Oleh: Ahmad Barjie B
Penulis buku “Urang Banjar Tulak Madam”
Unjun papuyu umpan karangga
Lalu disanga baminyak lanjar
Urang Banjar di banua dan mancanegara
Mari bergerak untuk kemajuan Banjar
Pengukuhan Pengurus Pusat Kerukunan Bubuhan Banjar (PP-KBB) sedunia masa bakti 2022-2026 dilakukan di Mahligai Pancasila Banjarmasin pada 22 Januari 2023. Pengukuhan dilakukan Ketua Umum terpilih, H Sahbirin Noor. Usai sambutan Paman Birin, ditayangkan pula ucapan selamat dari beberapa tokoh Banjar dalam negeri dan mancanegara, seperti Fadjroel Rahman yang saat ini menjadi Dubes RI di Tajikistan dan Kazackstan, dari tokoh Banjar di Australia, Malaysia, Singapura, Brunei, Belanda, Hongaria, Makkah, dan sebagainya.
Paman Birin dalam memimpin PP-KBB didampingi Sekretaris Umum Datu Dr Taufik Arbain, Bendahara Umum Abdi Noor Sulaiman HB dan sejumlah pengurus. Mengingat KBB ini bersifat global sedunia, maka selain ada koordinator wilayah se-Indonesia ada juga koordinator wilayah mancanegara. Diharapkan semuanya saling berkomunikasi, menopang dan bersinergi untuk kemajuan Banjar ke depan.
Sahbirin Noor terpilih menggantikan Rudy Ariffin yang sudah menakhodai KBB Sedunia 17 tahun terakhir. Saat pembukaan Kongres Budaya Banjar VI dan Seminar Kerukunan Bubuhan Banjar I di tempat yang sama Desember 2022, Rudy Ariffin memang memberi sinyal bahwa beliau yang begitu lama di PP-KBB sudah waktunya digantikan oleh kader yang lebih muda. Kita ucapkan terima kasih atas pengabdian Bapak Rudy Ariffin, selamat dan sukses untuk Paman Birin.
Banyak Potensi
Kerukunan Bubuhan Banjar Sedunia ke depan berpotensi untuk maju, hal ini didukung oleh beberapa faktor. Pertama, urang Banjar boleh dikatakan ada di mana-mana, tidak hanya di Indonesia, juga mancanegara. Suku Banjar termasuk 10 suku-suku besar di Indonesia yang memiliki tradisi merantau (madam), di samping suku Bugis, Minang, Jawa, Madura, Sunda, Melayu Sumatra dan sebagainya. Kecenderungan merantau urang Banjar bukan fenomena baru, melainkan sejak berabad-abad silam, ada yang dilatarbelakangi alasan politik saat banua Banjar dijajah Belanda, ada juga alasan ekonomi untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Karena itu sebaran urang Banjar sangat meluas dan jumlahnya sangat besar. Tidak mustahil urang Banjar di luar Kalimantan Selatan sama besarnya bahkan lebih dibanding yang ada di banua.
Kedua, Banjar memiliki potensi yang patut dibanggakan dan dikembangkan, dari potensi keagamaan, intelektual hingga potensi ekonomi. Potensi keagamaan, Banjar lumbung ulama, ustadz dan guru agama. Tidak sedikit kalangan yang aktif dalam gerakan dakwah, pendidikan dan kehidupan keagamaan di luar Banjar umumnya urang Banjar. Hal ini tidak mengherankan, karena zuriyat Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari saja dalam 200 tahun terakhir melahirkan lebih dari 500-an ulama besar, belum lagi di luar trah al-Banjari. Pondok-pondok pesantren tua di Kalsel seperti Darussalam Martapura, Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai, Pemangkih dan sebagainya, sejak lama aktif mengekspor lulusannya sebagai dai dan guru agama ke luar daerah.
Potensi intelektual, banyak urang Banjar tergolong terpelajar, sekolah tinggi, menjadi tokoh, pejabat dll. Akademisi dan cendekiawan bergelar profesor dan doktor sudah “kada kahitungan”. Secara nasional cukup banyak orang atau perantau Banjar yang menjadi tokoh. Generasi terdahulu ada Pangeran Muhammad Noor, Idham Chalid, Hasan Basri, Saadillah Mursyid, Syamsul Muarif, dll, di era belakangan juga banyak. Wakil Ketua DPR-RI Mahyuddin, Fadjroel Rahman, Abdurrahman Fachir mantan Wamenlu, Prof Denny Indrayana pakar hukum dan mantan Wamenkum dan HAM, juga berdarah Banjar. Tentu masih banyak lagi kalau ingin kita sebut.
