Koperasi Alumni Delapan Satu Ekspor Kelapa Tua ke China

Manager Koperasi Alumni Delapan Satu, Muhammad Taufan, mengatakan, saat ini pihak eksportir meminta suplai untuk ekspor tersebut setiap bulannya antara 30 sampai dengan 50 kontainer.

BANJARMASIN, KP – Koperasi Alumni Delapan Satu bekerja sama dengan mitra usahanya CV Impima selaku eksportir melakukan ekspor kelapa tua ke Hainan dan Haikou, China. Pada ekspor perdana ini akan dikirim satu kontainer berisi sekitar 17 ton kelapa tua.

Pelepasan ekspor perdana ini berlokasi di Jalan Trans Kalimantan, Sungai Lumbah Handil Bakti, Kecamatan Alalak Kabupaten Barito Kuala, Kamis (22/9).

Kegiatan dihadiri Dinas Perdagangan Kalsel bersama Bea Cukai dan Balai Karantina Pertanian yang siap memberi dukungan berupa keperluan dokumen, konsultasi dan lainnya guna keberlanjutan ekspor.

Manager Koperasi Alumni Delapan Satu, Muhammad Taufan, mengatakan, saat ini pihak eksportir meminta suplai untuk ekspor tersebut setiap bulannya antara 30 sampai dengan 50 kontainer.

Taufan menceritakan, sebelum melakukan ekspor ini ke negeri China, pihaknya hanya melakukan pengiriman ke mitra usaha yang ada di Pulau Jawa, yaitu pabrik Virgin Coconut Oil (VCO) milik CV Alam Manunggal.

“Seiring waktu, melihat potensi sumber bahan baku kelapa yang banyak di sini, kita jadi berpikir kenapa tidak di ekspor saja sekalian. Dan Alhamdulillah kita dapat jaringan untuk mengekspor,” ujarnya, kemarin.

“Hari ini kita baru masuk satu, cuma untuk bulan September – Oktober ada 30 kontainer. Nopember – Desember mudahan bisa tembus 50 kontainer,” tambahnya.

Menurut Taufan, untuk satu pengiriman kontainer dengan muatan sekitar 17 ton tersebut nilainya sebesar Rp 50 juta. Sedangkan, per satu biji kelapa sekitar Rp 20 ribuan.

Dirinya optimis, pesanan sebanyak 50 ton tersebut akan bisa dipenuhi, dengan catatan harus ada dukungan dan kerja sama dengan petani dan pemerintah.

Berita Lainnya

DPRD Dorong Koperasi dan UMKM Berkembang

1 dari 1.647
loading...

“Stoknya cukup, sudah kita hitung. Jadi tidak ada yang terbuang. Yang tidak masuk ke pasar ekspor akan kita lempar ke pasar lokal. Yang pecah atau reject bisa kita bikin untuk kopra,” katanya.

Selama ini, kata Taufan, Koperasi Alumni Delapan Satu yang beranggotakan sekitar 1.500 orang yang berasal dari Kalsel dan Kalteng ini hanya menggunakan modal mandiri. Dia berharap ke depannya pemerintah dapat memberikan support agar usaha mereka bisa berlari lebih cepat.

“InsyaAllah tahun depan kita akan bangun pabrik VCO di sini. Kalo sudah ada pabrik, satu biji kelapa tidak ada yang terbuang. Mulai dari serabut hingga airnya semuanya berguna. Investasinya sekitar Rp 10 Miliar,” ungkap Taufan.

“Kita juga ada tawaran dari Jepang untuk menyiapkan VCO sebanyak 250 ton per bulan, tapi masih kita pikiran terutama untuk bahan bakunya,” pungkasnya.

Sementara, Kepala Dinas Perdagangan Kalsel, Birhasani, menyampaikan, pemerintah provinsi sangat menyambut baik ekspor ini.

“Kami menyambut baik karena Kalsel bisa menambah pasar secara internasional. Pastinya, ekspor ini juga berdampak pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani,” ujar Birhasani.

Dia juga berharap agar pemerintah kota dan kabupaten dengan jajaran SKPD terkait agar terus mengembangkan gerakan menanam kelapa dalam menjaga keberlanjutan suplai ke depannya.

Birhasani menambahkan, agar ekspor ini terus berkesinambungan, tentu perlu memelihara dan berupaya meningkatkan kuantitas dan kualitas pohon kelapa yang sudah ada.

Dia juga berpesan untuk menjaga kualitas produk, kuantitas, kontinuitas, standar produk yang disepakati dan tentunya harga yang bersaing.

“Jika kelima hal tersebut menjadi kesepakatan dan komitmen bersama kedua pihak, maka kemitraan tersebut akan berkelanjutan dan masyarakat petani pun akan turut mengambil manfaatnya,” jelasnya. (Opq/K-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya