Banjarmasin, KP – Beberapa vertical garden atau taman vertikal yang beroperasi dengan sistem hidroponik di tepi jalan-jalan Kota Banjarmasin terpaksa harus dibabat oleh pemerintah setempat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarmasin, Alive Yoesfah Love mengatakan, hal itu dikarenakan rangka besi yang menyangga kantong tempat tumbuhnya tanaman hias sudah keropos lantaran termakan usia.
Hal itu membuat rangka taman vertikal miring dan malah condong ke salah satu sisi.
“Kondisi itu sangat membahayakan bagi pengguna jalan, karena itulah kami memutuskan untuk dibongkar saja untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” ucapnya saat ditemui awak media di ruang kerjanya, Jumat (2/9) sore.
Alive menjelaskan, sedikitnya ada dua titik vertical garden yang saat ini terpaksa dibongkar. Yakni vertical garden di tiang perempatan Jalan Lambung Mangkurat dan di depan SPBU Sabilal Muhtadin, Jalan Jenderal Sudirman.
Kedua titik taman vertikal tersebut, menurutnya dipindahkan ke Ruang Terbuka Hijau (RTH) atau Taman Kamboja di Jalan Anang Adenansi untuk perawatan.”Khususnya untuk tanaman hiasnya supaya tidak layu dan tetap bisa dipakai,” ujarnya.
Lantas, kapan taman vertikal yang sudah dibongkar itu akan dikembalikan lagi?
Terkait hal itu, Alive mengaku masih harus mengkoordinasikannya terlebih dahulu dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Banjarmasin. Pasalnya, ia mengaku, DLH tidak ingin keberadaan taman vertikal justru akan membahayakan pengguna jalan.
“Takutnya kalau cuaca lagi buruk dan angin deras, taman vertikal ini malah roboh dan menimpa pengendara yang melintas,” imbuhnya.
“Makanya, selain dua titik yang sudah kita bongkar tadi, ada satu taman vertikal lagi yang rencananya akan kita bongkar. Yaitu di Jalan A Yani Km 4,5, tepatnya di samping fly over,” tambahhya.
Ia membeberkan, dari sekian taman vertikal yang dipasang di tepi jalan, ada beberapa yang sudah miring akibat rangka besinya keropos.
Alhasil, saat ini taman vertikal yang dioperasikan dengan sistem hidroponik itu hanya tersisa di Jalan A yani samping fly over, Taman Antasan Kecil Barat atau Kampung Arab, RTH Kamboja, dan terakhir di RPTA (Ruang Publik Ramah Anak) di bawah Jembatan Banua Anyar,
Kemudian, belajar dari kondisi yang terjadi, Alive mengaku beberapa titik taman vertikal yang dibongkar itu rencananya akan dibangun lagi. Namun kemungkinan besar akan dibangun dengan konsep berbeda.
“Karena model taman kan terus berkembang, kalau ada yang bagus, kenapa tidak memakai itu. Tidak harus memakai pola vertical garden saja,” imbuhnya.
Bukan tanpa alasan, hal itu dikarenakan selain rangka yang cepat keropos karena sering terkena air, dari sisi perawatannya pun ribet.”Belum lagi pompa air yang kita letakkan di sana seringkali hilang dicuri. Itu jadi pertimbangan bahi kami,” ungkapnya.
Tapi, Alive melanjutkan, kalau toh kembali dibangun vertical garden dengan sistem yang sama, ia berharap agar masyarakat bisa merawat dan menjaganya.
“Jangan sampai ada lagi yang dicuri. Karena kami pun tidak bisa mengawasi 24 jam vertical garden ini,” pungkasnya. (Kin/K-3)