Menurut Taufik Arbain, kepintaran urang Banjar sebenarnya tidak kalah dengan orang bukan Banjar, hanya kadang ada yang enggan menonjolkan diri atau kurang percaya diri. Mungkin ada yang terpengaruh ajaran tasawuf kitab al-Hikam karangan Imam Athaillah al-Iskandari, idfan wujudaka fi ardhil khumul, tenggelamkan dirimu ke dalam perut bumi. Artinya menonjolkan diri bapiragah harat (pintar) jangan, tapi kalau orang bertanya sesuatu siap menjawab dengan benar.
Potensi ekonomi, Banjar memiliki berbagai produk barang (dan jasa) yang dapat dijual di luar daerah dan mancanegara. Hal ini didukung pula oleh kehidupan umumnya masyarakat Banjar sebagai petani, pengrajin dan pedagang. Jadi tinggal ditingkatkan produktivitas, kualitas, komoditas dan promosinya. Selama ini urang Banjar lebih banyak membeli produk luar daripada menjual produk sendiri. Padahal indikator daerah dan negara maju seperti Cina dan Jepang lebih banyak berproduksi dan menjual (produsen), bukan membeli (konsumen), kecuali bahan mentah. Yang tidak baik adalah menjual harta warisan.
Ketiga, orang Banjar masih kuat memelihara adat istiadat dan budayanya, termasuk bahasa. Meskipun mereka hidup dan tinggal di rantau orang, dan banyak yang tidak pernah sekalipun menginjak tanah leluhur, namun budayanya tetap terpelihara, tidak mudah tercerabut begitu saja. Komitmen kebanjaran yang masih tinggi ini dapat dijadikan modal memperkuat identitas kebanjaran, tanpa mengenyampingkan identitas nasional sebagai warganegara NKRI.
Digerakkan Sinergis
Potensi di atas tinggal dikembangkan dan digerakkan, sambil diatasi beberapa kelemahannya. Kelemahan tersebut, kalau selama ini urang Banjar lebih sebagai individual competitor, maka sudah waktunya bergerak secara kolektif-sinergis. KBB Sedunia seperti dinyatakan Paman Birin dapat dijadikan rumah besar untuk mendiskusikan, merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi apa-apa yang belum dan sudah dilakukan guna kemajuan Banjar.
Kalau selama ini di antara tokoh Banjar masih ada yang suka bacakut papadaan, berpecah-belah, bersaing atau maraju untuk hal-hal yang tidak perlu, sehingga banyak menguras energi individu dan organisasi, sudah waktunya hal-hal begitu dihilangkan dan dikesampingkan, diganti kerjasama dan kekompakan. Di mana pun posisi kita, yang penting berbuat sesuatu untuk organisasi dan banua. KH Zainuddin MZ alm mengibaratkan kerjasama seperti tim sepakbola; penyerang, gelandang, kiper dan sebagainya sama pentingnya, semua harus saling over bola, tidak perlu mendominasi. Hanya dengan kerjasama yang solid dan terpadu bola dapat dimasukkan ke mulut gawang. Kalau kerjasama dan koordinasi kurang tidak mustahil terjadi goal bunuh diri. Daerah-daerah lain yang tergolong maju, tampaknya didukung sinergitas, saling mendukung siapapun yang mau maju, tanpa perlu lagi manjuhut batis kawan yang mau dan mampu maju.
Meskipun saat ini kualitas SDM Banjar sudah lumayan, bahkan perguruan tinggi umum dan agama negeri terbaik se-Kalimantan ada di Banjarmasin dan (Banjarbaru), peningkatan SDM tetap harus terus diprioritaskan. Pendidikan menjadi faktor kunci kemajuan dan memenangkan persaingan. Tidak hanya sampai di situ, urang Banjar yang menduduki posisi-posisi penting juga harus vokal dan berani menuntut hak-hak daerah, tidak menunggu diberi. Keberanian pejabat dan wakil-wakil urang Banjar untuk memperjuangkan nasib banua perlu dioptimalkan. Semangat perjuangan leluhur “dalas hangit, haram manyarah, waja sampai ka putting”, perlu dilestarikan.












