Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
BanjarmasinTRI BANJAR

Dari Diskusi Kontraversi Masih Adakah Kedaulatan dan Marwah Urang Banjar?

×

Dari Diskusi Kontraversi Masih Adakah Kedaulatan dan Marwah Urang Banjar?

Sebarkan artikel ini
Hal 9 3 Klm Diskusi
DISKUSI- Inilah para peserta Diskusi Konrversi tentang masih adakah kedaulatan dan Marwah Urang Banjar. (KP/Istimewa)

Kegiatan diskusi ini terinspirasi pada peristiwa satu april, bagi orang Inggris cukup penting, karena pada hari itu orang boleh mendustai orang lain, tanpa di anggap bersalah

BANJARMASIN, KP – Gagasan One legacy- Satu Dayak-Banjar berupa Forum Diskusi Kontroversi, bukanlah forum yang primordial suku sentris, justru sebaliknya, William G. Sumner menyebutkan seharusnya kelompok masyarakat yang merasa memiliki persamaan dapat membentuk persaudaraan, menguatkan solidaritas kesetiaan, namun tanpa berlebihan dan memaksakan kehendak pada kelompok lain.

Kalimantan Post

Hal itu disampaikan Sri Naida warga dayak sekaligus aktifis perempuan pada acara Diskusi yang mengangkat Thema Orang Banjar Kamirawaan, masih adakah marwah urang Banjar, di Batang Nasaruni, Jalan Veteran Banjarmasin, Sabtu (01/04/2023).

Pada Forum Diskusi Kontraversi melalui gagasan, menghadirkan tiga nara sumber yang berasal asli Urang Dayak- Banjar. Pada bagian sejarah, seperti yang di sampaikan Hariyadi, Dosen sejarah Universitas Lambung Mangkurat, menyebutkan dulu bila pelajaran sejarah, maka yang dipegang lebih dulu adalah Atlas Pulau Kalimantan, sehingga jelas tanah yang dikisahkan itu nyata dan ada.

Jadi, kegiatan diskusi ini terinspirasi pada peristiwa satu april, bagi orang Inggris cukup penting, karena pada hari itu orang boleh mendustai orang lain, tanpa di anggap bersalah.

Sebutannya April Fools’ Day atau lebih dikenal April mop, bertujuan untuk mempermalukan orang-orang yang mudah ditipu. April mop kali ini sengaja mendiskusikan bertema Urang Banjar kamirawaan: masih adakah kedaulatan dan marwahurang Banjar?

Keterbukaan informasi dan semua fakta mudah didapat dan diakses melalui ujung telunjuk jari pada berbagai teknologi gadget, menjadi kan berita-berita tentang marwah Urang Banjar mudah sekali jatuh dan susah bangun, atau tajul apak.

Setiap hari berita alam yang rusak, penghilangan nyawa atau kasus hukum pada warga karena sengketa tanah dilahan tambang atau kebun sawit, bencana alam yang bertubi-tubi, kalau tidak kebakaran lahan, banjir, lahan kering kritis hingga puting beliung, semua seakan terjadi berulang-ulang tanpa ada perbaikan yang manifes dan terarah.

Apalagi masalah sosial, budaya, politik dan ekonomi makin marak dan menjerumuskan, Urang Banjar seakan tak peduli. Seakan merasa kalah dan terintimidasi lalu apatis kada mautahu lagi tentang dirinya atau alam sekitarnya, termasuk sosialdanpolitik yang berubahsangatcepat dan dratis.Apalagidibumbuiperibahasamunkadajadibaraskadausahumpatbapander, semua seakan di ukurdenganpandapatanbukanpendapatsolusimasalah.

Baca Juga :  Wali Kota Yamin Tunjuk Dolly Sahbana sebagai Plt Sekda Banjarmasin

Pada atlas akan tampak garis sungai sebagai urang batang banyu, lokasi perkampungan, candi-candi dan peninggalan benda sejarah. Urang Banjar tidakakan jauh dari budaya bahari atau maritim. Namun hari ini, belajar sejarah seakan jauh sekali, dan tak melihat langsung bukti atau situs-situs lagi. Padahal belajar sejarah perlu dimaknai sebagai pondasi dalam bertindak, sebab mengajarkan berbagai hal untuk masa depan.

Gusti Nur Aina, seorang keturunan dari PangeranSuriansyah dan pengurus dari DPW LaskarAntasari, yang berpusat di Kalimantan Timur, menyebutkan bahwa seluruh keluarga memberi mandat agar turut aktif dalammenjag aadat dan barang bersejarah yang dimiliki keluarga.

