Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Menjadi Pemilih Cerdas pada Pemilu 2024

×

Menjadi Pemilih Cerdas pada Pemilu 2024

Sebarkan artikel ini

Oleh : Ade Hermawan
Pemerhati Pemilu

Kata “cerdas” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti sempurna perkembangan akal budinya untuk berpikir dan mengerti. Pengertian ini memberikan gambaran bahwa manusia yang cerdas adalah manusia yang memiliki kemampuan untuk berpikir sekaligus memahami realitas untuk kemudian berdasarkan hal tersebut bisa menentukan pilihan terbaiknya.

Kalimantan Post

Dalam konteks pemilu, kata cerdas sering dipasangkan dengan kata “Pemilih”, yaitu kita kenal dengan istilah “Pemilih Cerdas”. Karakteristik Pemilih cerdas adalah saat memilih bebas dari segala bentuk pengaruh orang/pihak luar, memilih parpol atau calon berdasarkan program kerja yang menekankan pada perjuangan mencapai kesejahteraan rakyat, bukan berdasarkan figur yang ada di dalamnya, memilih calon yang memang benar-benar bisa dipercaya tingkat moralitasnya, memilih calon tidak berdasarkan pertimbangan besarnya nama figur semata, dan menggunakan pengalaman pemilu di masa lalu sebagai bahan perbandingan untuk menentukan pilihan pada Pemilu mendatang.

Cerdas dalam memilih menjadi aspek penting yang wajib dimiliki oleh setiap warga negara. Masyarakat sebagai pionir demokrasi diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran politik sebagai pemilih untuk menggunakan hak pilihnya. Indonesia ke depannya ditentukan oleh pilihan politik pemilih yang objektif dan mengedepankan rasionalitas.

Sebagai warga negara Indonesia yang sudah memenuhi syarat menjadi pemilih dalam pemilu, pemilih harus menyadari hak pilih sangatlah penting. Satu suara saja sangat berarti dan dapat menentukan masa depan Indonesia. Oleh karena itu, kesempatan ini hendaknya tidak disia-siakan. Partisipasi dalam Pemilu oleh pemilih harus ditingkatkan agar angka golongan putih (golput) dalam pemilu menurun.

Jika menginginkan pemimpin yang berkualitas dan mampu mengabdi pada rakyat, maka semua harus cerdas dalam memilih calon pemimpin yang sengaja memoles dirinya dengan citra yang baik dan mana calon pemimpin sejati yang siap mengabdikan diri untuk Negeri. Ingatlah, bahwa masa depan Negeri ini tergantung pada para Pemimpin dan pada kecerdasan kita dalam memilih.

Kita harus cerdas dalam memilih agar kelak tidak akan menyesali keputusan. Jangan sampai seseorang yang tak pantas menjabat sebagai pemimpin menjadi penguasa Negeri ini. Jangan sampai nantinya akan dibuat susah dan menderita oleh orang yang haus akan kekuasaan.

Menjadi pemilih cerdas pada Pemilu 2024 adalah suatu keharusan untuk menghasilkan para pemimpin berkualitas, yang berkomitmen mensejahterakan rakyat dan memajukan bangsa. Untuk menjadi pemilih cerdas pada Pemilu 2024, maka sikap atau tindakan yang dapat dilakukan oleh seorang pemilih cerdas adalah :

Pertama, pemilih cerdas akan menggunakan hak pilihnya dengan baik. Jangan meremehkan suara Anda. Perbedaan satu suara pun bisa membawa pengaruh yang sangat besar. Pemilu merupakan kesempatan bagi Anda untuk memilih calon pemimpin dan pejabat pemerintahan negara. Artinya, masa depan kita dan negara berada di tangan sendiri. Jika memilih untuk bersikap apatis, bisa-bisa tanggung jawab ini jatuh ke orang yang salah.

Kedua, pemilih cerdas berusaha mengenali para calon berikut dengan visi misinya. Pemilih yang cerdas akan menelusuri informasi rekam jejak calon pilihannya, mulai dari latar belakang, pendidikan, keluarga, aktivitas sosial dalam lingkungannya, apa saja karyanya, dan kerja yang sudah dilakukan untuk orang banyak. Kemudian, perhatikan visi misi yang dibuat, apakah sudah relevan dan sesuai dengan kebutuhan di masyarakat atau belum. Pemilih cerdas akan memilih calon pemimpin yang memiliki program kerja yang terukur dan tentunya realistis untuk dijalankan. Bukan program kerja yang dibuat hanya untuk menarik simpati publik. Calon yang baik biasanya tahu persis permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat dan menawarkan sebuah solusi untuk mengatasinya.

Baca Juga :  Panic Buying BBM Dan Urgensi Kedaulatan Energi

Ketiga, pemilih cerdas mengetahui mekanisme Pemilu. Jangan sampai, proses pemilihan jadi terhambat atau suara menjadi tidak sah hanya karena Anda kurang memahami mekanismenya. Dalam hal ini pemilih cerdas akan melakukan : memastikan namanya terdaftar sebagai pemilih, mengetahui cara mencoblos yang benar, mengetahui lima jenis surat suara yang akan didapat di TPS, dan datang ke TPS pada hari pencoblosan.

Keempat, pemilih cerdas mengamati kampanye yang dilakukan calon pemimpin. Calon yang baik biasanya dalam kampanye lebih banyak mendengarkan keluhan dari rakyat, lihat bagaimana calon pemimpin melakukan kampanye, calon yang baik tidak akan melakukan pelanggaran dalam kampanye bahkan sekecil apapun. Jika ada kampanye yang menganggu atau merusak, dapat dipastikan itu bukanlah calon yang baik apalagi jika ada calon yang sibuk menjelek-jelekan lawannya.

