Oleh : Mia Annisa
Ibu Pemerhati Umat, Generasi dan Buah Hati
Peristiwa memilukan kembali menimpa ibu dan anak. Berinisial B (37) tahun di Pinrang, Sulawesi Selatan tega membunuh 2 anaknya dengan memberikan racun sebelum ditemukan tewas gantung diri di rumahnya. (news.detik.com, 21/9/22). Diduga kuat karena terjadi permasalahan piutang menjadi pemicu B melakukan aksi nekatnya itu. Rumah yang mereka tinggali menjadi agunan bank yang terancam ditarik jika tak segera dilunasi.
Bahkan sebelum kematiannya B masih sempat mengirimkan voice note via WhatsApp kepada suaminya telah memberikan kedua anak laki-lakinya racun serta meninggalkan catatan hutang agar dibayarkan. Pihak suami pun mengungkapkan jika hubungannya dengan sang isteri baik-baik saja dan harmonis. Hanya saja sebelum kejadian B sempat menyuruh suaminya pergi keluar untuk menagih hutang. Diduga saat itulah B melakukan aksi nekatnya.
Kasus ibu bunuh diri hingga tega turut serta membunuh buah hatinya di Pinrang sering kita jumpai akhir-akhir ini. Entah, bunuh diri yang berujung kematian atau masih percobaan. Meskipun belum ditemukan sejumlah data akurat maraknya kasus bunuh diri sepertinya merupakan akumulasi dari tumpukan gunung es. Fenomena mudahnya hari ini orang-orang menghilangkan nyawanya sendiri.
Angka Bunuh Diri
Menurut hasil lembaga riset Earth44 10 negara di Asia Tenggara pada 100.000 penduduk Singapura berada ditingkat teratas untuk kasus bunuh diri dengan 12,3 orang disusul Thailand dan Vietnam. Indonesia berada diurutan terakhir.
Menurut Emotional Health for All Foundation (EHFA) bahwa 77 persen tingkat bunuh diri di dunia terjadi di negara dengan pendapatan rendah dan menengah seperti di Indonesia.(fimela.com, 9/9/22). Ditemukan sebanyak lebih 300% kasus bunuh diri yang tidak dilaporkan terjadi di Indonesia bahkan bisa 4 kali lipat dari jumlah kasus bunuh diri kejadian yang dilaporkan secara nasional di dunia kata Ketua EHFA, Dr. Sandersan Onie masih dilansir dari Fimela.com.
Berdasarkan hasil riset temuan kasus bunuh diri sebagian besar banyak terjadi di pulau Jawa, Bali, Maluku Utara dan Kepulauan Riau. Sedangkan provinsi dengan tingkat upaya bunuh diri tertinggi ditemukan di Sulawesi Barat, Gorontalo, Bengkulu, Sulawesi Utara.
Maraknya kasus ibu bunuh diri dan anak selayaknya menjadi perhatian mengingat sudah tak terhitung jumlahnya seorang ibu mengambil jalan pintas saat dirinya merasa putus asa terhadap problem hidup yang menderanya.
Tekanan atau himpitan ekonomi yang berat diduga menjadi pemicu. Dalam sistem yang serba kapitalistik harga-harga yang yang meroket tak terkendali menempatkan ibu pada posisi yang tak berdaya. BBM, minyak goreng, tagihan listrik. Ibu dipaksa berjuang dan menopangnya sendirian.
Selain itu sistem ekonomi kapitalistik yang kian mencekik telah mematikan rasa kemanusiaan. Adanya kesalahan penafsiran bahwa kebahagiaan segalanya diletakkan pada materi. Sabar menghadapi berbagai ujian, sabar untuk tidak melanggar sesuatu yang haram adalah kunci kebahagiaan yang bernilai pahala jauh dari sisi nilai spiritual hari ini. Tak pelak konflik internal pertengkaran/keluarga kurang harmonis turut menghampiri.
Kuatnya sistem sekuler melunturkan keimanan seseorang bahwa bunuh diri merupakan berbuatan dosa besar yang akan menggelincirkan pelakunya pada keharaman dan pertanggungjawaban dihadapan Allah SWT. Inilah yang menyebabkan kondisi keimanan bisa naik turun karena telah dikondisikan oleh sistem yang memupuknya. Sehingga wajar jika hari ini banyak manusia yang gampang rapuh, depresi, mental ilness, insecure, stres, hilang arah dan sebagainya.
Menganggap agama hanya sebatas ibadah ritual bukan sebagai problem solver atas kehidupan yang dilalui hari ini. Semua diserahkan pada logika manusia. Padahal agama merupakan benteng pertama untuk membentuk aqidah yang benar. Bahwa bunuh diri tindakan yang Allah haramkan dalam Islam, “Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu”. (QS. An Nisa : 29)
Tidak hanya didorong dalam pemantapan aqidah Islam terhadap individu agar suasana keimanan tetap kondusif. Ada beberapa mekanisme lain yang mesti dijalankan seperti mendorong laki-laki wali/suami untuk memberikan nafkah yang cukup bagi keluarganya.
Membangun hubungan persahabatan antara isteri dan suami dengan penuh kasih sayang. Pasangan yaitu suami menjadi mood booster, suport imun, tempat bercerita keluh kesah agar isteri tidak merasa sendirian menghadapi persoalan dan menyelesaikan masalah bersama-sama.
Dalam hal kebutuhan hidup tidak selayaknya semua dibebankan kepada individu Islam mewajibkan negara untuk memenuhi kebutuhan dasar individu (pangan, sandang, papan) dan kebutuhan dasar masyarakat (pendidikan, kesehatan, keamanan). Bagian dari jaminan negara tersebut adalah penyediaan lapangan kerja memadai sehingga setiap kepala keluarga bisa memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarganya secara layak. Dan termasuk tanggung jawab pendidikan adalah pemberian pemahaman yang shahih terhadap langkah-langkah penyelesaian masalah. Dengan itu seseorang tidak akan mengambil jalan bunuh diri atau jalan-jalan yang tidak benar lainnya.
Apabila seluruh mekanisme ini dilakukan sesuai tuntunan syara’ maka seorang individu tidak akan pernah mengambil jalan pintas karena problematika kehidupan ekonomi dan sosial mampu diselesaikan. Rasa tenang, aman dan nyaman atas jaminan kesejahteraan yang negara berikan atas kecukupan kebutuhan hidupnya.
Semua bisa dirasakan saat role model yang digunakan adalah syariah Islam yang diterapkan secara utuh (Kaffah) di segala lini kehidupan. Sebagaimana yang telah Allah serukan dalam firman-nya, “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu”. (QS. Al.Anfal: 24). Wallahu’alam bi shawab