Dia sepakat bahwa marwah Kasultanan menurun, sebab selama ini pesan dari datu dan kakek-nenek untuk lebih banyak diam. Baru-baru inisaja mulai membuka diri dan menghubungi keluarga-keluarga, untuk belajar kembali tentang keturunan keluarga dan perannya untuk urang Banjar di Banua.

“Kemunculan ini berupaya mengangkat lagimarwah dan kedaulatan turunan Kasultanan. Kita yang asli tutus Pangeran Suriansyah, selama ini diam saja, sebab begitulah yang diminta para tetuha. Akan tetapi keadaan serasa semakin menjauh,’’ucap GustiAina yang masih sebagai pegawai ASN di Pemprov Kalsel ini.

Diakui , dulu dilibatkan dalam gagasan penyertaan gambar Pangeran Antasari untuk nominal uang Rp 2.000 (dua ribu rupiah) sekitar tahun 2016. Setelah itu kita hanya aktif sebagai bagian keluarga,”katanya.

Sedangkan Setia Budhi, Dosen FISIP Universitas Lambung Mangkurat dan pengampubu daya Dayak Bakumpai, menyebutkan bahwa dalam diam dan pembiaranarus masa sejarah diatas justru membuat kitaUrang Dayak-Banjar, makin di jajakurang.

Dalam sejarah menunjukkan Pangeran Suriansyah merasa sendirian pada saat di serang habis-habisan Belanda, sehingga akhirnya Kasultanan Banjar diluluhlantakkan. Marwah yang dijajakurang, apalagi dengan ketidak sanggupan membangun jejaring sebagai Dayak-Banjar yang akhirnya kehilangan jati diri.

Tak ada lagi saling menguatkan. Apalagi adanya kompetisi global oleh Samuel P.Huntington.Urang Banjar dalam beberapa dekade ini sudah kalah dalam kompetisi global di tanah Banua sendiri. Para pemimpin Lembaga atau kantor bahkan jabatan sentral seperti Kepala daerah secara politis sudah diborong bukanlagi Urang Banjar apalagi Urang Dayak.

Baca Juga :  Ketua TP PKK Turun Langsung, Dorong Perubahan Nyata Pengelolaan Sampah di TPS3

Sebutan bukan lagiurang kita, meski terdengar sumbang tapi jadi panderan yang menyakitkan untuk sekedar diberitakan. Sebagai akses global, kalau kompetisinya adil dan sesuaiprosedur, maka tidak akan jadi masalah. Semua akan paham dan merestui, tapi apabilahanya hasil lobby dan persekong kolan serta oligarkhi, makai nilah titik balikitu, tidaka dalagi marwah dan kedaulatan sebagaiUrang Banjar kada lagi bamuha.

Sedangkan Khairidi Asa optimis, sebagai jurnalis dan penulis lagimenyebutkan marwah Urang Banjar dalam seni dan budaya masih diakui, sebab pelaku seni dan sastra masih aktif dan terus menyuarakan semangat dan gerakan menjaga marwah tersebut.

Pemerintah Daerah juga mendorong aktif berbagai kompetisi dan senibudaya terus diaktifkan. Terbukti lagu, tari, sastra dan buku-buku terus saja di terbitkan dan memiliki audiens dan tersebar keseluruh urang Banjar se Indonesia.

Namunsisilain, ada pesisisme yang disampaikan Sukhrowardi bahwa ngalih banar mancari kawan sagarakan, kita selalu sendiri dalam bergerak. Ini yang terjadi apalagi sebagai pelaku di parlemen, menegakkan benang basah sangat sulit pada rimbarayalegislatif. Gagasan sebaik apapun akan gagal secara politis, bila tak ada aras kekuatan untuk membangunnya. Oleh karenanya forum ini harus menghasilkan satu warisan urang Dayak-Banjar dan mampu memberi kansolusi.

Kembali pada gagasana walbila Urang Banjar, sudah meninggalkan budaya maritim atau budaya urang batang banyu, apakah masih bisa di sebut Urang Banjar? Tak lagi kuasa pada tanah banua yang jadi pijakan hidup bersama. Makajawabannya ibarat babaujariangau, artinya seperti anakmuda yang baru belajar pengetahuan, talambat sudah mangaji ilmu, maka Urang Banjar sebentar lagi akan punah secara peradaban, karena tak sanggup lagi menjaga akar sosial-budaya dan tak ada lagi daya paksa menjaga kekuatan kologial politik sebagai urang Banjar, apalagi kalau basis ekonomi sudah di rampa surang. Tepat sangkaan bahwa urang Banjar kami rawaan, sebab terlalu banyak “bersuka ria” atau terlalu tajulapak, sehingga membiarkan semua miliknya dirampas, apalagi bila taksanggup lagi bangkit maka akan katulahan. (nau/K-3)

Iklan
Iklan