Usai Magrib berjamaan Istighotsah yang juga diawali membaca tahlil kepada para korban yang dilanjutkan sebelumnya juga khawatman bersama dan membaca maulid Simtudduror
BANJARMASIN, KP – Istighotsah Banua yang menghadirkan ulama KH Johansyah dari PCNU Banjarmasin dan Habib Faturrahman dari Majelis Shalawat Cinta Al Mahabbah serta yang diikuti aktivitas pemuda mahasiswa, ormas perempuan, dan para anggota parpol tersebur cukup inspiratif serta meninggalkan kesan mendalam.
Kegiatan Istighotsah Banua dan haul akbar Jumat Kelabu yang dimulai usai sholat Ashar di inisiasi Komunitas Rune, bertepatan peringatan Tragedi 23 Mei 1997 dilakukan dengan Istighotsah Banua, di lantai 4 Mitra Plaza Kota Banjarmasin.
Lokasi yang menjadi banyak ditemukan korban jiwa ini, tokoh alim ulama, mahasiswa bersama warga pun mendoakan para korban dan banua, agar kejadian serupa tidak terulang. Diawali khataman Al Quran, dan lantunan Sholawat yang dipimpin Habib Faturrahman dari Majelis Shalawat Cinta Al Mahabbah menambah suasana makin syahdu.
Bahkan usai Magrib berjamaan Istighotsah yang juga di membaca tahlil kepada para korban yang dilanjutkan membaca maulid Simtudduror. Istighotsah ini juga memberikan kesempatan kepada salah satu korban kerusuhan 23 mei untuk menceritakan kembali perjalanan hidup dan tetap bertahan hingga sekarang.
Ketua Komunitas RUNE, Sukrowardhi mengatakan istighotsah ini sebagai upaya mendoakan korban 23 mei 1997 atau kejadian 26 tahun lalu, dengan semangat untuk selalu menjaga kedamaian, tidak hanya di Kota Banjarmasin, namun juga Kalimantan Selatan.
Semangat kita adalah agar kejadian yang pernah mencekam dan membuat trauma pada yang mengalaminya, secara perlahan dapat menjadi kedamaian dalam dirinya. “Kita tidak ingin menjadi korban lagi atas kasus yang sama, yang mungkin saja terulang dan menimpa kita,’’ tutur Sukrowardhi.
Karena itulah, pada momen Jumat Kelabu ratusan yang diinisiasi RUNe, duduk tafakur dan kirimkan doa kepada korban kata Sukrowardhi.
Terlebih lagi, saat ini memasuki tahun politik dengan adanya pemilu 2024 mendatang, yang kejadian kelam ini tidak kembali terulang.
Sukrowardhi mengatakan terlepas siapa yang salah atau siapa yang benar, ayo untuk menunjukkan bahwa kita mampu menjaga perdamaian dan kedamaian di banua.Keamanan sudah menjadi milik bersama dan bukan tugas aparat keamanan saja.
Ia juga mengantisipasi kemungkinan terjadi dan tidak boleh ada pembiaran luka akibat tragedi 23 Mei 1997 tidak pernah sembuh tutup Sukrowardhi. “Investasi politik dan demokrasi di Banjarmasin menjadi sangat mahal akibat tragedi ini, saya berharap Jumat Kelabu yang lalu akan menjadi Jumat Berkah dimasa akan datang” harap Sukhrowardi.
Acara Istighotsah Banua ini ditutup dengan Deklarasi Bersama para kepala daerah, tokoh politik, tokoh agama, tokoh masyarakat, mahasiswa hingga alim ulama untuk menjaga kedamaian di Banua dan Indonesia.
Walikota Banjarmasin yang diwakili Dr. Lukman Fadlun, Staf ahli Politik Hukum dan Pemerintahan menyambut baik kegiatan Istighosah Banua. “ini adalah suatu aksi melawan lupa yang sangat inspiratif dan berharap tahun depan dapat digelar dalam skala besar agar kenangan tragedi Jumat Kelabu membuat kita paham pentingnya perdamaian, ujarnya.
Selain kegiatan doa, zikir dan maulid, Istighosah Banua juga menyerukan Deklarasi Perdamaian “Damai Banua untuk Indonesia” untuk menyambut pesta demokrasi 2024 mendatang. (mar/K-3)















