Space Iklan
Space Iklan
Space Iklan
OPINI PUBLIK

Menanamkan Rasa Percaya Diri dan Tanggung Jawab Pada Anak

×

Menanamkan Rasa Percaya Diri dan Tanggung Jawab Pada Anak

Sebarkan artikel ini

Oleh : Agus Kriswanto
Kepala Sekolah SDN Purwodadi, Kec. Angsana

Anak yang baru masuk Sekolah Dasar kelas 1 biasanya canggung dan tidak percaya diri dalam aktivitas pembelajaran. Anak perlu waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Baik dengan teman-teman sekelasnya, atau pun dengan guru yang mengajarnya. Anak akan memperhatikan karakter dan metode guru mengajar. Menyikapi hal demikian ibu biasanya pada bulan pertama dan kedua, disamping mengantar anak sekaligus juga memantau aktivitas anak di sekolah. Karena anak di awal tahun pelajaran sering sensitive; mudah menangis. Apalagi menghadapi pelajaran baru di sekolah yang dianggap sulit bagi anak.

Percaya diri adalah sebuah rasa percaya akan kemampuan diri sendiri untuk melakukan satu tugas dengan baik. Percaya diri juga berarti memahami diri akan kelebihan dan juga kekurangannya yang dibalut dengan pandangan positif terhadap diri sendiri.

Menurut Burhanudin (2000:43) tanggung jawab adalah kesanggupan untuk menetapkan sikap terhadap suatu perbuatan atau tugas yang diemban dan kesanggupan untuk memikul resiko dari sesuatu perbuatan yang dilakukan. Sedang definisi tanggung jawab menurut KBBI adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan dsb.).

Seorang guru perlu sabar dan telaten menghadapi siswa barunya dalam kelas. Dalam pelajaran membaca, menulis atau pun berhitung (Matematika) seringkali siswa baru belum berani tampil jika ditunjuk. Misalnya ditunjuk membaca, anak jika ditunjuk kalau dia tidak bisa pasti akan menangis. Itu ekspresinya ketika menghadapi hal yang dia tidak bisa. Bagi guru, solusi yang tepat dalam menunjuk anak adalah menunjuk mereka membaca bersama dengan temannya; dengan sistem menunjuk membaca anak berdua, atau bertiga. Kalau menunjuk membaca satu persatu pada anak maka nantinya ada anak yang belum lancar membaca pasti diam lalu menangis.

Baca Juga:  Doa Semua Agama, Liberalisasi Akidah Makin Dipertontonkan

Ibu-ibu biasanya memantau anaknya belajar di kelas dari kejauhan. Ini sebenarnya salah satu strategi yang dilakukan orang tua pada anaknya agar timbul rasa percaya diri belajar di kelas; belajar mengikuti pelajaran dan sekaligus belajar bergaul dengan teman-teman sekelasnya. Memang di awal dia masuk bangku sekolah dasar biasanya timbul perasaan takut. Takut kalau nggak punya teman. Takut kalau tidak bisa jika disuruh membaca oleh guru dll.

Bagi guru kelas rendah; kelas 1 memang harus sabar. Harus memahami jiwa anak. Masing-masing anak memiliki perbedaan karakter. Memiliki perbedaan kematangan jiwa. Ada anak memiliki sifat pemberani dan ada pula anak yang penakut. Setiap perkataan guru supaya tidak menyinggung perasaan anak. Ada kita jumpai anak yang jika ditunjuk membaca atau menyanyi dia takut. Dia tidak mau bersuara baik membaca atau pun menyanyi. Akhirnya lama-kelamaan dia menangis. Bagi guru apabila menjumpai anak demikian harus ekstra sabar. Karena perkataan guru dengan maksud menyuruh duduk kembali, bisa jadi anak takut dan pulang dengan membawa tasnya.

Orang tua (ibu) juga harus sabar, dan paham perilaku anaknya. Jika melihat anaknya menangis keluar kelas dengan membawa tasnya dan tidak mau masuk lagi ke dalam kelas. Ini PR ibu untuk membujuk, menanamkan kepercayaan pada anak agar tetap mau sekolah esok harinya. Bisa ditanya problem anak di dalam kelas apa? Agar ibu bisa membantu. Mungkin anak belum bisa membaca atau bisa membaca tetapi belum lancar. Tugas ibu mendampingi dan mengajari anak di rumah hingga bisa. Agar anak percaya diri ketika esok hari di sekolah ditunjuk untuk membaca, menyanyi atau pun berhitung (Matematika).

