Monica Putri Rasyid melalui KKB Vol 4.2 Hadirkan
Bang Jabran Bahas Mindset Digital Marketing

Palangkaraya, KP – Klinik Bisnis telah melaksanakan Kelas Klinik Bisnis Volume 4.2 yang berupaya memfasilitasi para penggiat UMKM baik mitra maupun non mitra binaan Klinik Bisnis yang berkemauan besar untuk belajar mengembangkan bisnisnya. Dalam Volume ke-4 di semester 2 ini, Klinik Bisnis mengangkat tema “Mindset Digital Marketing”.

“Kelas Klinik Bisnis bertema “Mindset Digital Marketing” ini diharapkan mampu membantu para penggiat UMKM dan peserta umum lainnya yang masih kebingungan dalam hal menerapkan digital marketing untuk usahanya, terlebih di Era teknologi yang serba digital saat ini menjadi tantangan bagi para penggiat UMKM agar lebih tangguh bersaing dengan kompetitor yang ada,” ujar Muhammad Asary, Koordinator Klinik Bisnis.

KKB Vol. 4.2 menghadirkan seorang Brand Activist, yang juga merupakan Founder Platform Jagoan Branding. Dia juga seorang couplepreneur dan FnB Enthusiast, adalah Romi Angger Hidayat, SE atau yang akrab disapa Bang Jabran.

Sebagai pengantar awal paparannya Bang Jabran menyampaikan bahwa terkadang kita selalu berpikir ngebranding adalah sesuatu yang mahal, padahal nyatanya tidak selalu mahal. Sama halnya mindset digital marketing, kebanyakan dari kita takut akan biaya mahal dan bingung harus memulai dari mana. 

“Itulah mengapa pentingnya menerapkan branding dan digital marketing untuk suatu brand, dimana kita harus punya growth mindset, pemikiran untuk terus bertumbuh,” tutur Bang Jabran.

Pria yang saat ini berdomisili di Cilacap, Jawa Tengah ini juga menyampaikan pentingnya untuk beradaptasi dengan perubahan yang sangat cepat terjadi. 

Sekarang kita hidup di era society 5.0 bersamaan juga dengan era industri 4.0 dimana banyak sekali bisnis raksasa yang sudah tumbang, pergerakan bisnis yang selama ini mendominasi berpuluh-puluh tahun akhirnya kalah dengan kompetitor baru. Hal tersebut dikarenakan tidak mampu beradaptasi dengan teknologi saat ini.

Menurut bang Jabran, kreativitas adalah melihat masalah sebagai peluang. Itulah mengapa pentingnya beradaptasi dengan tantangan kemajuan teknologi saat ini didukung kreativitas dan perubahan pola pikir.
 
“Perubahan masif menuju era digital, tidak cukup hanya disikapi dengan modernisasi teknologi gadget tapi membutuhkan perubahan mindset/ pola pikir yang lebih mendasar,” ungkap Bang Jabran.

Dalam paparannya, bang Jabran juga menyampaikan klasifikasi fixed mindset dan growth mindset. Dimana fixed mindset artinya menganggap kegagalan adalah batas dari kemampuan kita. Sedangkan growth mindset menganggap kesalahan/kegagalan sebagai kesempatan untuk tumbuh, sehingga jika kita ingin melampaui sesuatu, memiliki pola pikir yang mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi saat ini maka harus memiliki growth mindset tersebut. Inilah salah satu konsep dalam mindset digital marketing.

Selanjutnya perlu untuk memahami Konsep Iteration (membuat hal yang sama lebih baik), Inovation (membuat hal-hal baru), dan Disruption (membuat banyak hal baru, sehingga yang lama jadi ketinggalan/kuno).

Bang Jabran dalam presentasinya tak lupa mengajak audiens untuk menyamakan persepsi tentang Brand. Dia belajar dari Pak Bi atau Subiakto Priosoedarsono yang merupakan gurunya, seorang pakar branding yang telah memberikan dedikasi karyanya selama 50 tahun dalam hal branding.

Menurutnya Love is value, value is brand, maksudnya, brand itu adalah sebuah nilai, yang dimana nilai itu muncul karena cinta. Dalam brand, kita bukan hanya menjual produknya tapi nilai dari sebuah brand tersebut. Slogan, logo, produk, packaging hanyalah permukaan saja, yang optimal adalah nilai brand itu sendiri.