Kelima, pemilih cerdas berusaha mengetahui tim sukses calon pemimpin. Hal ini terkadang luput dari perhatian kita, banyak kasus para pemimpin di Negeri ini karena dia dikelilingi oleh orang-orang rakus dan tamak akan kekuasaan. Akibatnya, pemimpin pun terjerumus dalam lembah korupsi. Pemilih cerdas harus melihat siapa saja lingkaran jaringan calon pemimpin, carilah calon pemimpin yang dikelilingi oleh keluarga yang baik, kawan-kawan yang baik, dan mesin politik yang baik pula.

Keenam, pemilih cerdas tidak mudah termakan hoax dan terpecah belah oleh isu sara. Seperti yang diketahui bahwa sosial media saat ini marak menyebarkan berita hoax yang disebarkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab untuk membuat kerusuhan dan suasana politik semakin panas. Dan biasanya para pendukung yang anarkis yang menyebarkan hoax untuk memenangkan pemimpin pilihannya. Bahkan permasalahan agama dan golongan saat ini pun kian menjadi, entah dimana rasa persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia saat ini. Pemilih cerdas harus bijak dalam menanggapi suatu berita, jangan sampai termakan hoax dan terpecah belah oleh isu sara.

Ketujuh, pemilih cerdas menolak money politics. Pemilih yang cerdas tidak akan pernah tergoda untuk menerima tawaran pemberian sejumlah uang. Money politic adalah bentuk pengkhianatan terhadap demokrasi dan pelecehan terhadap masyarakat sebagai pemilih. Pemilih cerdas berdaulat tanpa ada intervensi politik oleh siapapun dan dalam bentuk apapun. Pemilih cerdas akan memilih putra-putri terbaik bangsa yang layak untuk duduk di parlemen dan memimpin negeri tercinta Indonesia.

Baca Juga :  Post-Lebaran Blues: Pergeseran Makna Lebaran antara Kearifan Lokal dan Tekanan Sosial Modern

Menurut Titi Anggraini dari Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), ada sejumlah hal yang harus diperhatikan untuk menjadi pemilh yang baik, yaitu : Pertama, memberikan atensi yang sama terhadap Pemilu ruang publik saat ini lebih didominasi oleh pembahasan soal Pemilu Presiden. Dikhawatirkan, hal ini akan mengalihkan perhatian publik kepada hal-hal yang berkaitan dengan Pilpres serta mengesampingkan Pileg. Padahal, untuk mewujudkan pelayanan publik yang baik, tidak cukup dengan memilih presiden yang sesuai dengan harapan, tetapi parlemen yang baik juga dibutuhkan supaya presiden dapat bekerja dengan optimal. Oleh karenanya, penting dilakukan pencermatan terhadap calon legislatif supaya nantinya parlemen diisi oleh para wakil rakyat yang memang diharapkan. Kedua, mengenali caleg yang sesuai aspirasi politik pribadi di tengah banyaknya calon, tidak mudah untuk mengenali satu per satu caleg. Untuk mempermudah pencermatan, pemilih bisa mulai mengenali caleg yang dirasa sejalan dengan aspirasi politik pemilih secara pribadi. Sedangkan untuk mengetahui aspirasi politik secara pribadi, pemilih bisa mengidentifikasi hal yang menjadi kebutuhan pribadi dan masyarakat dalam penyelenggaraan kehidupan bernegara. Ketiga, mencermati program, gagasan, hingga rekam jejak calon Setelah mengetahui aspirasi politik pribadi, pemilih dapat mencermati program dan gagasan yang ditawarkan oleh caleg. Langkah tersebut harus diimbangi dengan pengamatan rekam jejak calon. Jangan sampai, program yang ditawarkan hanya berupa janji tanpa adanya realisasi. “Kadang-kadang kan para calon itu bisa saja menyusun janji-janji manis. Teks-teks yang indah, tetapi ternyata tidak punya kredibilitas dan rekam jejak untuk direalisasikan. Bahkan, pemilih juga harus cermat terhadap kasus hukum yang mungkin saja menjadi rekam jejak caleg. Dengan begitu, pemilih punya banyak pertimbangan dalam menentukan pilihannya. Mencari rekam jejak caleg di era digital seperti saat ini tidak sulit. Pemilih bisa dengan mudah mencari tahu riwayat hidup calon wakil rakyat melalui media daring, atau mencermati pernyataan-pernyataan caleg di sejumlah pemberitaan. Keempat, mencermati calon yang diusung partai politik yang sejalan dengan ideologi pribadi Jika dengan cara-cara di atas pemilih masih juga kesulitan menentukan pilihan, solusinya adalah mencermati caleg dari partai yang sejalan dengan ideologi pribadi, untuk kemudian melakukan pencermatan lebih lanjut.

Akhirnya, pilihan ada di tangan kita semua untuk menentukan pemimpin negeri ini. Memang memilih itu mudah, tetapi pertanggung jawaban pilihan itu memerlukan pertimbangan yang matang. Memang tidak ada calon pemimpin yang sempurna, tetapi harus berusaha untuk mencapai kesempurnaan itu. Ingatlah bahwa nasib bangsa ini ada pada kita semua. Maka lakukanlah yang terbaik untuk mencapai tujuan yang mulia, jika menginginkan pemimpin berkualitas maka jadilah pemilih cerdas. Pemilih yang cerdas, insya Allah akan menghasilkan pemimpin yang jujur, cerdas, adil, dan mampu menjaga amanah.

Iklan
Iklan