yang bersifat kognitif, bisa juga yang non kognitif. Melalui tes ini kita bisa mengetahui bagaimana sebenarnya yang harus kita lakukan terhadap anak tersebut.
Seiring kemajuan zaman akhir-akhir ini, pemikiran Ki Hajar Dewantara sangat tepat sekali untuk kita implementasikan di kehidupan sehari-hari, khususnya kehidupan di sekolah. Bayangkan saja dalam waktu sekitar sepuluh tahun terakhir ada banyak sekali perubahan besar yang terjadi, khususnya yang berkaitan dengan kemajuan teknologi dan perubahan budaya masyarakat. Beberapa istilah muncul dalam waktu sekitar sepuluh tahun terakhir diantaranya industri 4.0 dan masyarakat 5.0.
Pada tahun 2011, di Jerman digagas istilah untuk era teknologi 4.0. Era ini berkaitan dengan bahwa segala kemajuan akhir-akhir ini mengharuskan keterlibatan komputer dan internet di dalamnya. Dalam segala aspek kemajuan teknologi komputer memiliki peranan penting, baik itu transportasi, komunikasi, alat-alat kesehatan, pendidikan dan lain-lain. Komputerisasi sudah merasuk ke segala hal termasuk juga ke hal-hal yang sangat sederhana seperti dalam hal pertanian dan perdagangan di tingkat bawah.
Kemudian seiring waktu, banyak masyarakat khawatir jangan-jangan nanti kemajuan teknologi berdampak buruk bagi manusia. Manusia mulai khawatir kalau manusia akan dikalahkan oleh kecerdasan buatan atau artifisial intelijen. Manusia khawatir bahwa peran manusia akan digantikan sepenuhnya oleh robot atau kecerdasan buatan. Bangsa Jepang lebih awal mendeteksi keadaan ini. Pada tahun 2019, di Jepang diadakan pertemuan yang intinya bahwa mereka menyatakan bahwa teknologi 4.0 harus diimbangi oleh masyarakat. Masyarakat harus lebih tinggi posisinya daripada teknologi itu sendiri. Kemudian di Jepang dibentuklah satu gagasan yaitu masyarakat 5.0, dimana masyarakat harus tetap lebih tinggi posisinya daripada teknologi. Secerdas apapun kecerdasan buatan, maka manusia harus tetap lebih tinggi martabatnya.
Kemudian pada tahun 2019 akhir atau 2020 awal, terjadilah pandemi Covid-19 yang sangat luar biasa mempengaruhi kehidupan umat manusia. Seluruh dunia panik menghadapi Covid-19. Banyak terjadi pembatasan sosial dan ekonomi. Akibatnya terjadilah kerusakan sistem ekonomi dan perubahan sosial budaya yang besar-besaran, akibat dari berbagai lini kehidupan yang memaksa manusia untuk memanfaatkan teknologi.
Dunia pendidikan juga sangat terdampak. Pembelajaran secara daring dan akses informasi ke siswa terbuka lebar. Siswa bisa dengan mudah belajar mandiri. Tetapi siswa juga sangat mudah terpengaruh oleh budaya luar yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Oleh karena itu, pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang mengenali diri dan mengembangkan potensi, bakat dan minat anak tentu sangat sesuai dengan keadaan saat ini.
Melalui pemikiran Ki Hajar Dewantara ini, hendaknya kita sebagai guru bisa menuntun siswa dalam mengembangkan potensi, bakat dan minatnya untuk mencapai cita-cita sesuai dengan yang dikehendaki oleh siswa tersebut. Melalui pemanfaatan media internet dan segala kemajuan teknologi komunikasi, hendaknya siswa kita bisa lebih mudah dalam mengembangkan diri dan menambah ilmu pengetahuan.
Di sisi lain, untuk menangkal masuknya budaya dari luar yang tidak sesuai dengan budaya kita, diperlukan penguatan karakter profil pelajar Pancasila. Masyarakat kita secara umum dan siswa kita secara khusus harus tangguh dan harus menguatkan diri mereka dalam menghadapi kemajuan teknologi tersebut. Profil pelajar Pancasila yang terkait dengan keimanan, ketakwaan, akhlak mulia, mandiri, gotong royong, bersikap kreatif, kritis dan berkebhinekaan global, tentu sangat diperlukan dalam menghadapi kemajuan zaman saat ini.
Sebagai guru tentu kita harus terus mengupayakan perubahan. Kita harus berubah dan terus berusaha menjadi lebih bagus karena memang demikian yang dianjurkan dalam agama kita. Saya, sebagai guru, berkomitmen, bahwa saya harus menjadi lebih bagus dalam memberi pengajaran dan pendidikan kepada siswa, yaitu dengan cara lebih berorientasi kepada siswa, dengan lebih melihat potensi, bakat dan minat yang dimiliki siswa.