Ketika kita memiliki sebuah brand ekuitas artinya kita mencapai puncak dari tujuan sebuah brand, dimana sudah memiliki image, loyalitas, awareness, kualitas dan identitas. 

Berita Lainnya
1 dari 7
loading...

Tak hanya konsep brand saja, pria yang aktif dalam kegiatan sosial ini juga membahas pentingnya Marketing, Selling dan Branding yang harus jalan bersamaan. Meskipun ketiganya memiliki tujuan yang berbeda-beda.

“Marketingnya Branding adalah bagaimana konsumen punya jati diri, Marketingnya Selling adalah mengetahui berapa banyak yang mau kita peroleh. Sedangkan kunci branding ada pada ikatan emosional, apa yang diperoleh konsumen melalui produk yang kita jual. 

Branding tujuannya untuk memperoleh loyalitas konsumen (jangka panjang), marketing tujuannya permintaan/demand (jangka menengah), dan Selling tujuannya untuk closing (jangka pendek),” jelas Bang Jabran menyampaikan.

“Brand berguna menciptakan Top of Mind, dimana brand kita akan diingat oleh pelanggan. Marketing tujuannya untuk membangun kebutuhan konsumen, sasarannya target market. Kalau Selling untuk membuat konsumen membeli secepat-cepatnya,” tambahnya.

Hal yang perlu diingat, Brand adalah ikatan emosi antara produk dengan konsumen, dimana titik kritisnya terletak seberapa brand kita bisa menciptakan nilai. Contohnya ikatan emosional wardah adalah #Halaldariawal, membuat tagline nilai relevan antara produk dengan konsumen. 

Sebenarnya kita mampu membuat brand kita dikenal banyak orang, sekalipun tidak memiliki logo yang jelas. Alasannya adalah karena Brand membangun sebuah kepercayaan/ reputasi. Jika masyarakat sudah kenal dengan brand bahkan menjadi konsumen loyal. Maka dengan sendirinya membranding produk tersebut.

Contohnya Kopi Asiang, dan Kopi Klotok yang tidak punya logo tapi punya brand dengan ikatan emosi. Namun demikian Brand bagus saja tidak cukup, perlu sustainable dengan cara memiliki strategi jangka panjang dan pendek yang berkesinambungan.

Kemudian yang sangat luar biasa, terkait 2 hal yang dibagikan oleh bang Jabran, yaitu konsep thematic dan tactical. 

“Thematic adalah dengan menentukan tema jangka panjang agar Brand kita memiliki guideline yang jelas, konsisten membahas hal yang sama selama 3 bulan, 6 bulan atau 1 tahun. Contoh brand kebab Markab Kebab Akrab yang saya dan istri miliki. Kami konsisten menerapkan 
thematic ketika menjalankan aktivasi digital dengan kata AKRAB secara terus menerus untuk membranding produk,” terangnya.

“Tactical adalah dengan memberikan kejutan-kejutan sesaat dengan target jangka pendek, misalkan melalui promo pada momentum tertentu” tambahnya.

Bang Jabran juga menyampaikan teori AISAS (Attention, Interest, Search, Action, Share ) yang dimana menekankan kekuatan testimoni/ word of mouth dalam menciptakan real konsumen.

Hal tersebut tidak terlepas dengan adanya mekanisme pikiran yang terdiri dari Conscious Mind (Pikiran Sadar) 12% dan Subconscious Mind (Alam Bawah Sadar) 88%. Kekuatan Brand saat ini didukung digital marketing yang bagus membuat pikiran sadar kita semakin tidak berdaya atau terhipnotis dengan brand yang diberikan.

Di akhir kelas, Bang Jabran mengucapkan terima kasih kepada Abdul Rasyid Foundation dan Klinik Bisnis yang telah memberikan dampak dan manfaat untuk banyak pihak. Dia juga mendorong peserta kelas untuk terus berjuang, karena menurutnya musuh terbesar dalam membangun brand adalah pemikiran yang instan.

Pada kesempatan berbeda, Monica Putri Rasyid selaku CEO Abdul Rasyid Foundation dan Klinik Bisnis menyampaikan harapan untuk Kelas Klinik Bisnis.

“Semoga Kelas Klinik Bisnis dapat terus berdampak dan bermanfaat bagi para penggiat UMKM, baik mitra binaan Klinik Bisnis maupun non mitra untuk meningkatkan kualitas produk dan usahanya sehingga mampu scale-up secara optimal dengan aktivasi go digital di era teknologi saat ini,” pungkas Monica. (KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
Berita Menarik Lainnya

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya