Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Teladan Pahlawanku

×

Teladan Pahlawanku

Sebarkan artikel ini

Oleh : Sala Nawari
Pendidik & founder Rumah KeCe Ahmad

Pahlawan adalah orang yang menonjol keberaniannya dalam membela kebenaran dan kedzaliman. Patriotism di era penjajahan fisik, nilai juang kepahlawanan sangat jelas dirasakan yang lahir secara lamiah oleh adanya tekanan dan siksaan yang dirasakan secara fisik jelas terlihat denga luka-luka dan kekerasan yang dialami masyarakat.

Kalimantan Post

Berbeda di era kebebasan milineal dan era digital. Menemukan sosok pahlawan patriot, gagah berani melawan musuh sampai berdarah-darah tidaklah akan ditemukan. Hanya ilustrasi dalam film dan game kepahlawan yang kadang justru salah menginspirasi.

Kadang yang berlaku justru bukan nilai kepahlawanan yang ditampilkan yang menjadi teladan, malah sebaliknya aktor pemain film itu yang dijadikan idola teladan. Bahkan Pemain game rela lupa makan minum untuk tidak melepas jarinya dari permainan tarung tokoh pahlawan yang dimainkannya agar tidak kalah. Tidak bisa disangkal, modernisasi berperan dalam mengikis nilai kepahlawanan.

Patriotisme atau semangat kepahlawanan adalah semangat mempertahankan diri dari ancaman luar. Dalam pandangan pembangunan dan masyarakat Indonesia merdeka memang semangat itu tidak diperlukan, karena tidak ada ancaman penjajah fisik.

Setelah Perang Dunia II memang tidak ada lagi penjajahan fisik secara vulgar. Setelah memerdekakan negara Asia–Afrika pada Perang Dunia II, Amerika Serikat langsung mengambil estafet kepemimpinan imprealisme dengan marshal plannya menuntut dunia untuk berada dibawah payung sakularisme. Perlu adanya analisis lanjutan, bahwa sebenarnya penjajahan telah berevolusi menjadi penjajahan atau imprealisme gaya baru.

Secara politik, Indonesia adalah bangsa yang masih sangat bergantung kepada asing untuk membuat keputusan politik. Hingga saat ini pun intervensi dan campur tangan asing di Indonesia dalam bidang ekonomi terus dijalankan kreditor internasional (IMF, Bank Dunia, ADB), perusahaan multinasional serta negara maju yang bermuara pada kepentingan AS dan sekutunya. Indonesia saat ini terjerat dalam perangkap utang yang hampir tidak mungkin bisa dibayar.

Baca Juga :  Saling Serang Ira n- Israel dan Amerika, Muslim Harus Kompak

Mengutip Syekh Taqiyuddin An-Nabhani, penjajahan adalah dominasi politik militer, budaya dan ekonomi atas bangsa lain dalam mengeksplorasinya. Dengan demikian, sesungguhnya Indonesia masih dibawah penjajahan, yaitu penjajahan ideologi sekuler kapitalisme.

Nilai kepahlawanan pun berubah sesuai ideologi yang mengintervensi. Meskipun kemerdekaan sudah diproklamasikan, rakyat serasa masih tertindas. Semuanya makin diperparah dengan merosotnya nilai moral pemuda oleh media massa yang menjajakan kebebasan dan gaya hidup hedonis. Memenangkan event pesta dan hiburan kapital di kancah internasional dianggap pahlawan karena membawa harum nama Indonesia, seperti pertandingan olahraga. Peragaan busana dan ajang kecantikan meski harus memamerkan aurat tetap dianggap sebagai pahlawan. Bahkan sebagai duta pun tidak harus cerdas dan kuat. Cukup hanya dengan nyeleneh dan sedikit berani bodoh saja sudah bisa otomatis menjadi Duta. Tidak tanggung-tanggung, pernah seorang artis yang tidak hafal Pancasila, justru menjadi duta Pancasila.

Jadilah nilai kepahlawanan dalam sistem sekuler kapitalis adalah ketenaran dan mudahnya memperoleh materi. Masyarakat khususnya pemuda bebas mewujudkan ekspresi jiwanya asal membawa kemanfaatan materi. Keteladan pun akan berfokus kepada lifestyle yang diajarkan oleh sistem ini. Sehingga wajar tawuran, kekerasan, minuman keras, seks bebas, penyakit menular, maniak game pada akhirnya menjadi warna generasi Indonesia sekarang.

Ideologi yang siap mengahadapi penjajahan gaya baru ini adalah Islam yang kokoh dengan landasan akidah, yang memancarkan peraturan ilahi berupa syariah yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia secara umum, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan kemanan.

Pahlawan-pahlawan Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan adalah mereka yang dijiwai oleh ideologi Islam. Seperti Bung Hatta dan Bung Tomo, mereka dikenal memulai perjuangan dengan menumbuhkan kecintaan kepada Allah. Perjuangan yang dikuatkannya adalah karena kemuliaan yang dijanjikan oleh Allah kepada jiwa dan masyarakat yang merdeka.

Baca Juga :  Dari Telur Terbang ke Stadion 17 Mei, Antusiasme Fans Barito Putera dan Tantangan Manajemen

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengingat sejarah. Semangat keteladan para pejuang Indonesia akan memberikan keteladan yang kuat bagi pemuda dengan landasan aqidah membebaskan negara dari belenggu imprelisme gaya baru yang menjajah tidak secara fisik, justru secara soft dan kenikmatan semu. Jiwa pahlawan pada generasi juga dimulai dari lingkup keluarga dan masyarakat.

Teladan pahlawan terbaik membentuk dan memelihara jiwa kepahlawanan adalah memahami Islam sebagai ideologi atau sistem yang mampu menjadi problem solving of live. Wallahu’alam bishshawab

Iklan
Iklan