Rasa percaya diri bukan terbentuk dari sejak lahir atau keturunan. Rasa percaya diri terbentuk oleh proses sosialisasi atau hubungan yang telah dijalani dalam lingkungannya, selama perjalanan hidupnya. Dengan kata lain, rasa percaya diri terbentuk dari berbagai macam pengalaman yang terjadi pada saat berinteraksi sosial baik dengan lingkungan yang baru ataupun dengan lingkungan yang lama.

Baca Juga:  Ghirah Persatuan Dalam Momentum Haul Guru Sekumpul

Interaksi atau hubungan sosial ini bisa dilakukan mulai dari lingkungan keluarga; dengan ibu, ayah, kakak, paman, bibi, atau kakek dan nenek. Karena keluarga biasanya merupakan lingkungan terdekat yang dimiliki oleh seseorang, dalam hal ini seorang anak. Di dalam sebuah keluarga seorang anak bisa memperoleh pendidikan yang akan bermanfaat bagi kehidupannya di masa depan.

Penanaman rasa percaya diri oleh orang tua (ayah dan ibu) adalah penting bagi anak. Karena merupakan motivasi diri anak meraih prestasi dengan kompetensi yang dimilikinya. Dalam ulangan misalnya, tidak perlu menyontek karena sudah belajar dan pasti bisa. Hal inilah yang perlu ditanamkan oleh orang tua (ayah dan Ibu) di rumah dan juga guru di sekolah. Dengan tidak mengesampingkan rasa syukur pada Allah SWT. Intinya kalau anak belajar dengan rajin di rumah, dengan bimbingan orang tua maka anak akan memiliki rasa percaya diri tatkala mengikuti pelajaran di sekolah.

Manfaat percaya diri bagi anak, antara lain; pertama, meningkatkan kemampuan belajar. Kedua, akan membentuk mental yang kuat dalam menghadapi banyak hal. Ketiga, menimbulkan keyakinan yang kuat terhadap kemampuan diri sendiri. Keempat, bisa membuat hidup menjadi lebih menyenangkan.

Selain anak memiliki rasa percaya diri dalam belajar. Pada anak juga perlu ditanamkan rasa tanggung jawab. Bagi ibu di rumah, bisanya memberikan tugas ringan artinya tugas yang bisa dilakukan oleh anak dan tidak membebani/memberatkan anak. Serta tidak menganggu waktu belajarnya. Misalnya; setelah pulang sekolah anak harus menyimpan tasnya di meja belajar. Meletakkan baju seragam pada tempatnya. Demikian pula meletakkan sepatu pada raknya. Tambahan lagi tugas menyapu lantai misalnya, setelah pulang sekolah dan seterusnya. Kebiasaan tersebut jika dilaksanakan secara teratur oleh anak maka secara tidak langsung kita sudah menanamkan tanggung jawab pada anak. Jika anak lalai/lupa melakukan hal tersebut maka orang tua wajib mengingatkan agar anak mau melakukan tugas yang menjadi tanggung jawabnya tersebut.

Baca Juga:  Isu Gender yang Menyejahterakan?

Kalau di sekolah, biasanya guru juga menanamkan hal tersebut misalnya tentang tugas piket. Siswa yang mendapat giliran tentu akan tertib melaksanakan tugas piket bersama teman-teman yang terjadwal pada hari itu. Selain menyapu, menyiram tanaman bunga dalam pot, anak yang tugas piket juga membersihkan meja; meja guru dan siswa dengan kemuceng/sulak. Ini tugas piket, merupakan contoh bahwa guru menanamkan rasa tanggung jawab kepada seluruh siswa dengan tugas piket secara terjadwal.

Dengan menanamkan rasa percaya diri dan tanggung jawab pada anak sejak dini, akan melatih anak memantapkan karakternya. Sehingga anak bisa memaksimalkan kompetensi yang ada pada dirinya. Sehingga kelak menjadi anak yang insya Allah jujur dan bertanggung jawab.

Iklan
Iklan